
Oleh: Najah Ummu Salamah (Komunitas Penulis Peduli Umat)
Linimasanews.id—Kiblat pertama umat Islam kondisinya makin mengkhawatirkan. Tindakan pelanggaran dilakukan Israel. Ia melakukan upaya menghancurkan bukti-bukti kepemilikan sah umat Islam atas Masjidil Aqsa.
Kegubernuran Yerusalem memperingatkan Israel agar menghentikan penggalian terowongan di bawah Masjidil Aqsa. Otoritas menyampaikan bahwa penggalian tersebut berakibat sangat fatal, yaitu hancurnya beberapa artefak penting peninggalan masa Kekhilafahan Umayyah, hancurnya landmark Palestina, rumah-rumah bersejarah dan sekolah kuno. Jika pihak Israel tidak menghentikan aktivitas penggalian tersebut, pihak otoritas menghawatirkan bangunan Masjidil Aqsa akan runtuh (CNNIndonesia.com, 28/10/2025).
Sejak kependudukan Zionis Israel 1967, Israel telah menggali sekitar 100 lebih terowongan. Meskipun mereka berdalih untuk kepentingan saluran air, namun faktanya penggalian tersebut sudah mencapai fondasi utama Masjidil Aqsa. UNESCO pun sudah memperingatkan Israel agar menghentikan penggalian di bawah situs warisan dunia tersebut, namun Israel tetap tidak peduli.
Status Quo Yahudi
Berdasarkan keyakinan internal agama Yahudi, sejak berabad-abad umat Yahudi dilarang beribadah di dalam Masjidil Aqsa. Mereka hanya bisa memanjatkan do’a di tembok ratapan (tembok sisi Barat Kompleks Masjidil Aqsa).
Selain itu, secara sejarah ada dua alasan umat Yahudi tidak beribadah di dalam Masjidil Aqsa. Pertama, Kekhilafahan Utsmaniyah yang berkuasa sejak tahun 1517 terus berupaya untuk mencegah bentrokan di situs, baik itu antara Yahudi dan Muslim, juga berbagai kelompok Kristen yang mengklaim tempat-tempat suci di Yerusalem.
Sebagai solusinya, pada tahun 1757 Sultan Oman III mengeluarkan dekrit yang berisi Status Quo. Status quo ini menjelaskan bahwa orang kafir hanya boleh berkunjung dan dilarang beribadah di Masjidil Aqsa, sementara orang Yahudi berhak menggunakan Tembok Barat untuk berdoa.
Kedua, keyakinan bahwa orang Yahudi dianggap ‘tidak suci’ untuk masuk ke area al-Aqsa dan memasukinya dianggap sebagai penistaan serta dosa, kecuali jika telah melakukan ritual khusus. Hal ini berdasarkan Dekrit Kepala Rabbi Yerusalem sejak tahun 1921.
Namun, beberapa waktu terakhir muncul berbagai upaya agar umat Yahudi bisa beribadah di Masjidil Aqsa. Orang Yahudi religius melihat upaya penaklukan Temple Mount juga sebagai simbol besar, yaitu tanda akhir zaman seperti dinubuatkan dalam kitab suci mereka. Sebagian kelompok agama Yahudi juga meyakini keharusan untuk membangun kembali Kuil Ketiga di situs tersebut, sebagai tanda turunnya Mesias dan Hari Penghakiman, yaitu kuil Sulaiman.
Lalu, pada 7 Oktober 2023 silam, umat Yahudi bersiap malakukan ritual menyembelih sapi merah sebagai ritual yang mereka yakini untuk penyucian diri dan setelahnya mereka bisa masuk lalu menghancurkan Masjidil Aqsa serta membangun di atas puing reruntuhannya Kuil Sulaiman. Akan tetapi, upaya tersebut gagal karena umat Islam mengetahui rencana mereka dan meletuslah peristiwa Taufan al-Aqsa.
Oleh karenanya, kaum Yahudi akan terus melakukan penggalian di bawah kompleks Masjidil Aqsa dengan berbagai alasan, semata untuk merobohkannya dan mengklaim kepemilikan Masjidil Aqsa secara sepihak (CNBC Indonesia, 8/4/2023).
Saatnya Umat Islam Bersatu
Masjidil Aqsa dan bumi Syams harus terjaga sampai kapan pun karena kemuliaannya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., ‘”Tidak boleh menggemarkan perjalanan, kecuali ke tiga masjid, yaitu masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidilharam, Masjidilaqsa.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).
Keistimewaan lainnya dari Masjidil Aqsa antara lain, pahala satu kali salat di Masjidil Aqsa setara dengan 500 kali salat di masjid yang lain.
Karena itu, umat Islam tidak boleh diam atas upaya penghancuran Masjidil Aqsa dan Palestina yang penuh berkah. Umat Islam tidak boleh sepakat dengan solusi dua negara yang ditawarkan oleh orang-orang kafir. Karena, Palestina, Masjidil Aqsa dan bumi Syam adalah tanah Kharajiyah milik umat Islam.
Sudah saatnya umat Islam bangkit, bersatu membebaskan Masjidil Aqsa. Umat Islam harus segera meninggalkan sekat penghalang semu atas nama nasionalisme. Para penguasa negeri-negeri Muslim harus segera mengirimkan tentara muslim untuk berjihad membebaskan Masjidil Aqsa dari penjajah zionis Israel. Karena, hakikat ukhuwah Islamiyah adalah persatuan umat Islam sedunia.
Umat Islam ibarat satu tubuh, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685)
Masjidil Aqsa dan Palestina menunggu persatuan kaum muslim untuk membebaskannya dengan ruh jihad fii sabilillah dalam satu komando khalifah.


