
Oleh: Neti Ernawati (Aktivis Muslimah)
Linimasanews.id—Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional yang digelar di lapangan Balai Kota, Jakarta, Senin (10/11/2025). Dalam pidatonya, Pramono menyebut para pahlawan telah membuktikan bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Pahlawan berjuang bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi masa depan bangsa yang bahkan belum mereka kenal, dengan kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan mereka. Pramono juga menyebut perjuangan saat ini bukan lagi mengangkat bambu runcing. Melainkan, membela yang lemah dan memperjuangkan keadilan (detik.com, 10/11/25).
Dalam pidato tersebut, secara eksplisit Pramono menyebut adanya ketidak adilan yang terjadi di negeri ini, sehingga perlu usaha memperjuangkan keadilan. Selain itu, disebutkan pula perlunya membela yang lemah, yang pastinya merujuk pada adanya ketimpangan antara yang lemah dengan yang kuat. Sejatinya hal-hal tersebut menjadi bukti adanya sengketa dan perpecahan di tubuh bangsa yang pernah bersatu bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan.
Kemerdekaan Diraih Dengan Menyatukan Visi Pejuang
Resolusi Jihad dari Nahdlatul Ulama (NU) yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945 berisikan pernyataan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah wajib bagi setiap muslim. Resolusi inilah yang kemudian mampu mengobarkan semangat perlawanan santri, prajurit maupun warga sipil pada pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sayangnya, Hari Pahlawan hanya membekas sebagai momentum perayaan. Penyematan tanda jasa kepada pahlawan nasional yang dinobatkan di Istana negara, turut ambil bagian sebagai seremonial tahunan. Ketika anak-anak sekolah berlomba mengenakan atribut pahlawan, bercosplay sebagai tokoh-tokoh perjuangan, yang diusung hanyalah zohirnya saja. Sedangkan ruh perjuangan belum mampu tertanamkan seutuhnya.
Pengajaran ini sudah seharusnya didobrak. Sejarah yang simpang-siur, ketidakterbukaan membuat berbagai sumber berusaha membenarkan sejarah dari pihak-pihak mereka sendiri. Generasi pun bingung dibuatnya. Antara pergolakan layak atau tidaknya seorang mantan presiden diberi gelar pahlawan, diantara kubangan kasus korupsinya.
Kapitalisme Munculkan Perpecahan
Tidak dimungkiri, di balik kata persatuan dan kesatuan yang sering disuarakan, perpecahan telah terjadi di negeri ini. Perpaduan antara kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan dalam diri masyarakat sudah tidak tampak. Tergeser dengan ambisi ingin menjadi lebih dari orang lain. Bahkan muncul keinginan untuk lebih berkuasa dari yang lain.
Kebatilan seperti ketidakadilan dan penindasan pun muncul dimana-mana, dari tingkat bawah hingga tingkat atas. Sebagaimana jiwa para pemimpin negeri yang tak pernah benar-benar bersih karena sandaran hukum yang digunakan adalah sistem batil. Sebersih apa pun orangnya, ketika sistem batil yang digunakan, maka akan menghasilkan kebatilan juga.
Inilah dampak dari sistem batil demokrasi kapitalisme. Leluhur negeri yang dahulu bersatu berjuang bersama mendapatkan kemerdekaan, kini anak cucunya berebut harta dan kedudukan. Demokrasi menguatkan urat, mengiris nadi. Di luar dia tampak kokoh berdiri, semangat persatuan, dengan slogan dari rakyat oleh rakyat, menjunjung hak asasi, berkeadilan sosial. Namun di dalam, dia membunuh semangat persaudaraan. Demokrasi telah menimbulkan ketimpangan-ketimpangan yang merajalela karena standar keadilan yang dipakai adalah standar pemikiran manusia yang terbatas, yang diliputi hawa nafsu dan keserakahan.
Spirit Islam Semangat Perjuangan yang Hakiki
Hukum yang seharusnya ditegakkan adalah hukum dari Allah Yang Maha Adil, Allah yang memberikan tatanan hukum yang sempurna. Hukum syarak mampu menyelesaikan semua permasalahan kehidupan dan terbukti telah mampu mengantarkan kejayaan bertahun-tahun bahkan ratusan tahun pada masa peradaban Islam.
Dalam surah Al-Insyirah ayat 7 yang artinya, “Apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”
Dari ayat ini dijelaskan bahwasanya jika telah selesai suatu urusan maka dilanjutkan untuk mengurus urusan yang lain. Sebagaimana perjuangan meraih kemerdekaan yang telah tercapai maka harus dilanjutkan untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Sedang pada surat Al-Insyirah ayat 8, “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwasanya semua harus disadarkan kepada Allah semata. Apabila merujuk pada kedua ayat tersebut, maka kemerdekaan harus diisi dengan semangat dan kerja keras yang sama dengan saat memperjuangkan kemerdekaan, dan perbaikan kehidupan pasca kemerdekaan harus tetap mengacu pada penghambaan dan pengharapan pada Allah semata.
Bukankah sudah menjadi bukti nyata bahwasanya perjuangan rakyat Indonesia ini bergantung kepada rahmat Allah? Sebagaimana sejarah menorehkan kisah-kisah ulama, santri, dan prajurit yang berjuang dengan semangat jihad dan pekikan “Allahu Akbar.”
Begitu dahsyatnya spirit Islam dalam perjuangan kemerdekaan sampai-sampai pujian bagi Allah ditorehkan pada alinea ke tiga pembukaan Undang-undang 1945. Sayangnya, spirit itu memudar. Makin modern, hakikat untuk mau menyematkan pujian kepada Allah makin sirna. Bahkan ada yang mengungkapkan, untuk jangan terlalu membawa agama. Ketahuilah bahwa hanya spirit jihad yang mampu membuat seseorang berjuang rela mati demi kehidupan anak cucunya, saudaranya, kerabatnya demi kehidupan yang baik.
Jenderal Soedirman dalam pidatonya di Kepanduan Muhammadiyah menyampaikan adanya dua pilihan penting dalam kehidupan yaitu iskhariman (hidup yang mulia) dan yang kedua adalah musyahidan (mati syahid). Pidato ini menyiratkan dua pilihan perjuangan, mati syahid dan hidup mulia. Dalam era kemerdekaan ini, dimana sudah tidak ada lagi peperangan di dalam negeri, maka sudah sewajarnya kehidupan diisi dengan iskhariman (hidup yang mulia). Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, yaitu hidup sesuai tuntunan Al Qur’an secara menyeluruh.
Semangat perjuangan pahlawan tidak boleh pudar. Semangat menegakkan yang hak, melawan yang batil bukan lagi untuk melawan penjajah, tetapi melawan hawa nafsu dan pengaruh pemahaman sekuler kapitalis yang sangat bertentangan dengan nilai Islam. Kemurnian akidah Islam dalam jiwa rakyat inilah yang akan mampu menjadi sumber perbaikan kehidupan negeri yang makin tercabik. Wallahualam bisawab.


