
Oleh: Elfia Prihastuti, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Linimasanews.id—Hari ini, Sudan kembali bergolak, bukan semata perang saudara. Lebih dari itu, sebuah pintu gerbang pengelolaan konflik tengah dibangun demi memuluskan operasi penjajahan. Posisi strategis Sudan dan SDA melimpah, setidaknya menjadi alasan sang adidaya menyulut konflik di negeri Islam ini. Keserakahan telah memotivasi untuk menanamkan hegemoni di setiap negeri muslim. Merampas kekayaan dengan cara yang elegan dan meredam kebangkitan menjadi metode sejati kapitalisme global.
Laporan International Organization for
Migration (IOM) mencatat, sebanyak 62.273 orang mengungsi dari El- Fasher, ibukota negara bagian Darfur Utara, Sudan. Hal itu disebabkan oleh pendudukan Pasukan Dukungan Cepat, Rapid Support Forces (RSF) di wilayah tersebut. Para pengungsi juga dihadapkan dengan berbagai kesulitan saat melewati rute pengungsian. Mereka mengalami kekurangan pangan, air bersih dan tempat berteduh yang layak. Terutama di salah satu rute menuju El‑Obeid (Minanews.net, 02/11/2025).
Melalui juru bicara gedung putih, Karoline Leavitt, Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya untuk mengakhiri konflik berdarah di Sudan. Leavitt menyatakan bahwa Washington akan berperan aktit menjalin kerja sama dengan negara lain dalam rangka menemukan solusi atas konflik mengerikan di Sudan (Gazamedia.net, 05/11/2025).
Geopolitik Menggiurkan
Sudan merupakan salah satu negara yang berada di benua Afrika. Sebelum Sudan selatan memisahkan diri pada tahun 2011, Sudan merupakan negara terbesar di benua Afrika dan terbesar ke sepuluh di dunia. Kini negara muslim tersebut telah menjadi negara terbesar ketiga di Afrika dan kelima belas di dunia.
Sudan memiliki kekayaan yang luar biasa. Negara ini merupakan produsen emas terbesar Arab. Aktivitas penambangan terfokus di Sungai Nil, negara bagian Utara dan Laut Merah. Dalam setiap tahunnya Sudan mampu menghasilkan sebanyak 80 ton emas. Sementara cadangan emas yang dimiliki Sudan mencapai 1550 ton. Selain itu, negara ini juga memiliki cadangan minyak lebih dari 3 miliar barel. Kaya akan cadangan uranium yang terletak di pegunungan Nuba, juga terdapat produksi getah Arab (gum arabic) yang bermanfaat bagi industri makanan dan kimia.
Postur geografis Sudan yang terletak di timur laut benua Afrika yang menjadi jantung strategis Afrika dan Timur Tengah. Kondisi ini menjadikan Sudan menjadi penghubung utama antara Afrika Utara, wilayah Sahel dan Afrika Sub-Sahara. Di samping itu Sudan juga terletak pada fitur strategis yaitu Laut Merah dan Sungai Nil. Dalam dunia perdagangan, transportasi, dan sumber daya nilai strategis yang dimiliki Sudan sangat tinggi.
Perdamaian Hanya Kedok
Sulit dipercaya bahwa platform perdamaian yang diusung Amerika untuk menyelesaikan masalah di Sudan merupakan sebuah niat tulus. Secara historis negara adidaya itu telah lama mengincar negeri Islam yang berlimpah kekayaan itu. Konflik mengerikan yang terjadi di Sudan memang sengaja ditampilkan untuk membangun pintu gerbang masuknya hegemoni negara adidaya tersebut.
Niat tulus juga terbantahkan, jika melihat bahwa penjajahan merupakan metode (thariqah) yang digunakan dalam sistem kapitalis.
Perdamaian yang dibawa AS, ujung-ujungnya akan berakhir pada pembiaran Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menguasai El Fasher dan membiarkan Darfur jatuh ke tangan mereka, lalu memisahkannya dari Sudan atas nama proses politik. Demikian AS, telah mengelola konflik Sudan untuk membangun pintu gerbang untuk memuluskan tujuan.
Konflik yang terjadi di Sudan dulunya merupakan rekayasa Inggris ketika masih menyandang sebagai negara pertama di dunia. “Devide et impera” adalah taktik Inggris baik secara etnis maupun agama. Hasilnya, negara itu terbagi menjadi dua yakni Sudan Utara dan Selatan. Namun kehadiran AS dalam kancah Internasional melalui PBB mendesak negara-negara besar agar memerdekakan negara-negara jajahannya. Pada akhirnya pengaruh Inggris melemah di Sudan. Meskipun pengaruhnya tak sepenuhnya menghilang.
Hemedti, Salah satu pihak yang sekarang ini bertikai merupakan agen AS. Lawannya Abdel Fatah Al-Burhan, ternyata juga antek As pada kubu yang lain. Kenyataan ini menjelaskan konflik yang bergejolak di Sudan bisa dipastikan merupakan ulah negara adidaya itu sendiri.
Keserakahan untuk menguasai sudan tanpa berbagi membuat AS turun langsung ke medan konflik. Dukungan terhadap RSF bertujuan untuk dijadikan anjing penjaga bagi kelompok-kelompok yang berupaya menghalangi AS mendominasi Sudan. Termasuk membersikan pengaruh Inggris di negara itu secara politik maupun militer.
Sudan akan terus dikerat-kerat sampai Amerika benar-benar mendominasinya tanpa tandingan. Tujuannya sebenarnya adalah Darfur yang secara geostrategis adalah jalur yang menghubungkan sudan dengan chat, libya dan Republik Afrika Tengah. Terlebih Darfur merupakan daerah yang mempunyai kekayaan melimpah.
Terpenting dari semua itu adalah meredam kebangkitan Islam di Sudan. Jika hal penting ini tidak dilakukan, jelas akan membahayakan dirinya. AS akan terus mengelola konflik dengan memainkan isu terorisme dan radikalisme. Terus memecah belah agar kaum muslimin di Sudan menjadi lemah kekuatanya.
Pelajaran Penting
Dari Sudan seharusnya ada pelajaran berharga bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Bahwa sistem yang dilatarbelakangi oleh dorongan keserakahan, akan menciptakan malapetaka besar. Satu dominasi ke dominasi lain akan terus dilakukan. Allah pun sebenarnya telah mengingatkan lewat sabda nabi saw.,
“Bangsa-bangsa di dunia akan memperebutkan kalian (umat Islam), seperti memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami (umat muslim) pada waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau ﷺ menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, tapi seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut para musuh kepada kalian dan menanamkan al-wahn ke dalam hati kalian.” Seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” Beliau ﷺ menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” ( HR. Abu Dawud)
Siapa yang mampu menyelesaikan permasalahan kaum muslim saat ini? Semuanya berpulang pada kesadaran kaum muslim sendiri yang sudah berbekal strategi yang telah diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Sudah saatnya membangun kekuatan besar untuk menandingi kekuatan AS yang senyatanya telah rapuh.
Membangun junnah harus menjadi kesadaran di hati umat agar kejadian menyakitkan di Sudan dan tempat kainnya tidak terus terjadi. Hilangnya Khilafah sebagai junnah yang menjaga umat menjadikan rangkaian penderitaan tiada henti. Padahal,
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Wallahualam bissawab.


