
Oleh: Astriani Nur Fatikasari
Linimasanews.id—Turki mengumumkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beserta sejumlah pejabat tinggi Israel. Langkah tersebut disampaikan setelah laporan kejahatan perang yang dilakukan rezim Zionis di Gaza semakin sulit dibantah (tvonenews.com, 6/11/2025). Namun di saat yang hampir bersamaan, dunia kembali dihebohkan dengan kabar bahwa Kazakhstan resmi bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan yang menjadi simbol normalisasi hubungan dengan Israel (antaranews.com, 8/11/2025).
Ironisnya, ketika darah umat Islam di Gaza masih mengalir, satu per satu negeri muslim justru merapat ke penjajahnya. Normalisasi yang dikampanyekan oleh Amerika Serikat bukanlah upaya perdamaian, melainkan jebakan yang rapi untuk melegalkan penjajahan Zionis atas bumi Gaza dan seluruh Palestina. Melalui proyek Abraham Accords, AS berusaha memastikan bahwa entitas Zionis tetap eksis dan diakui secara politik oleh dunia Islam.
Setiap negara yang menandatangani kesepakatan tersebut seolah dijanjikan keuntungan diplomatik dan ekonomi. Padahal hakikatnya, mereka sedang menyerahkan kehormatan umat kepada musuh Allah dan Rasul-Nya.
Turki seolah menampakkan ketegasan dengan mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu. Namun, realitasnya tidak menggoyahkan sedikit pun kedudukan penjajah. Hubungan diplomatik Ankara–Tel Aviv tetap berjalan. Bahkan, perdagangan antar kedua negara terus meningkat. Ini menjadi bukti bahwa kecaman tanpa tindakan nyata hanyalah fatamorgana politik.
Penguasa negeri-negeri Muslim telah kehilangan arah, lebih takut pada tekanan Barat daripada takut kepada Allah Swt. Mereka menutup mata terhadap penderitaan saudara seimannya di Gaza, puas hanya dengan pernyataan di podium dan kecaman di media.
Selama negeri-negeri muslim masih terkungkung dalam sistem nasionalisme dan tunduk pada keputusan Barat, mereka tidak akan pernah mampu membebaskan Palestina. Nasionalisme telah memecah belah umat menjadi bangsa-bangsa lemah yang saling berlomba mencari pengakuan dunia, bukan ridha Allah ta’ala. Padahal, Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi persoalan Akidah, dimana tanah suci yang dicengkram oleh penjajah wajib untuk dibebaskan kembali.
Perjuangan Gaza tidak akan pernah berakhir dengan perundingan atau normalisasi. Jalan satu-satunya adalah dengan jihad di bawah naungan Khilafah. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw, imam (khalifah) adalah junnah (perisai) bagi umat, yang di baliknya umat berperang dan berlindung. Hanya dengan adanya Khilafah, seluruh potensi kaum muslim dapat bersatu dalam satu komando, mencabut penjajahan hingga ke akar-akarnya, dan mengembalikan kemuliaan Islam di bumi para nabi.
Umat Islam harus sadar bahwa proyek normalisasi hanyalah alat penjajah untuk menumpulkan kesadaran politik Islam dan menghapus semangat jihad dari dada kaum Muslimin. Maka, sudah saatnya umat melepaskan diri dari belenggu sistem kufur dan menyeru kepada perjuangan mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah melalui metode dakwah Rasulullah saw. dengan membangun kesadaran, mengorganisasi kekuatan, hingga menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Tidak ada kemenangan sejati tanpa Islam sebagai landasannya. Tidak ada kemerdekaan bagi Palestina tanpa kembalinya Khilafah yang memimpin jihad dan membebaskan Al-Quds. Karena hanya dengan itulah penjajahan akan dicabut selamanya, dan janji Allah tentang kemenangan bagi kaum Mukminin akan terwujud dengan nyata. Wallahualam.


