
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Peduli Umat)
Linimasanews.id—Beberapa minggu lalu, terjadi kebakaran di asrama putra Pesantren Babul Maghfirah Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, pada Jumat (31/10/2025). Berdasarkan hasil penyelidikan Polresta Banda Aceh, pelakunya adalah salah satu santri dari pesantren tersebut.
Aksi ini diduga bermotif balas dendam karena pelaku merasa kesal sering menjadi korban perundungan teman-teman satu asramanya. Pelaku mengalami tekanan mental dan melakukan aksi pembakaran gedung agar barang-barang milik temannya juga terbakar (Kumparan News, 7/11/2025).
Berselang sepekan, kasus ledakan bom terjadi di SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tercatat 96 korban mengalami luka-luka, 29 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Menurut keterangan sejumlah saksi, pelakunya adalah siswa kelas 12 yang sering menjadi korban perundungan. Akibatnya, siswa tersebut diduga mengalami tekanan sosial dan mental. Kemudian dia melakukan aksi bunuh diri di lingkungan sekolah, sekaligus aksi balas dendam atas perlakuan teman-temannya (CNN Indonesia.com, 8/11/2025).
Perundungan Makin Meresahkan
Aksi bullying atau perundungan akhir-akhir ini makin marak terjadi di berbagai daerah. Aksi perundungan juga sering kita jumpai di lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, tempat kerja dan sosial media. Perundungan adalah perilaku menindas atau menyakiti orang lain baik secara emosional, fisik maupun seksual. Selain dampak secara fisik, korban bullying juga sering kali akan mengalami berbagai masalah trauma psikologis, seperti luka batin, cemas, gelisah, sering mengalami mimpi buruk, sulit percaya dengan orang lain (trust issue), depresi, hingga menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Motif pelaku bullying juga beragam, beberapa di antaranya adalah, pernah menjadi korban bullying, mencontoh orang lain atau game online, ingin mendominasi dan populer, pola asuh keluarga yang salah, minim empati dari keluarga, kurang edukasi tentang sopan santun dan sebagainya (Alodokter.com, 28/7/2025).
Berbagai program stop bullying dan pendidikan karakter telah di sosialisasikan di dunia pendidikan. Namun, semuanya gagal. Di sisi lain, banyak konten sosial media menjadikan aksi perundungan sebagai bahan candaan. Selain itu, berbagai konten media sosial justru menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan aksi balas dendam.
Aksi perundungan tidak selamanya selesai dengan diamnya korban. Pada dua peristiwa yang terjadi di atas, aksi perundungan justru berbuntut panjang. Korban yang merasa tersakiti, mengalami tekanan mental dan sosial. Sehingga korban justru melakukan aksi kekerasan yang membahayakan nyawa dirinya dan orang lain.
Maraknya aksi perundungan menunjukkan hilangnya adab, rasa empati, sopan santun, dan fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter pribadi siswa. Maka, sudah saatnya kita menyadari bahwa rusaknya generasi hari ini tidak semata minimnya literasi atau pola asuh keluarga. Namun, ada hal mendasar yang menjadi penyebab utamanya, yaitu paradigma pendidikan yang berasas sekuler-kapitalis. Hal ini berpengaruh terhadap pola asuh keluarga dan kurikulum yang hanya fokus pada pencapaian materi, nilai akademik dan vokasi. Sedangkan nilai-nilai agama hanya sebatas formalitas belaka. Maka dari sinilah, lahir generasi yang jauh dari iman dan takwa. Pendidikan sekuler terbukti tidak mampu membentuk generasi berkepribadian Islam.
Sistem Pendidikan Islam Solusi Tuntas Atasi Bullying
Dalam pandangan Islam, paradigma pendidikan adalah akidah. Keluarga, masyarakat, maupun negara satu kesatuan yang utuh membentuk kepribadian Islam seorang anak. Proses pendidikan di dalam Islam dilakukan dengan cara intensif. Semua itu bertujuan untuk membangun pola pikir dan pola sikap Islam pada diri seseorang. Pengajaran tsaqofah Islam, sains dan teknologi penuh makna dan nilai ruhiyah.
Ilmu dan adab menjadi satu kesatuan dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga tidak ada kasus bullying di lembaga pendidikan. Mengingat Islam mengharamkan menakut-nakuti sesama muslim, mengejek, melecehkan, apalagi sampai menyakiti secara fisik tanpa alasan syar’i.
Negara Khilafah akan menindak tegas bagi pelaku bullying. Hal ini dilakukan supaya aksi bullying tidak menular dan menimbulkan korban yang sakit hati dan balas dendam. Berbagai edukasi akan dilakukan Khalifah untuk menjamin proses pendidikan berjalan lancar tanpa ada bullying. Khalifah akan menjamin biaya pendidikan dan semua sarana prasarana pendidikan. Sehingga tidak ada kesenjangan dan celah untuk kasus bullying. Wallahualam bisawab.


