
Oleh: Yulia
(Pegiat Pena Banua)
Linimasanews.id—Kondisi Gaza makin parah akibat cuaca buruk yang menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) melaporkan bahwa hujan yang mengguyur Jalur Gaza telah memperburuk situasi yang memang sudah mengkhawatirkan. UNRWA juga memperingatkan bahwa badai yang melanda wilayah tersebut dapat membawa konsekuensi bencana bagi para pengungsi.
UNRWA menegaskan perlunya tekanan internasional agar Zionis Israel membuka akses masuk bantuan ke Gaza. Hingga kini, akses tersebut belum sepenuhnya diberikan. Padahal, PBB memiliki persediaan perlindungan yang mendesak dibutuhkan untuk membantu warga melewati musim dingin. Namun, distribusi bantuan tetap terhambat karena jalur masuk yang dipersulit.
Sementara itu, sebagian besar pengungsi masih bergantung pada tenda-tenda usang untuk bertahan hidup. Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 93 persen tenda pengungsian sudah tidak layak huni, yakni sekitar 125.000 dari 135.000 tenda yang ada. Bagaimana warga Gaza dapat hidup dengan kondisi demikian? Meskipun gencatan senjata telah disepakati sejak 10 Oktober lalu, Israel secara tidak langsung membunuh warga Palestina dengan membiarkan mereka hidup dalam kondisi tidak layak serta membatasi distribusi bantuan.
Sejak Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 69.000 orang—mayoritas perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 170.000 lainnya (AA.com.tr, 24/11/2025). Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan statistik, tetapi mencerminkan kekejaman yang tidak pernah berhenti.
Berdasarkan laporan Otoritas Kesehatan Gaza, sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya terluka sejak gencatan senjata dimulai. Sejumlah keluarga melaporkan bahwa tembakan dan ledakan sporadis terus mengancam warga sipil. Gencatan senjata yang disebut-sebut sebagai upaya menghadirkan kedamaian ternyata tidak pernah terwujud. Zionis Israel berulang kali menunjukkan pengkhianatannya setiap kali kesepakatan dicapai.
Selain itu, upaya gencatan senjata ini justru menyimpan agenda yang lebih mengkhawatirkan, yaitu membagi Gaza menjadi beberapa wilayah. Garis Kuning kini membatasi akses ribuan warga yang ingin kembali ke rumah mereka di Gaza City bagian timur, Khan Younis, serta Kota Beit Hanoun dan Beit Lahia di utara. Warga menyebut puluhan orang yang mencoba melintasi garis tersebut ditembak pasukan Israel. Israel berdalih bahwa mereka menargetkan militan yang dianggap mengancam keamanan.
Analis Gaza, Akram Atallah, menyatakan bahwa garis ini mencerminkan upaya Israel merombak lanskap keamanan dan politik Gaza. “Zona ini dibuat untuk memberikan rasa aman bagi komunitas Israel di sekitarnya, namun juga berpotensi membatasi kontrol Palestina,” ujarnya (Antaranews.com, 24/11/2025). Ini menunjukkan bahwa gencatan senjata hanyalah tameng untuk meredam kemarahan dunia atas kejahatan Israel agar dunia kembali bungkam dan mudah dikendalikan.
Berdasarkan data dan fakta tersebut, kaum muslim semestinya mengambil langkah strategis untuk membebaskan Palestina—tanah suci umat Islam—dari cengkeraman penjajah Israel dan sekutunya. Namun kenyataannya, para pemimpin negeri-negeri muslim masih terjebak dalam pengaruh Barat sehingga hanya mengikuti solusi yang mereka tawarkan, tanpa mampu menghadirkan solusi yang benar-benar dari Islam. Akibatnya, penderitaan warga Palestina terus berlanjut.
Padahal sejarah telah mencatat bagaimana pembebasan Baitul Maqdis dilakukan oleh generasi Rasulullah hingga Salahuddin Al-Ayyubi. Kepemimpinan Islam kala itu menyatukan umat di bawah syariat Allah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Rasulullah memberikan sanksi tegas kepada kaum Yahudi yang berkhianat dengan mengusir mereka dari Madinah.
Demikian pula Salahuddin, yang membebaskan Baitul Maqdis bukan melalui diplomasi yang tunduk kepada tentara Salib, tetapi dengan menyatukan kaum muslim yang terpecah dan membangkitkan mereka dengan ilmu serta kesadaran jihad.
Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan kaum muslim hari ini adalah berdakwah untuk menyatukan umat dalam penerapan sistem kehidupan warisan Rasulullah yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang mampu membebaskan Baitul Maqdis secara utuh tanpa bayang-bayang ancaman Zionis.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 4–7, “Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (kemenangan bangsa Romawi atas Persia). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang akhirat adalah lalai.”
Kaum muslim harus yakin kepada janji Allah, sebagaimana keyakinan warga Gaza yang tetap teguh tanpa keraguan. Ketika mereka berkorban dengan darah dan nyawa, maka hari ini kita harus mengerahkan segenap upaya dan suara kita untuk mengembalikan kepemimpinan Islam di bumi Allah hingga Baitul Maqdis kembali terbebaskan. Wallahualam.


