
Oleh: Dedek Nurjannah
Linimasanews.id—Dunia mungkin merasa sudah cukup bersimpati, sudah cukup menyuarakan keprihatinan, sudah cukup menekan tombol gencatan senjata, lalu berpaling seolah semuanya telah selesai. Namun, Gaza tidak pernah selesai. Tidak hari ini, tidak di tengah musim dingin yang menghantam tenda-tenda robek yang bahkan tidak layak disebut tempat tinggal.
Derita Gaza tidak bisa ditutupi. Warga Gaza yang sebagian besar masih tinggal di tenda-tenda tipis, baru saja disapu badai musim dingin. Tenda mereka hancur, sobek, dan roboh. Pengungsi yang sudah kehilangan rumah kini kehilangan perlindungan terakhir mereka.
Lebih kejamnya lagi, meski gencatan senjata telah diumumkan, Zionis tetap memblokir masuknya tenda, rumah mobil, dan material perlindungan. Gencatan senjata tidak menghentikan penjajahan, melainkan hanya memberi wajah baru bagi penyiksaan.
Sejak Jumat pagi, Jalur Gaza berada di bawah sistem tekanan rendah yang disertai massa udara dingin dan hujan lebat, sehingga memperparah penderitaan 1,5 juta warga sipil yang mengungsi di wilayah tersebut. Sementara itu, Israel terus memblokir masuknya material perlindungan, seperti tenda dan rumah mobil, mengingkari kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 (Antara.com, 15/11/2025).
Lebih memilukan lagi, setidaknya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 terluka setelah gencatan senjata dimulai. Jika ini disebut “situasi membaik”, maka dunia telah benar-benar kehilangan keberpihakannya pada manusia.
Krisis Gaza hari ini membuktikan bahwa gencatan senjata bukan solusi. Ia tidak menyentuh akar masalah, tidak meruntuhkan penjajahan. Ia hanya jeda bagi penjajah untuk mengatur napas. Sementara, rakyat Gaza terus dihantam penderitaan.
Narasi dunia bahwa “Gaza baik-baik saja” hanyalah gema dari satu pusat kekuasaan, yaitu Amerika Serikat. Mereka menulis skrip, dunia membaca ulang. Mereka menentukan narasi, dunia mengangguk tanpa memeriksa ke lapangan.
Inilah alasan bahwa seluruh solusi Barat, baik perdamaian, perundingan, rekonstruksi, tidak pernah menyelesaikan apa pun. Karena, mereka bukan hendak mengakhiri penjajahan. Mereka justru bekerja keras untuk melanggengkannya.
Kembali pada Solusi Islam
Di tengah kebohongan dunia, umat Islam harus kembali bersuara jernih. Solusi sejati untuk Gaza bukan sekadar bantuan pangan atau gencatan senjata sementara. Solusi itu ada dalam Islam. Syariat menetapkan kewajiban untuk membela yang tertindas dan membasmi penjajahan sampai tuntas.
Gaza butuh junnah (perisai) politik dan militer. Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui Khilafah, sebuah kepemimpinan yang berdiri untuk membela kehormatan umat, bukan tunduk pada tekanan internasional. Khilafah adalah institusi yang memimpin jihad untuk menghentikan penjajahan, bukan menunggu belas kasihan dari penjajah.
Solusi Islam ini harus terus dideraskan, diperjuangkan, dan disuarakan melalui dakwah ideologis. Karena, selama umat diam, penjajahan tidak akan pernah diam.
Dunia mungkin membutakan mata, tetapi umat Islam tidak boleh menutup mata. Derita Gaza adalah panggilan. Panggilan itu meminta lebih dari simpati. Ia menuntut perisai, kepemimpinan, dan pembebasan.


