
Oleh: Laila Quni Istaini
Linimasanews.id—Akhir Oktober 2025 lalu media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan terkait anak-anak zaman sekarang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Unggahan itu viral hingga disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang oleh lebih dari 207.000 pengguna lainnya. Dalam kata lain ,mereka yang menyukai unggahan tersebut setuju dengan pendapat si pemilik akun (Kompas.com 22/11/2025).
Tren opini anak muda hari ini: lebih baik ekonomi stabil daripada menikah tetapi ekonomi belum mapan. Banyak juga pemuda yang sudah menikah membagikan pengalaman menikahnya lewat konten di media sosial tentang kesulitan hidup setelah menikah akibat ekonomi belum mapan. Mahalnya biaya hidup menjadikan para pemuda lebih memilih berkarir dan mencukupi hidupnya daripada setelah menikah justru susah cari kerja, terlebih bagi perempuan.
Banyaknya kasus pernikahan buruk akhir-akhir ini terus menggiring kepada opini “marriage of scary”, pernikahan tak seindah awalnya. Mulai dari kasus KDRT, perselingkuhan, dan ekonomi yang memburuk pasca menikah. Ketakutan miskin hari ini karena biaya hidup makin tinggi, sementara cari kerja sulit, bahkan upahnya minimum.
Para perempuan banyak yang depresi karena gaji suami tidak cukup, sedangkan perempuan tidak bisa ikut bekerja karena harus menjaga anak. Sementara para lelaki khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Belum lagi, ramai opini orang miskin jangan punya anak.
Hal ini karena hedonisme menjadi standar hidup hari ini sehingga hidup sederhana saja tidak cukup, bahkan bisa jadi cibiran orang lain. Ditambah lagi ketidakpahaman tujuan pernikahan.
Menikah harusnya bukan karena landasan cinta saja, melainkan untuk ibadah, menyempurnakan agama dan melanjutkan keturunan. Dengan pemahaman ini, laki-laki bekerja untuk menafkahi keluarga sebagai ibadah agung. Perempuan pun mengurus rumah tangga merupakan ibadah yang agung. Dengan begitu, bila di dalam pernikahanan diuji ekonomi, keduanya tidak putus asa dan terus bersabar.
Selain paham dan sadar keadaan personal, anak muda hari ini harus bisa paham juga bahwa kesulitan ekonomi saat ini akibat tidak berjalannya peran negara. Negara yang seharusnya menjamin pekerjaan yang layak dengan upah memadai dan menjamin kebutuhan pokok yang terjangkau, kini akhirnya dikembalikan kepada masing-masing individu masyarakat. Akibatnya, terjadi banyak masalah sehingga anak muda sekarang takut menikah. Peran negara dan kesadaran individu sangat berpengaruh pada permasalahan ini.
Hanya sistem ekonomi Islam yang mampu mengatasi persoalan hari ini. Dalam Islam, negara harus memberikan lapangan pekerjaan yang layak untuk rakyat. Negara akan mengelola SDA dengan baik dan hasilnya untuk kepentingan masyarakat. Negara memudahkan biaya hidup masyarakat hari, yakni kebutuhan pokok masyarakat terjangkau.


