
Oleh. Ida Rose
Linimasanews.id—Pernikahan sejatinya adalah perjalanan suci yang membawa ketenangan dan keberkahan. Namun, bagi banyak generasi muda hari ini, pernikahan justru tampak seperti langkah yang penuh ketidakpastian. Harga rumah kian tak terjangkau, biaya pendidikan yang terus meningkat, lapangan pekerjaan yang tidak selalu menawarkan stabilitas, serta maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga membuat mereka merasa bahwa menikah hanya akan menambah beban hidup. Dari sini kemudian muncul keraguan baru, apakah lembaga pernikahan benar-benar aman dan menjanjikan ketenangan bagi mereka. Negara hadir, hukum ada, tetapi perlindungan sering kali tidak terasa nyata bagi mereka yang terjebak dalam lingkaran persoalan.
Komnas Perempuan mencatat sepanjang Januari–Desember tahun 2024 terdapat sekitar 35.533 laporan kekerasan terhadap perempuan, meningkat sekitar 2,4% dari tahun sebelumnya, (19/10/2025). Selain itu, berdasarkan data Kemen PPPA, jenis kekerasan yang paling banyak dilaporkan sepanjang Januari–Oktober 2025 adalah kekerasan seksual sebanyak 11.049 korban, kekerasan fisik sebanyak 8.533 korban, dan kekerasan psikis sebanyak 7.701 korban (20/10/2025). Data-data ini makin menguatkan ketakutan generasi muda terhadap kehidupan rumah tangga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 69,75% pemuda Indonesia memilih belum menikah, dengan hanya 29,10% yang telah menikah pada kelompok usia 16–30 tahun. Angka ini memperlihatkan bahwa kecenderungan menunda pernikahan bukan lagi sekadar pilihan individual, melainkan telah menjadi fenomena sosial berskala nasional.
Di sisi lain, generasi muda saat ini juga berada dalam pusaran gaya hidup hedonis yang dibentuk oleh gawai dan media sosial. Gambaran kehidupan glamor, pasangan harmonis, rumah estetik, liburan ke luar negeri, dan pesta mewah menciptakan standar kebahagiaan semu. Kondisi ini membuat banyak anak muda meyakini bahwa pernikahan harus diawali dengan kesempurnaan finansial. Padahal, gambaran tersebut sering kali hanyalah ilusi visual yang tidak mencerminkan realitas kehidupan rumah tangga sesungguhnya.
Allah Swt. mengingatkan manusia tentang tipu daya gemerlap dunia dalam surah Al-Hadid ayat 20, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.”
Apabila ditelusuri lebih dalam, tekanan yang dihadapi generasi muda hari ini tidak dapat dilepaskan dari dominasi sistem kapitalisme yang perlahan membentuk cara hidup masyarakat menjadi semakin sekuler dan individualistis. Kapitalisme mendorong setiap individu untuk berjuang sendirian, mengejar standar hidup yang terus meningkat, hingga melupakan peran Allah Swt. sebagai Pengatur dan Pemberi pedoman kehidupan. Akibatnya, hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga martabat manusia, ditakar dengan ukuran materi dan kemampuan finansial semata.
Dalam sistem kehidupan seperti ini, keluarga pun menjadi ruang yang sangat rentan. Ketika nilai-nilai agama tidak lagi dijadikan landasan utama, konflik mudah muncul dan rumah tangga kehilangan arah. Tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan minimnya ketenangan batin membuat banyak pasangan kewalahan menghadapi realitas kehidupan. Kondisi tersebut makin menguatkan anggapan bahwa pernikahan adalah pilihan yang sarat risiko dan minim harapan kebahagiaan.
Padahal, prahara pernikahan yang dirasakan generasi muda sebenarnya bukan bersumber dari pernikahan itu sendiri, melainkan dari sistem sosial dan ekonomi yang menghimpit, dari ilusi kebahagiaan yang terus ditawarkan media sosial, serta dari tekanan hidup modern yang menjauhkan manusia dari ketenangan batin. Oleh karena itu, generasi muda seharusnya tidak menjauhi pernikahan, melainkan mengembalikan maknanya pada nilai iman, kebersamaan, dan keberkahan. Sebab kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari berlimpahnya harta, melainkan dari hati yang teguh, hidup yang sederhana, serta keyakinan penuh kepada Allah Swt. dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.


