
Oleh: Ummu Irsyad (Relawan Opini)
Linimasanews.id—Ibu memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan umat. Ia bukan hanya pendidik pertama dalam lingkup keluarga, tetapi juga penentu corak berpikir dan orientasi hidup generasi mendatang. Dalam konteks tantangan zaman yang makin kompleks, ibu dituntut untuk tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga memiliki kesadaran ideologis yang kuat dalam mendidik anak-anaknya.
Peran ideal seorang ibu adalah mencetak generasi yang beriman, berkarakter, dan berani menegakkan kebenaran. Generasi ini tidak takut kepada siapa pun, kecuali kepada Allah Swt., sebagaimana firman-Nya, “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku” (QS. Al-Baqarah: 150)
Dari pendidikan ibu yang benar akan lahir generasi visioner, yang hidupnya tidak semata mengejar capaian dunia, tetapi berorientasi pada ridha Allah dan keselamatan akhirat. Menjadi ibu generasi ideologis, berarti menyatukan peran keibuan dengan kesadaran dakwah.
Untuk itu, ibu memahami bahwa kehidupan tidak lepas dari pertarungan nilai dan pemikiran. Karena itu, ia menanamkan kepada anak-anaknya cara pandang Islam dalam melihat diri, masyarakat, dan kehidupan. Kesadaran ini melahirkan cita-cita besar: mendidik anak agar kelak mampu memberi kontribusi nyata bagi umat dan peradaban.
Kesadaran ideologis juga menuntut adanya pemahaman sosial dan politik yang memadai. Sebab, Islam tidak memisahkan urusan pribadi dan urusan publik. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 110)
Ayat ini menunjukkan bahwa peran pendidikan dalam keluarga harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang peduli pada kondisi umat, bukan generasi apatis dan individualistik.
Sejarah membuktikan keberhasilan peran ibu dalam melahirkan generasi unggul. Banyak tokoh besar dalam peradaban Islam tumbuh dari ibu-ibu yang salehah, cerdas, dan memiliki visi keumatan. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu dan adab, tetapi juga keberanian, keteguhan prinsip, dan kecintaan kepada Islam. Sebut saja, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibu dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah saw. yang menjadi perawi hadits terbanyak kedua setelah Abu Hurairah. Ummu Sulaim adalah teladan nyata bahwa ibu yang berakidah kuat dan sadar peran dakwah mampu melahirkan generasi yang menjaga agama dan memimpin umat.
Namun, peran mulia ini menghadapi tantangan besar di era sistem sekuler. Serangan pemikiran dan budaya melalui narasi kebebasan tanpa batas, relativisme nilai, serta pemisahan agama dari kehidupan telah membentuk lingkungan yang tidak ramah bagi pendidikan ideologis anak. Konsep-konsep populer, seperti kesetaraan gender dan moderasi beragama sering kali disampaikan secara bias, sehingga mengaburkan fitrah dan peran strategis perempuan dalam Islam.
Tantangan lain datang dari dunia digital. Arus informasi yang masif dan minim kontrol membuat anak-anak mudah terpapar konten yang merusak akidah dan akhlak. Rasulullah saw. mengingatkan, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya .…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan besarnya tanggung jawab orang tua, terutama ibu, dalam menjaga dan mengarahkan fitrah anak.
Selain itu, sistem ekonomi kapitalisme turut memberi tekanan besar pada keluarga. Tuntutan ekonomi sering kali memaksa perempuan memikul beban ganda, sehingga peran pengasuhan dan pendidikan terpinggirkan. Padahal, Islam memuliakan peran ibu dan memberikan perlindungan agar ia dapat menjalankan tugasnya secara optimal.
Dalam kondisi ini, peran riil ibu adalah menetapkan visi pendidikan anak sebagai abdullah, khalifah fil ardh, dan bagian dari khairu ummah. Visi ini harus diwujudkan melalui keteladanan nyata. Ibu yang ingin melahirkan generasi beriman harus terlebih dahulu menunjukkan keimanan dalam sikap dan keputusan hidupnya.
Lebih jauh, upaya individu ini perlu dibarengi kesadaran kolektif untuk mendorong terwujudnya sistem kehidupan yang adil dan berpihak pada keluarga. Sistem ini memungkinkan perempuan menjalankan peran keibuannya secara bermartabat dan generasi tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara nilai.
Menjadi ibu generasi ideologis bukan sekadar pilihan personal, melainkan kebutuhan peradaban. Dari rumah yang dibangun di atas iman dan kesadaran inilah, harapan kebangkitan umat dapat kembali disemai.


