
Oleh. Iky Damayanti, S.T.
(Aktivis Dakwah)
Linimasanews.id—Beberapa sekolah mengaku keberatan saat program ini berjalan dikarenakan mereka harus tetap hadir ke sekolah padahal sudah libur kerja. Para siswa juga keberatan. Kepala SMP Negeri 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, mengatakan selama libur sekolah, pembagian MBG di sekolahnya tetap berlangsung pada hari-hari tertentu. Meski demikian, ia menilai efektivitas penyaluran saat libur perlu dipertimbangkan (kaltimtoday.co, 25/12/2025).
Kritik pun datang dari Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar. Mereka mempertanyakan perihal akuntabilitas atau pertanggungjawaban BGN untuk keputusannya tetap menjalankan program MBG semasa libur sekolah. Menurutnya, jika orang tua atau siswa tidak mengambil makanan tersebut akan mengakibatkan mubazir (tribunnews.com, 26/12/2025).
Menteri Badan Gizi Nasional (BGN) pun buka suara, pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan meski sekolah libur dan Ramadan. BGN menilai program MBG harus tetap berjalan karena pemberian gizi kepada anak harus konsisten, ujarnya (detik.com, 25/12/2025).
Saat Ramadan mekanisme pembagian tetap melalui sekolah. Untuk yang berpuasa boleh membawa pulang santapan MBG. Sedangkan untuk yang tidak berpuasa boleh dimakan secara sembunyi-sembunyi (Tempo.com, 24/12/25).
Banyak pihak menyayangkan. Pasalnya, MBG yang tetap berjalan dikhawatirkan hanya menghabiskan APBN, namun tidak bisa mencapai tujuan.
Sebenarnya program ini untuk siapa? Kebijakan populis, tampaknya menjadikan MBG ladang bisnis. Alhasil, program yang lahir dari sistem kapitalisme tidak pernah ingin rugi. Pasalnya, para orang tua dan siswa yang harus meluangkan waktu untuk mengambil MBG ke sekolah. Hal ini tentu merepotkan. Apalagi ketika bulan Ramadan, MBG diberi pada waktu siang namun disantap ketika berbuka puasa. Dikhawatirkan bukan malah bergizi, namun siswa justru menyantap makanan yang sudah basi. Negara seolah-olah memfasilitasi siswa tidak berpuasa di bulan suci Ramadan karena diperbolehkannya makan MBG dengan sembunyi-sembunyi.
Miris, sistem sekuler kapitalisme menimbulkan kesalahan yang timbul bukan hanya secara teknis, namun fundamental bahkan ideologis. Hal ini pil pahit yang memang harus ditelan dari diterapkannya sistem rusak sekuler kapitalisme. Di mana keuntungan menjadi tolok ukur kebijakan. Kebijakan hadir ke tengah rakyat dalam bentuk ruh bisnis bukan ketakwaan. Rakyat pun seolah merasa dipedulikan padahal dihisap darahnya perlahan oleh para kapital yang berkuasa.
Sementara itu, Islam hadir menjadi solusi yang shahih. Sungguh situasi ini akan berbeda jauh jika sistem Islam yang diterapkan. Memang benar, makanan bergizi dibutuhkan bagi setiap rakyat. Maka dalam Islam, pemimpin hadir sebagai ra’in dan junnah. Di mana penguasa harus menjamin sistem ekonomi berjalan dengan pengaturan syariat Islam, yakni pendistribusian yang merata dan konsep kepemilikan yang jelas.
Negara juga harus memastikan ketersediaan pangan umat terpenuhi. Sebagaimana apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab, beliau pernah memanggul sendiri bahan makanan bahkan memasak sendiri untuk warganya yang kelaparan karena takut pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun mekanisme praktis untuk menjamin kesejahteraan rakyat tersebut dipadukan antara pendekatan individual dan komunal. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki, sesuai keahliannya, agar mereka mampu menanggung kebutuhan keluarganya.
Sementara itu, bagi mereka yang lemah secara ekonomi akan ditopang oleh masyarakat yang aghnia’ dengan spirit sosial dan amar makruf nahi munkar bahkan ditopang oleh negara yang siap merangkul dan mengangkat mereka dari penderitaan. Di sisi lain, negara memiliki Baitul mal yang menyimpan pendapatan yang bersumber dari kharaj, fai, ghanimah, juga hasil sumber daya alam yang dikelola secara mandiri seperti tambang, minyak bumi dan lain-lain untuk dipergunakan bagi kesejahteraan rakyat.
Dengan begitu, gizi anak dan generasi dalam sistem Islam akan terpenuhi dengan sangat baik. Sistem Islam akan dapat terealisasi sempurna dengan ditegakkannya Khilafah Islamiyyah. Wallahualam bisawab.


