
Oleh: Najah Ummu Salamah (Komunitas Penulis Peduli Umat)
Linimasanews.id—Berbagai musibah serta peristiwa sosial dan politik di negeri ini menjadi pusat perhatian banyak pihak. Namun, yang lebih menonjol adalah keterlibatan kaum muda yang langsung terjun di lokasi bencana. Mereka juga angkat suara ketika banyak kezaliman akibat kebijakan penguasa.
Saat banjir bandang melanda Sumatra, misalnya, banyak pemuda dari kalangan artis, influencer, aktivis lingkungan dan sosial langsung sigap menggalang donasi, membawa bantuan logistik dan membuka posko kesehatan untuk membantu korban bencana alam. Fakta ini makin kuat dengan hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang dilakukan pada awal Desember lalu yang menunjukkan bahwa gen Z lebih suka berdonasi dan terjun langsung ke lokasi bencana sebagai sukarelawan (Kompas.com, 26/12/2025).
Potensi Pemuda
Pemuda adalah ujung tombak perubahan dan kebangkitan sebuah bangsa. Keterlibatan generasi muda dalam berbagai isu kemanusiaan, politik, ekonomi, dan budaya hari ini patut diacungi jempol. Karena, hal ini menunjukkan kepedulian, rasa simpati, dan empati masih kuat dalam benak kaum muda. Namun sayang, aktivitas kaum muda hari ini masih bersifat reaktif, sporadis, dan berbasis momentum saja. Akibatnya, solidaritas kaum muda masih rentan dibajak oleh kepentingan pihak tertentu dan algoritma digital.
Selain itu, banyak kaum muda yang kehilangan sosok panutan. Akhirnya, mereka menjadikan artis dan influencer sebagai teladan, tanpa mereka paham visi misi perubahan yang jelas.
Semua keadaan tersebut diakibatkan oleh beberapa hal. Pertama, lingkungan digital saat ini telah membentuk algoritma trap (jebakan algoritma), sehingga aktivitas perubahan bersifat instan dan emosional, mengikuti yang sedang viral.
Kedua, berbagai gerakan perubahan yang digadang-gadang kaum muda selama ini berakhir dengan tawaran harta dan kursi jabatan. Idealisme kaum muda akhirnya hilang. Muncullah krisis kepercayaan terhadap siapa pun yang sedang berjuang. Karena, selama jalan perubahan menapaki sistem demokrasi kapitalis, maka pasti berakhir saat kekuasaan sudah dimenangkan. Apalagi, jalan perubahan alternatif masih belum banyak yang memperjuangkan.
Ketiga, saat ini tidak ada sosok pejuang yang menjadi role model yang tepat. Yaitu, sosok yang berjuang dengan tulus karena Allah Swt.. Bukan sosok pragmatis, melainkan sosok yang membawa peta jalan perjuangan ideologis.
Peta Jalan Kebangkitan
Masa muda adalah fase terbaik manusia. Pada fase ini, kondisi fisik dan semangat seseorang sedang kuat-kuatnya. Karenanya, kaum muda harus menyadari bahwa potensi kebangkitan ada pada diri mereka. Maka, kaum muda tidak boleh masuk dalam hegemoni kapitalisme global, baik sebagai pangsa pasar industri kapitalis, apalagi mengusung ide-ide perubahan pragmatis ala Barat. Karena, jika hal itu terjadi maka perubahan hanya akan bersifat sesaat dan parsial. Kaum muda harusnya memiliki kesadaran politik ideologis. Yakni, sebuah kesadaran bahwa hanya Islam sebagai asas jalan perubahan hakiki.
Kaum muda harus bervisi akhirat serta menjadikan misi perubahan bersifat sistemis. Yaitu, semata menjadikan Islam sebagai ideologi yang melandasi setiap aktivitas individu, masyarakat dan negara. Dengan demikian, penerapan syari’at Islam dalam naungan institusi negara khilafah akan menjadi misi perjuangannya. Tentunya, semata mengharapkan ridha Allah Swt.
Kaum muda harus bangga ber-Islam kaffah, menjadikan Rasulullah saw. sebagai tauladan utama, serta mengambil metode perubahan dari sisi Baginda Nabi Muhammad saw semata dan demi menerapkan Al-Qur’an dalam segala aspek kehidupan.
Untuk itu, perlu bergabung bersama partai politik ideologis sebagai kendaraan untuk merealisasikan tujuan melanjutkan kehidupan Islam. Dengan begitu, umat akan mengalami kebangkitan hakiki. Kebangkitan ini akan mewujudkan peradaban Islam nan gemilang. Problematika umat akan mudah teratasi, lalu keberkahan akan turun dari langit dan bumi karena Islam menjadi Rahmat bagi seluruh alam.


