
Oleh: Anisa Rahmi Tania
Linimasanews.id—Pekat malam tidaklah lama. Fajar di ufuk akan segera tiba dan membuka hari dengan terangnya surya. Begitulah dunia berjalan, di mana pun manusia berada, kondisi tak akan selalu sama.
Harapan berakhirnya penderitaan dan kepedihan di bumi Palestina pun sama. Akan tetapi, nyatanya pekat malam di sana berlangsung lebih lama. Tahun telah kembali berganti, tetapi penderitaan karena penjajahan masih belum berhenti.
Kondisi Palestina Kembali Memburuk
Dilansir dari laman media antaranews.com (1/1/2026), korban tewas sejak serangan Zionis Israel ke Palestina, khususnya jalur Gaza mencapai 171.269 orang. Sementara korban luka-luka sebanyak 171.232 orang. Di awal tahun 2026 saat telah ada kesepakatan gencatan senjata yang diberlakuka pada 11 Oktober agresi Israel terus berlangsung. Bahkan, 48 jam terakhir dilaporkan oleh otoritas kesehatan setempat, tiga orang tewas dan 10 orang mengalami luka. Korban yang masih tertimbun dan tergeletak di jalan-jalan pun belum dapat dievakuasi karena tim ambulans belum dapat menjangkaunya. Telah terhitung korban sejak gencatan senjata kedua diberlakukan, 415 orang tewas dan 1.152 orang luka-luka.
Kondisi mencekam tersebut diperparah dengan blokade yang dilakukan Zionis Israel. Dunia pasti telah melihat bagaimana Israel dengan sengaja memutus pasokan listrik dan air bersih ke Gaza. Mereka juga memblokade setiap bantuan yang datang berupa makanan, minuman, pakaian, obat-obatan dan segala kebutuhan hidup warga Gaza. Hingga, ratusan orang meninggal karena malnutrisi.
Sungguh kondisi yang mendera Palestina menyayat setiap hati yang melihatnya. Tidak hanya seorang muslim, tetapi nonmuslim juga. Kini yang jelas nyata di depan mata, persoalan Palestina bukan sebatas persoalan agama, namun persoalan kemanusiaan.
Kehancuran Palestina telah menelanjangi kemunafikan AS sebagai negara adidaya yang cinta damai dan berusaha menjadi pahlawan dalam konflik internasional. Palestina juga membuka mata hati setiap manusia akan kebusukan sistem yang dibawanya.
Fokus pada Solusi Hakiki
Dua tahun berlalu, Palestina didera hantaman bom hingga menutup akses bantuan. Pelaparan dijadikan senjata oleh Israel untuk membunuh rakyat Palestina, khususnya Gaza. Kini, Zionis Israel kembali melakukan pembatasan. Sebanyak 37 LSM internasional bekerja di Gaza dan Tepi Barat. Mereka beralasan 37 LSM tersebut gagal memenuhi persyaratan dari aturan pendaftaran baru. LSM tersebut di antaranya, Dokter Tanpa Batas (MSF) dan Oxfam, Dewan Pengungsi Norwegia, CARE Internasional, dan lain-lain.
MSF dituduh mempekerjakan anggota Hamas. Padahal sebelumnya, MSF telah mengklarifikasi bahwa mereka tidak memperkerjakan orang-orang yang berafiliasi dengan kelompok militer mana pun. Akan tetapi, Zionis Israel dengan sewenang-wenang memberikan pembatasan. Hal ini disebut oleh jaringan LSM Palestina sebagai upaya memperdalam penderitaan rakyat Palestina.
Dengan kondisi yang makin memprihatinkan, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, tetap dengan langkah yang sama. Memaksa Zionis Israel lewat seruan, mengecam tindakan mereka lewat seruan pula. Seakan dari dua tahun ke belakang, tidak melihat bagaimana Zionis Israel dengan pongahnya tidak menggubris seruan dari mana pun, dari siapa pun. Dunia pasti telah dengan jelas melihat, ketika pengadilan internasional menjatuhkan status bersalah dan mengharuskan Netanyahu ditangkap, dia bisa dengan santai menolak putusan dan mengatakan dirinya tidak bersalah. Saat itu dunia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sungguh, kondisi ini makin memperlihatkan kesombongan Zionis Israel dan mempecundangi negara-negara di seluruh dunia. Di balik kekuatan militer dan pasukan yang dimiliki berbagai negara, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar berniat menggempur Zionis Israel dan mengakhiri penjajahan di Palestina. Di zaman sekarang harga diri seorang pemimpin muslim telah tergadai oleh materi. Sekalipun telah ratusan ribu nyawa melayang karena gempuran Zionis, pemimpin di negeri muslim tidak merasa hancur, tidak merasa harga dirinya diinjak-injak karena tidak bisa melakukan pembelaan.
Di sinilah dibutuhkan sebuah negara dengan pemimpinnya yang berani, tidak menghitung untung rugi dalam membela saudaranya, pemimpin yang tidak takut dengan ancaman musuh. Dibutuhkan sebuah negara yang tangguh, bukan hanya memiliki kekuatan militer dan pasukan, tetapi memiliki kekuatan dalam memimpin. Hal tersebut tidak akan hadir jika negara tersebut tidak memiliki kepemimpinan berpikir yang benar. Kepemimpinan berpikir ini adalah yang berdasar pada akidah Islam.
Sebuah negara yang tangguh, bukan hanya memiliki kekuatan militer dan pasukan, tetapi memiliki kekuatan dalam memimpin, baik dalam ideologi maupun dalam sikap politik. Negara tersebut tidak akan bisa disetir oleh negara lain dan mampu tegak dengan kakinya sendiri tanpa takut disingkirkan oleh kekuatan lain.
Negara tersebut tidak akan hadir jika ia tidak memiliki kepemimpinan berpikir yang benar. Kepemimpinan berpikir ini adalah yang berdasar pada akidah Islam. Artinya negara tersebut menjadikan akidah Islam sebagai dasar kepemimpinannya sekaligus sebagai sistem dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Kondisi ini pernah terjadi pada negara yang dipimpin Rasulullah saw., yang dilanjutkan Khulafaur Rasyidin. Tidak selesai sampai di sana, tetapi terus berlanjut dipimpin para khalifah hingga masa keruntuhannya pada tahun 1924. Kala itu, darah dan kehormatan kaum muslim maupun kafir dzimmi yang menjadi warga negara dunia terjamin keamanannya. Negara Khilafah menjadi benteng utama yang menjamin kehidupan rakyatnya.
Oleh karena itu, umat Islam harus sadar, penyelesaian hakiki dari permasalahan Palestina hanyalah satu. Yakni mewujudkan kembali ketiadaan benteng pertahanan kaum muslim. Benteng yang telah hancur lebih dari satu abad yang lalu harus mulai kembali dibangun melalui perjuangan dakwah, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Wallahualam.


