
Oleh: Ummu Fatimah
Linimasanews.id—Umat Islam yang notabene lebih dari dua miliar tersebar di berbagai negeri-neger muslim, membentang dari barat hingga ke timur jauh, yang seharusnya bisa menjadi sumber daya untuk kebangkitan peradaban yang hakiki. Sungguh jauh panggang dari api, bagaimana tidak, benak sebagian besar kaum muslim telah diracuni oleh pemahaman kapitalisme sekuler sehingga sekat-sekat nasionalisme. Walhasil, umat enggan untuk menjadi ummatan wahidah sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah salallahu alaihi wassalam terakhir pada haji wada’ yakni menjaga persatuan umat.
Tak bisa dimungkiri, dalam hal menjaga persatuan umat, butuh sosok pemimpin yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh dalam meriayah kepentingan umat secara menyeluruh dan konsisten sesuai aturan syariat. Faktanya, negeri-negeri kaum muslim tercerai-berai dan menjadi pembebek bagi kepentingan para kapitalis dan sulit untuk lepas dari jerat yang membelenggu di berbagai lini kehidupan.
Arah pemikiran kaum muslim tak lagi mencari rida illahi melainkan sibuk memperkaya diri. Dengan demikian, lahirlah sosok pemimpin yang pengecut, culas, dan korup, sangat tampak dari wajah pemimpin negeri-negeri muslim yang lahir dari habitat kapitalisme sekuler. Inilah bencana terbesar sesungguhnya, adanya problem ideologis, yakni krisis kepemimpinan.
Krisis kepemimpinan sesunggunya telah dimulai sejak detik-detik keruntuhan khilafah pada maret 1924 silam hingga hari ini. Sudah 100 tahun lebih, kaum muslim mengalami kekosongan kepemimpinan Islam global. Saat ini, kepemimpinan kapitalisme global memimpin dunia dan terbukti melahirkan berbagai kerusakan, penderitaan, dan nestapa sepanjang sejarah umat manusia dikarenakan kezaliman sistematis.
Sistem kapitalisme global berdiri di atas asas sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan yang menjadikan kepentingan materi dan kekuasaan sebagai standar pengambilan keputusan. Di atas ideologi rakus ini, penjajah menghegemoni dengan kekuatan politik dan militer untuk menguasai negeri-negeri kaum muslim yang kaya akan sumber daya alam.
Sejak tahun 1948 hingga hari ini, jantungnya kaum muslim, yakni Palestina dijajah oleh Zionis. Genosida makin membabi buta, Berdasarkan laporan Biro Pusat Staik Palestina (PCBS) peristiwa Nakba sebanyak 136.000 jiwa syahid, ditambah peristiwa 7 oktober 2023 hingga hari ini tercatat 71.269 jiwa syahid dan 70% korban jiwa adalah wanita dan anak-anak. Sementara penguasa negeri-negeri kaum muslim, terkhusus penguasa di Jazirah Arab, tuli dan buta bahkan mereka hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta di tengah penderitaan saudaranya di Palestina, mereka juga bermesraan dengan kafir penjajah dengan melakukan berbagai kerjasama untuk kepentingan negaranya.
Selain itu, di negara minoritas, muslim Rohingya semenjak eksodus besar-besaran terjadi setelah tindakan brutal militer myanmar di negara bagian Rakhine yang menyebabkan 700.000 warga rohingya melarikan diri. Hingga hari ini selama 1 dekade kapal-kapal kayu ditemukan hanyut diperairan Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia dan Thailand. Begitu juga dengan Muslim Afrika data statistik global tahun 2024 tercatat kelaparan akut lebih dari 20% populasi Afrika yakni sekitar 307 juta orang menghadapi kelaparan dengan angka kematian yang diperkirakan terjadi setiap 36 detik, penyebab utamanya adalah konflik bersenjata yang sengaja didesign oleh kafir penjajah. Nestapa muslim India hingga hari ini terus berlanjut melalui berbagai tekanan sistemik dan insiden kekerasan. Begitupun yang dialami oleh muslim Uighur yang mengalami pembatasan ibadah. Masih banyak lagi nestapa kaum muslim yang tinggal di negara minoritas.
Di sisi lain, negeri-negeri mayoritas muslim tanpa mereka sadari dirusak pemikirannya dengan pemahaman Barat yang mengusung asas kebebasan yang melahirkan berbagai kerusakan dalam berbagai tatanan kehidupan yakni: tatanan ekonomi kapitalistik, prilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta sistem pendidikan dan kesehatan yang materialistik.
Dalam tatanan ekonomi kapitalistik, kegiatan ekonomi digerakan sekedar meraih keuntungan dan penguasaan terhadap SDA semata. Dalam hal ini, aturan Islam dianggap menjadi penghambat. Kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai keadilan dan kemuliaan melainkan sekadar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya.
Budaya diekspresikan dalam bentuk pemuas nafsu jasmani yakni fun, food dan fashion yang berkiblat ke barat. Dalam hal beragama memandang semua agama sama dan membawa kebaikan. Adapun sistem pendidikan dan kesehatan yang materialitik melahirkan manusia layaknya buku berjalan serta berbagai macam gangguan mental serta terbukti gagal melahirkan manusia shalih dan menguasai iptek.
Sejatinya, kepemimpinan global Islam memiliki otoritas, legitimasi dan kapasitas untuk memobilisasi sumber daya manusia dalam rangka menjaga persatuan umat. Inilah institusi yang dapat berbicara dan bertindak atas nama umat secara kolektif. Namun, saat ini semenjak keruntuhannya bahkan tidak ada satupun entitas politik yang dapat mengkoordinasikan kekuatan militer, ekonomi dan diplomatik umat Islam secara efektif untuk membebaskan jantung kaum muslimin yakni Palestina serta negeri minoritas lainnya dari hegemoni penjajah baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan pemikiran diberbagai lini kehidupan.
Tak bisa dimungkiri, krisis kepemimpinan global kaum muslimin ini disebabkan oleh mundurnya taraf berpokir kaum muslim itu sendiri sehingga sebagian besar kaum muslimin dengan suka rela mengambil ideologi kapitalisme sekuler sebagai pandangan hidup baik secara individu, bermasyarakat maupun bernegara yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Sehingga sosok pemimpin yang lahir pun layaknya boneka yang akan menjadi pelaksana tugas atas kepentingan ekonomi dan politik penjajah.
Kondisi ini jelas bertentangan dengan ideologi Islam yang menjadikan pemimpin sebagai perisai bagi rakyat sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu alaihi wassalam, “Imam(khalifah) adalah perisai (pelindung) Orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepada dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemimpin yang berkepribadian Islam terpancar dari Keimanan dan ketakwaannya yang takut hanya kepada Allah semata serta menjalankan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini dengan seadil-adilnya karena kepemimpinan adalah amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia saja namun juga kelak di hadapan Allah di yaumil akhir sebagaimana sabda Rasulullah salallahu alaihi wassalam, “Kepemimpinan itu adalah amanah. Nanti pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambil amanah itu dengan hak dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam amanah kepemimpinan tersebut.” (HR.Muslim)
Sudah selayaknya kaum muslim sadar dan mengambil peran sebagai pengemban dakwah Islam kaffah melalui dakwah pemikiran sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Salallahu alaihi wassalam di rumah Arkam Bin Abi Arkam. Beliau membina 40 orang pemuda sebagai cikal bakal lahirnya Pemimpin yang bertakwa para khulafaurosyidin yang menjalankan syariat Islam secara sempurna. Sosok pemimpin seperti ini akan lahir dari rumah-rumah para pengemban dakwah Islam Kaffah yang ikhlas dan istikamah dalam memperjuangkan kebangkitan hakiki hingga dengannya Baldatun toyibatun wa robbun ghofur akan terwujud. Wallahualam bisawab.
Referensi:
Buletin kaffah Edisi 426 (13 Rajab 1447 H/2 Januari 2026 M)
Al-Wa’ie (Edisi Januari, 1-31 januari 2026 M)


