
Oleh: Afiynoor, S.Kom. (Aktivis Dakwah Surabaya)
Linimasanews.id—Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026. Dalih AS terkait alasan penyerangan tersebut adalah dalam rangka memerangi apa yang mereka sebut sebagai “narkoterorisme”. Namun, sejumlah pihak menilai tidak adanya bukti yang menunjukkan secara jelas adanya penyelundupan narkotika berskala besar dari Venezuela (Fisip.ui.ac.id, 12/1/2026).
Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Donald Trump menyebut dirinya sebagai presiden sementara Venezuela mulai dari Januari 2026. Hal ini diungkapkan Donald Trump dalam unggahannya di media sosial miliknya. Trump mengunggah foto resmi dirinya dengan keterangan “Acting President of Venezuela” serta mencantumkan status incumben sejak Januari 2026.
Aksi semena-mena AS ini menunjukkan bahwa sejatinya AS adalah tokoh utama dalam percaturan dunia. Seakan-akan AS ingin menunjukkan siapa yang berkuasa dan apa yang bisa dilakukan dengan kekuatan global AS. Hal ini juga ditunjukkan AS dengan keputusan sepihak keluar dari 66 organisasi internasional di bawah PBB. Semua ini dilakukan AS tanpa adanya perlawanan berarti atau kecaman keras dari negara-negara di dunia. Hal ini memperkuat posisi AS sebagai kekuatan utama dunia.
Meskipun aksi AS ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya, tetap saja dunia tidak menyangka AS akan senekat ini melakukan manuver politik luar negeri yang se-agresif ini. Apalagi setelah menyatakan “shutdown” tahun lalu. Terlebih lagi, AS ternyata tidak berhenti dengan aksi ambil-alih terhadap Venezuela, tetapi juga menyatakan akan segera mencaplok Greenland dalam waktu dekat.
Sejatinya manuver AS ini sebuah bentuk ketamakan dan keserakahan. Sebagai sebuah negara yang menerapkan ideologi kapitalisme, AS aktif melakukan eksploitasi di berbagai wilayah dunia. Praktik neokolonialisme yang diterapkan AS memungkinkan kekuatan kapitalis, baik negara maupun oligarki untuk mendominasi negara-negara lain dengan dalih kemajuan ekonomi.
Masih jelas tergambar peran AS dalam menghancurkan Irak. Dengan alasan yang sama, AS juga berperan dalam kehancuran Libya. Sejatinya semua karena negeri-negeri Islam tersebut memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kerakusan dan ketamakan untuk menguasai semua sumber daya alam yang menghasilkan energi dan cuan inilah yang menjadi alasan utama AS melakukan serangan militer dan menghancurkan sebuah negeri, meskipun negeri tersebut adalah pemerintahan yang berdaulat. Sungguh ini adalah bentuk aksi semena-mena dan bentuk premanisme negara.
Hal ini membuktikan bahwa jargon perdamaian dunia yang digaungkan AS adalah omong kosong. Karena, AS sendiri malah beraksi bak preman yang mengobrak-abrik kedamaian sebuah negeri yang berdaulat, mengancam keselamatan dan menghancurkan wilayah dengan serangan militernya. Sementara, hak asasi manusia (HAM) hanya menjadi sebuah seruan kosong ketika AS sendiri pelakunya.
Sudah saatnya masyarakat dunia menyadari bahwa selama ini AS tidak layak menjadi pemimpin dunia. Karena, yang dilakukannya semata-mata membawa kepentingannya sendiri. Jika sesuatu itu menguntungkan bagi AS, ia akan mati-matian mengusahakannya, sekalipun harus menjilat ludah sendiri dan melanggar kesepakatan internasional. Standar ganda inilah yang selama ini dilakoni AS.
Satu-satunya standar bagi AS adalah kepentingan politiknya, sekalipun itu harus menghancurkan sebuah negeri dan masyarakatnya. Lihatlah yang terjadi di Palestina, Sudan, Irak, Afghanistan, Mesir, Libya, dan negeri Islam lainnya. Kepentingan AS menjadi alasan di balik hancurnya negara-negara tersebut. Dalih terorisme, narkoterorisme, menjaga perdamaian dunia, dll. adalah dalih yang digunakan untuk bisa masuk ke sebuah negeri dan menguasai berbagai sumber daya alamnya, baik tambang, minyak, mineral, gas, dll. Ujung-ujungnya adalah pengambilan paksa kepemilikan sumber energi dan wilayah.
Tragisnya, tidak ada yang mampu membendung aksi premanisme Amerika. Koalisi yang ada belum mampu melindungi negara-negara yang bernaung di bawahnya selamat dari caplokan kerakusan AS. Karena itu, perlu dibangun sebuah kesatuan kekuatan yang mampu menandingi kekuatan AS, yang mampu menyaingi kampiun kapitalisme itu dengan kekuatan ideologi yang setara, yang mampu menolak semua arogansi dan standar ganda AS. Yakni, sebuah kekuasaan yang bersifat global yang memiliki kekuatan yang bukan hanya mampu menghadang dominasi AS, tetapi juga mampu mengubah kondisi yang rusak yang diakibatkan kapitalisme, menjadi sebuah kondisi yang lebih manusiawi dan menyejahterakan, yang jauh dari kerakusan dan ketamakan kapitalis.
Sejarah mengukir adanya sebuah peradaban Islam yang memiliki kekuatan global yang mampu menandingi kekuatan zalim dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Romawi dan Persia. Selama lebih dari 14 abad, umat Islam dan umat lain hidup dalam kesejahteraan di bawah kekuasaan Islam. Peradaban yang sudah terbukti membawa rahmat bagi alam. Jauh dari kezaliman seperti yang dilakukan AS saat ini.


