
Suara Pembaca
Kasus pengeroyokan seorang guru oleh siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi viral. Peristiwa tersebut bermula saat seorang guru (AS) melewati kelas. Ada siswa yang meneriakinya dengan perkataan tidak pantas. AS langsung mengonfirmasi ke dalam kelas, siapa yang meneriakinya. Siswa (L) mengaku dengan nada menantang sehingga sang guru tersulut emosi lalu menamparnya.
Langkah mediasi ditempuh, namun jalan keluar belum ditemukan dan berakhirlah dengan pengeroyokan guru AS oleh para peserta didiknya. Perundungan terhadap guru sebenarnya sudah kerap terjadi dan tidak hanya dialami oleh guru AS, tetapi guru yang lain memilih diam (15/1).
Bagaimana ini bisa terjadi? Sistem pendidikan sekuler, agama dipisahkan dari kehidupan. Akibatnya, menginginkan peserta didik menjadi pribadi yang bertakwa, jujur, dan berakhlak mulia ibarat jauh pangang dari api. Generasi hari ini dicetak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, menjadi pekerja tanpa fondasi yang kokoh.
Selain itu sekuler kapitalisme menelurkan pemikiran pada individu bahwa tujuan dan pencapaian kehidupan ini hanyalah materi. Alhasil, dalam keluarga, dituntut semua anggota meninggalkan rumah demi memenuhi kebutuhan. Akhirnya, anak hanya mendapatkan asupan dan fasilitas materi, tetapi kering kasih sayang, kurang pendidikan moral, dan komunikasi yang baik.
Sistem pendidikan sekuler ini sangat berbeda dengan pendidikan Islam yang bertujuan membentuk kepribadian Islam dengan membekali para siswa ilmu dan pengetahuan terkait dengan kehidupan. Dalam sistem ini, akidah Islam menjadi dasar. Outputnya, manusia yang bertakwa dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah.
Muruah seorang guru pun dijaga. Seorang muslim diajari sikap saling menghormati sesama, hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Karenanya, sangat jelas bahwa sikap hormat kepada guru harusnya sudah terpatri dalam diri seorang muslim. Pendidikan tersebut juga sudah bisa didapatkan di lingkup terkecil keluarga muslim.
Umi salamah, sleman


