
Oleh: Yulida Hasanah (Aktivis Muslimah Brebes)
Linimasanews.id—Gaza, nama itu tidak hanya berbicara tentang kondisi umat di suatu kota bagian Palestina, namun menjadi cerminan kondisi umat Islam seluruh dunia. Betapa lemahnya umat Islam, hingga genosida penduduk Gaza oleh tentara Zionis Israel terus berlangsung meski katanya sedang gencatan senjata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (23/1) menyatakan kengerian pembunuhan warga sipil Palestina yang hingga kini masih terjadi di Jalur Gaza setelah gencatan senjata. Melalui siaran pers, Kantor HAM PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki (OPT) menyampaikan, “Kengerian atas pembunuhan warga sipil terus berlanjut dalam serangan Israel di Gaza, termasuk setidikitnya 11 warga Palestina yang tewas dalam serangan 21 Januari, di tengah pola kekerasan pasca-gencatan senjata yang lebih luas dan dampak berkelanjutan dua tahun kehancuran.” (Antaranews.com, 24/01/2026).
Hal ini membuktikan kekejian Zionis sudah benar-benar di luar nalar dan kemanusiaan. Di Gaza, tiada hari tanpa pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Sudah lebih dari 282 kali mereka melanggar gencata senjata. Terhitung sejak 10 Oktober 2025 hingga akhir Januari 2026, mereka terus membunuhi rakyat sipil. Terlebiih, mereka pun masih memblokade akses masuknya bantuan kemanusiaan, sedangkan tiap hari terjadi kematian di tengah para pengungsi akibat kelaparan, cuaca dingin, dan tertimpa bangunan runtuh. Jurnalis Palestina terbunuh, jurnalis asing dilarang masuk. Hal ini dinyatakan oleh Kepala HAM PBB Ajith Sunghay di OPT (Antaranews.com, 24/01/2026).
Namun, yang lebih tak masuk dinalar dan tak manusiawi adalah sikap pemimpin negeri-negeri muslim yang justru berkhianat kepada Palestina dan perjuangan pembebasan Palestina. Belasan negara Muslim menyatakan bergabung dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dewan Perdamaian ini pertama kali diusulkan oleh Donald Trump pada September 2025 lalu dengan dalih untuk mengakhiri perang Gaza.
Negara-negara yang bergabung menjadi anggota akan dibatasi masa jabatannya selama tiga tahun, kecuali negara tersebut membayar masing-masing sekitar USD 1 Miliar untuk mendanai kegiatan dewan dan mendapatkan anggota tetap, sebagaimana bunyi piagam tersebut.
Sejauh ini terdapat sekitar 35 pemimpin dunia yang telah berkomitmen untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian dari sekitar 50 undangan yang telah dikirim. Presiden Indonesia termasuk salah satu dari 35 pemimpin dunia yang bergabung di dalamnya. Selain ada delapan negara mayoritas Muslim yang juga menyatakan setuju untuk bergabung, yakni Qatar, Turki, Bahrain, UEA, Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Pakistan.
Pemimpin Pengkhianat
Bagaimana tidak disebut pengkhianat perjuangan umat, hari ini para pemimpin negeri-negeri muslim telah jelas memberikan dukungan kepada penjahat dunia yang telah menjadi support system dari genosida Zionis Israel ke Gaza? Tak ada sikap simpati darinya, apalagi aksi nyata untuk Palestina. Sebaliknya, mereka justru mengikuti jalan sesat Amerika dengan ikut serta memberikan jaminan keamanan pada Zionis laknatullah.
Seperti Presiden Indonesia Prabowo, baru-baru ini yang mengatakan bahwa masalah Palestina akan selesai jika kita menjamin keamanan Israel. Pernyataan itu muncul untuk mendukung solusi dua negara yang idenya datang dari penjahat dunia, yakni AS. Secara logika, mana ada penjahat datang untuk memberikan solusi perdamaian. Solusi dua negara jelas telah membuka peluang agar bagian tanah kaum muslimin di Palestina diberikan kepada perampok tanah tersebut. Justru ini adalah solusi sesat yang menguntungkan para penjahat dan musuh umat Islam.
Selain itu, siapa yang bersedia menerima solusi dengan dalih perdamaian dari penguasa-penguasa yang jelas memerangi Islam dan umat Islam? Sesungguhnya mereka juga telah mengkhianati perjuangan umat Islam yang serius menyuarakan pembebasan Palestina dengan seruan jihad dan persatuan negeri-negeri muslim dan satu komando mengusir penjajah dari tanah suci Palestina.
Solusi Pembebasan sesuai Sunnah Rasul
Allah Subhanahu wata’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin.” (QS at-Taubah [9]: 14)
Ayat tersebut telah menjelaskan cara membebaskan Palestina, yakni dengan memerangi entitas Yahudi dan negara-negara pendukungnya seperti AS. Inilah perintah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, yaitu mengusir kaum kafir yang menduduki tanah kaum muslimin. Sebagaimana juga ditegaskan dalam firman-Nya, “Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS al-Baqarah [2]: 191).
Hal ini juga telah dicontohkan oleh Rasulullah. Sebagai kepala negara Daulah Islam pertama di Madinah, Beliau bersikap tegas kepada kaum Yahudi dengan mengusirnya dari Madinah, dan memerangi kaum munafik yang telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah Sallallaahualaihi wasallam. Saat itu jihad benar-benar mampu dilaksanakan karena adanya kepemimpinan Islam.
Maka, di sinilah letak pentingnya umat Islam harus memperjuangkan kembali Khilafah Islam ‘alaa minhaaj an-nubuwwah. Kekuatan politik Islam global inilah yang akan mampu menghadapi kekuatan global Barat dan mencampakkan para penguasa muslim pengkhianat. Saatnya umat bersatu dalam kepemimpinan Islam yang akan menggerakan tentara-tentara di negeri-negeri Islam untuk membebaskan tanah Palestina yang diberkahi.


