
Oleh: Nabilah Rohadatul ‘Aisy
Linimasanews.id—Baru-baru ini, viral sebuah kasus pencabulan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Setidaknya telah ada dua kasus yang sama di tempat yang berbeda terjadi dalam sepekan terakhir. Desakan kebutuhan ekonomi yang mendorong para ibu tersebut melakukan tindak asusila terhadap anak mereka. (CNNIndonesia.com, 8/6/24).
Mereka nekat melakukan hal tersebut karena mendapat iming-iming dari salah satu teman di akun sosial media, facebook. Berdasarkan hasil penyidikan, pelaku menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang besar kepada target. Kemudian target diminta foto dengan memegang ktp. Selanjutnya, pelaku kejahatan meminta korban untuk berfoto tanpa busana dengan imbalan uang dengan nominal besar.
Ketika perintah tersebut dituruti, pelaku kejahatan akan meminta lebih yaitu melakukan hubungan intim sembari direkam dalam video. Apabila target menolak, maka pelaku kejahatan akan mengancam dengan menyebarkan foto tanpa busana sebelumnya (Liputan6.com, 9/6/24).
Adanya peristiwa ini seakan mencerminkan gagalnya sistem pendidikan hari ini dalam mencetak individu yang beriman dan berkepribadian Islam. Menabrak segala garis halal/haram hanya untuk mengedepankan duniawi. Tidak heran, segala bentuk pelanggaran syariat merajalela dan sangat mudah sekali ditemukan.
Terutama untuk para wanita yang kelak, cepat atau lambat akan mengemban amanah menjadi ibu. Tentunya peran menjadi ibu diperlukan bekal ilmu yang sangat banyak mulai dari agama maupun dari sisi life skill. Kejahilan seorang ibu akan membawa pengaruh buruk bagi generasi selanjutnya.
Fakta-fakta yang terjadi seperti ini tentu menyayat hati, seolah fitrah ibu yang penuh kasih sayang, lemah lembut nan sabar hilang tergerus oleh sistem sekuler yang begitu jahat. Dalam sistem sekuler, (pemisahan agama dari kehidupan) ini, hukum-hukum Allah tidak lagi menjadi prioritas perbuatan. Sehingga para perempuan terjebak dalam perilaku kebebasan tanpa batas, tidak ada rasa malu ataupun takut. Aktivitas perzinaan dianggap hal biasa, membunuh dianggap perbuatan sepele, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan lemahnya negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya.
Seringkali ‘sejumlah uang’ menjadi faktor utama tindak kriminal, termasuk dalam kasus ini. Kondisi hari ini, masih banyak masyarakat kita jauh dari kata sejahtera. Harga bahan pokok yang melangit ditambah tinggi nya biaya pendidikan juga kesehatan membuat masyarakat mau tidak mau harus berupaya mengumpulkan sebanyak banyaknya uang demi melangsungkan kehidupan. Beban ekonomi yang berat inilah yang menyebabkan fitrah ibu terberangus dalam arus kerusakan liberalisme sekularisme.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam memiliki sistem pendidikan yang sistematis dan sempurna. Kurikulum pendidikan yang dibangun ialah berasaskan akidah Islam. Strategi pendidikannya yakni membentuk aqliyah dan nafsiyah Islam. Tujuan dalam pendidikan yaitu membentuk kepribadian Islam.
Pendidikan merupakan suatu wadah yang digunakan untuk memperkenalkan, menanamkan, dan mengembangkan karakter pada anak untuk dapat lebih mengenal fitrahnya. Sebab, pembentukan perilaku seseorang itu sesuai dengan apa yang telah ia dapatkan. Maka di sini, peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam menyiapkan manusia-manusia yang siap berperan sesuai fitrahnya masing-masing.
Sebuah keluarga merupakan sekolah pertama dalam hal agama dan moral. Keluarga memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mencetak generasi. Terutama Ibu sosok yang paling dekat dengan anak. Ibulah pemegang kendali penuh dalam pola asuh dan pendidikan anak. Sehingga sangat dibutuhkan para ibu yang bertakwa dan teredukasi secara islami di setiap rumah anak muslim.
Sistem ekonomi dalam Islam juga jauh berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme. Kesejahteraan seluruh elemen masyarakat adalah satu hal yang selalu dan terus diupayakan. Allah telah memerintahkan para pemimpin kaum muslim untuk mengelola harta umat dengan amanah dan penuh tanggungjawab. Syariat Islam juga telah mencegah harta beredar dikalangan orang kaya saja sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial di kalangan masyarakat.
Begitulah gambaran sederhana saat Islam diterapkan dalam lini kehidupan. Individu bertakwa lahir dari keluarga bertakwa. Disertai kontrol masyarakat yang tercipta kehidupan amar makruf nahyi mungkar membuat kemaksiatan akan selalu mendapat teguran. Dengan pengelolaan harta umat yang bijaksana, maka seluruh keluarga dalam darul Islam akan sejahtera. Tidak akan ada kasus kriminal yang terpaksa harus dilakukan karena alasan terimpit ekonomi. Wallahu a’lam bishowab.


