
Oleh: Eva Novita
Linimasanews.id—Sosok ibu memiliki makna yang besar. Di balik lelaki yang sukses, ada perempuan yang mulia di belakangnya. Jika menjumpai ada seorang anak yang tumbuh menjadi sosok yang sukses dan beriman, lihatlah ibu mereka. Ini karena ibu berperan besar dalam membentuk karakter dan wawasan seseorang. Itulah sejatinya makna dari status seorang ibu.
Namun, belakangan ini ada tragedi yang begitu ironis dan keji. Salah satunya, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh tiga terdakwa yang salah satunya adalah ibu kandung korban. Dilansir dari Subang.inews.id, korban Muhamad Rauf (13), bocah asal Desa Parigimulya, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, disiksa hingga meninggal dan kemudian dibuang ke saluran irigasi Sungai Bugis, Anjatan, Indramayu oleh ibunya dengan bantuan keluarganya pada 3 Oktober 2023. Polda Jabar yang menangani kasus tersebut telah berhasil menetapkan tersangka pembunuhan, yakni Nurhaini (40) ibu kandung korban, Suganda (45) paman korban, dan Warim (70) kakek korban. Ketiganya akhirnya telah divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Subang, Rabu (17/4/2024).
Dari segi agama, perilaku keji ini jelas menyelisihi fitrah. Segala sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia pasti merupakan masalah. Misalnya, pada fitrahnya, manusia adalah makhluk yang membutuhkan makanan untuk bisa bertahan hidup. Karenanya, akan jadi masalah apabila tidak ada makanan yang bisa dikonsumsi.
Begitu pula fitrah seorang ibu. Sosok ibu memiliki peran yang sangat mulia. Betapa pengorbanan dan kasih sayang yang mengalir dari jiwa dan raganya begitu besar. Ia berperan dari mengandung, melahirkan, merawat, hingga mendidik dan menjaga anak-anaknya. Begitulah sejatinya kemuliaan seorang ibu yang akan berkontribusi melahirkan dari rahimnya para insan cemerlang.
Ibu adalah guru pertama, sebelum si kecil belajar dengan guru mana pun. Oleh karenanya, kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi pendidikan dan masa depan anak. Itulah fitrah seorang ibu. Lalu, bagaimana bisa ibu keluar dari fitrahnya hingga tega menghabisi putranya?
Sungguh, kasus di atas menegaskan bahwa dalam sistem sekuler saat ini, fitrah seorang ibu sudah sedemikian rusak. Ibu yang sejatinya adalah tempat teraman sebagai penjaga dan pemberi kasih sayang, saat ini justru menjadi monster penghilang nyawa anak kandungnya. Inilah buah sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini telah sedemikian rupa merusak fitrah dan naluriah seorang kepada anaknya. Beban hidup yang ditambah jauhnya dengan agama akibat sistem sekuler kapitalis ini menjadikan seseorang begitu mudah melakukan hal di luar dugaan, sekalipun seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri.
Sistem ini bertolak belakang dengan sistem Islam. Islam sebagai agama yang sempurna, yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia, sangat memperhatikan fitrah manusia. Aturan Islam menjaga agar manusia tetap dalam fitrahnya.
Islam memiliki berbagai macam aturan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan naluri manusia. Dengan seperangkat aturan Islam yang menyeluruh, manusia dapat hidup tenang, terpenuhi semua kebutuhannya, baik fisik maupun psikisnya. Demikian pula kebutuhan nalurinya. Manusia pun akan tetap terjaga kemuliaannya sebagaimana manusia dan terjaga fitrahnya. Semua itu tentu saja hanya akan terwujud ketika aturan Islam diterapkan secara keseluruhan oleh negara.
Terjaganya fitrah manusia membutuhkan penerapan sistem Islam . Dalam naungan sistem Islam, seorang ibu akan melakukan kebaikan dan hal-hal terpuji lainnya. Sebab, sistem Islam akan menghilangkan berbagai hal yang dapat merusak fitrah ibu. Hanya sistem Islam yang dapat mengembalikan fitrah dan fungsi seorang ibu yang benar bagi anaknya.


