
Oleh: Zuliyama, S.Pd. (Relawan Opini)
Linimasanews.id—Meskipun Board of Peace (BoP) telah ditandatangani sejak 22 Januari 2026, militer Israel tetap melakukan serangkaian serangan di Jalur Gaza. Di sisi lain, pihak BoP sendiri mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza. New York Times juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza (antaranews.com, 7/4/2026).
Menanggapi hal ini, Hamas menekankan tidak akan menerima usulan pelucutan senjata. Sumber internal pun menyebut, tidak ada kepercayaan terhadap tahap kedua tanpa komitmen nyata pada tahap pertama, juga mengingat rekam jejak penjajah Israel atas ketidakpatuhannya dalam mematuhi perjanjian (inilah.com, 12/4/2026).
Menyusul penolakan ini, serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza di dekat sebuah sekolah yang kini menampung para pengungsi Palestina pada Senin (6/4) dengan sedikitnya 10 orang tewas. “Warga berusaha mempertahankan rumah-rumah mereka, tetapi pasukan pendudukan langsung menargetkan mereka,” tutur Al-Maghazi kepada Reuters (news.detik.com, 7/4/2026).
Bukan hal baru jika Israel melanggar perjanjian. Sebelum ini pun, telah ada puluhan hingga ratusan pelanggaran yang dilakukan. Saat warga Palestina berulang kali merasa lega dengan gencatan senjata, berulang kali juga mereka dikecewakan oleh berbagai serangan. Maka, wajar jika kepercayaan menjadi hal yang sulit ditumbuhkan kembali.
Di samping itu, solusi demiliterisasi Gaza yang dicanangkan oleh BoP adalah solusi di luar nalar. Bagaimana tidak, pihak Gaza diminta untuk melucuti senjatanya, sementara Israel dengan militer terkuat tetap memegang kendali militer. Poin ini menuntut keamanan mutlak bagi Israel, sementara Palestina diminta menyerah tanpa syarat di bawah bayang-bayang kelaparan dan serangan terus menerus.
Bukan hal yang mengherankan sebenarnya. BoP sendiri diinisiasi oleh negara yang secara historis adalah pendukung dan pelindung Israel. Saat dibentuk Dewan Perdamaian ini pun, solusi-solusi yang diberikan cukup menampakkan ketidaknetralan serta ketidakadilannya terhadap Palestina. Dari sini kita melihat sulitnya berharap mendapatkan solusi tuntas dari BoP ini.
Islam, Solusi Perdamaian Palestina
Tak ada solusi lain dari penjajahan, selain mengusir penjajah dari tanah Palestina. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 19, “Jika mereka memerangi kalian maka perangilah mereka. Demikianlah balasan setimpal bagi kaum kafir.”
Hal ini mungkin menimbulkan tanda tanya besar: “Bagaimana cara mengusir penjajah? Bukankah selama ini, itu yang sedang diusahakan oleh rakyat Palestina, namun tak kunjung membuahkan hasil?”
Mirip tapi tak serupa. Selama ini Palestina memberikan perlawanan tanpa ada bantuan militer secara langsung dari negara lain. Ketika mereka berjuang meniadakan pertumpahan darah, rakyat di negara lain malah sibuk mengurusi benderanya. Kalaupun ada bantuan, itu hanya berupa bantuan kemanusiaan, pembangunan (ekonomi dan sosial) serta bantuan politik dan keamanan berupa dukungan diplomatik dan upaya perdamaian. Begitupun yang terjadi di negeri-negeri muslim. Mereka dibatasi oleh sekat-sekat nasionalisme dan seolah merasa cukup dengan bantuan kemanusiaan yang telah diberikan. Lalu, bagaimana seharusnya?
Dalam Islam, kaum muslim dipersatukan oleh institusi negara Islam, yaitu Khilafah. Dalam khilafah, tidak ada sekat nasionalisme. Yang ada adalah persatuan umat. Khilafah ini pula yang akan menghimpun seluruh potensi, sumber daya, dan kekuatan umat, termasuk militer di seluruh dunia. Saat umat bersatu, tentu menjadi suatu hal yang mudah untuk memukul mundur pasukan penjajah.
Selain kekuatan dari segi fisik, kaum muslim juga disertai dengan semangat jihad yang mengalir di setiap aliran darah. Saat penjajah menghindari mati, kaum muslim tidak takut mati. Hal ini tak lain karena keutamaan yang akan didapatkan para syuhada, sebagaimana yang terjadi juga di Palestina kini.
Alhasil, kememangan demi kemenangan bukanlah hal sulit. Di masa Rasulullah Saw., misalnya, kaum muslim bahkan berhasil mengalahkan musuh saat pasukannya lebih sedikit dari pihak lawan. Inilah kekuatan jiwa dan mental yang ada dalam diri kaum muslim, selain strategi perang, dan tentunya bantuan dari Allah Ta’ala.


