
Oleh: Rahmi Lubis
(Praktisi Pendidikan)
Linimasanews.id—Terbaru, Gubernur Sumatra Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution mendapatkan predikat pertama sebagai gubernur dengan kinerja terburuk melalui hasil survei terbaru platform media Muda Bicara ID dengan tingkat ketidakpuasan publik mencapai 35,09 persen (Waspada, 25/02/26).
Anehnya, hasil survey ini sudah diduga oleh masyarakat kota Medan. Menurut Pengamat Kebijakan Publik Elfenda Ananda menyatakan jejak rekam pemerintahan Bobby Nasution membekas buruk pada ingatan masyarakan kota Medan. Hal ini terkait dengan beberapa proyek yang diprakarsai oleh Bobby sebagai walikota dan gubernur. Salah satunya adalah Revitalisasi Lapangan Merdeka yang penuh polemik, Kantor Kejaksaan Medan yang dirobohkan, hingga proyek fenomenal “Lampu Pocong” yang dinyatakan gagal. Hal ini merupakan representatif masyarakat kota Medan atas kepemimpinan beliau.
Sungguh miris, predikat “Gubernur Terburuk” ternyata dianggap hal yang wajar oleh warga Medan. Rakyat masih merasakan keterpurukan yang sama dan permasalahan hidup yang tak kunjung usai. Pemimpin berganti namun persoalan tak pernah berganti. Mulai dari sektor ekonomi dengan besarnya pengangguran, sektor sosial yang makin merisaukan akan tingginya tingkat tawuran dan seks bebas di kalangan remaja, serta sektor hukum dengan munculnya berbagai kasus kriminalitas dan masih banyak lagi persoalan hidup lainnya. Wajar hasil survei yang dirilis oleh platform Muda Bicara ID yang menggunakan 400 responden dari seluruh Indonesia untuk isu kebijakan publik itu diabsahkan kebenarannya oleh masyarakat.
Pemimpin ala Sekularisme
Sistem kehidupan adalah sistem yang berkaitan dengan pola pikir dan pola sikap masyarakat sehingga aturan yang diterapkan bergantung pada pemikiran yang dibuat oleh pemimpin atau sekelompok yang mewakili masyarakat. Kehidupan saat ini menjadikan sekularisme sebagai akidah kehidupan. Pemisahan agama dari kehidupan hanya menerapkan nilai agama diterapkan di tempat peribadatan dan tidak berlaku bagi kehidupan umum. Inilah sistem kapitalisme yang sampai saat ini masih bernaung ditengah-tengah kehidupan kita.
Kepemimpinan yang berada pada sistem ini lahir dari karakter yang membuang aturan agama pada setiap kebijakan yang diterapkannya. Asas manfaat menjadi landasan utama dalam berbuat. Maka pemimpin yang berada pada sistem ini jelas merupakan pemimpin yang menjadikan ukuran perbuatan yang bersandarkan atas manfaat dan kepentingan. Lantas adakah yang salah pada sistem sekulerisme ini?
Hal inilah yang harusnya menjadi dasar pemikiran umat manusia. Apakah manusia yang serba terbatas, lemah, dan serba kurang mampu untuk menyelesaikan permasalahan hidupnya sendiri? Tanpa bantuan dari Sang Pencipta, hal itu jelas sia-sia. Sejatinya, Sang Penciptalah yang mengetahui kodrat manusia.
Lantas, masihkah kita berharap pada pemimpin yang lahir dari sistem sekularisme ini? Faktanya, 15 menteri dan wakilnya terjerat kasus korupsi di era pemerintahan Prabowo-Gibran dalam kurun waktu setahun (beritasatu.com, 21/8/25).
Hawa nafsu yang tak terikat oleh iman dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai pemimpin tidak akan muncul pada diri seorang pemimpin yang berada pada sistem sekulerisme ini. Kita harus berbenah diri akan pemahaman yang salah untuk mencari solusi yang solutif.
Pemimpin ala Islam
Islam hadir bukan sebagai agama melainkan juga sebagai sistem kehidupan yang paripurna. Sejatinya, Islam mengatur hubungan kepada sang Pencipta, hubungan pada diri sendiri, dan hubungan dengan orang lain. Inilah yang menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi kehidupan yang langsung berasal dari Sang Pencipta. Baik dan buruknya suatu perbuatan hanya berlandaskan hukum syariat bukan hawa nafsu atau kepentingan manusia.
Maka dari itu, syariat seharusnya menjadi dasar pemikiran umat terkhusus umat muslim. Permasalahan kehidupan yang dialami sejatinya mendapatkan jalan keluar dari sang pencipta. Solusi yang solutif karena bukan dari akal pemikiran manusia yang serba kurang.
Sejarah membuktikan pemimpin yang menjalankan Islam sebagai aturan dalam kebijakan dan menjadi satu-satunya sistem kehidupan telah diterapkan selama 14 abad memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kemajuan dunia. Contohnya saja pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tidak ada seorang pun yang mau menerima zakat dan sedekah. Pada saat itu, seorang petugas bernama Yahya bin Said mengumpulkan zakat di Afrika.
Meskipun niatnya adalah memberikan zakat kepada orang-orang miskin, Yahya tidak menemukan seorang pun yang membutuhkan bantuan tersebut. Hal ini dikarenakan rakyat berhasil keluar dari kemiskinan. Semua orang hidup dalam kondisi berkecukupan.
Tidak hanya di Afrika, tetapi juga di seluruh wilayah kekuasaan Islam, termasuk Irak dan Basrah. Tidak ada korupsi, tidak ada khianat, dan tidak ada kelalaian dalam hal kepemimpinan. Karena sejatinya, pemimpin yang lahir dalam sistem Islam menjadikan standar perbuatan akan keimanan dan ketakwaan sehingga pemimpin bertugas melayani dan mengurusi umat dan bukan dilayani. Wallahualam bisawab.


