
Oleh: dr. Erlian Fitri
Linimasanews.id—Putus asa, terisolasi, atau tidak mampu mengatasi tekanan hidup yang berat dengan pemicu utamanya meliputi bullying, konflik keluarga, putus cinta, masalah sekolah (tuntutan prestasi) serta mental depression adalah sekian dari puluhan penyebab yang digadang-gadang menjadi pemecah outbreaknya kasus suicide di kalangan remaja bahkan anak-anak saat ini. Di saat dunia mereka harusnya masih dipenuhi dengan kesenangan dalam zona nyaman yang disebut sebagai masa kecil adalah” tamasya dalam kehidupan,” mereka justru mengalami krisis akidah.
Namun, benarkah pokok dari semua permasalahan tingginya kasus bunuh diri yang saat ini terjadi? Secara fakta, dari 27 juta penduduk yang melakukan pemeriksaan CKG (Cek Kesehatan Gratis) pada tahun 2025. Kemenkes mencatat 4,8 persen atau 363.326 pelajar mengalami gejala deprtesi dan kecemasan dan jumlah ini kasusnya 5 kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia.
Peningkatan Relevan
Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisia RI sejak tahun 2023 ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia, angka ini melampaui kasus bunuh diri sepanjang 2022 (900 kasus ). Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang darurat mental Ilness, karena ketika seseorang dihinggapi masalah hidup pelik jalan pintasnya kematian. Bunuh diri seakan menjadi aktualisasi atas depresi yang sudah mencapai titik tertinggi, seakan hidup adalah tiada arti lagi.
Dari sekian banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang nekat bunuh diri, yang terbanyak adalah Depresi karena persoalan hidup yang tak kunjung usai, ini menandakan gambaran realitas generasi hari ini. Mereka cenderung mengambil short cut (jalan pintas) dengan suicide sebagai problem solving.
Mereka juga merupakan generasi yang mudah putus asa dan gampang menyerah dalam derasnya badai kehidupan. Walhasil, hopeless hingga mental illness menghinggap dalam alam bawah sadar mereka. Mereka mengasumsikan jika dalam tindakan bunuh diri akan menggantikan semua beban masalah dengan tidur yang tenang, sehingga otomatis akan melepas segala kepenatan dalam kehidupan.
Kenapa semua ini terjadi? Faktor utamanya adalah penerapan sistem kapitalisme sekuler yang gagal mewujudkan generasi yang kuat dan tangguh. Dalam sistem kapitalisme, kebebasan dalam mencapai kepuasan dalam materi adalah sumber kebahagiaan utama, bukan ridla Allah. Paradigma dan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat makin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal dengan hegemoni media kapitalisme global yang sarat akan hedonisme dunia semata sehingga membuat para generasi lupa akan tujuan hidup dengan visi tak hanya dunia tapi juga visi akhirat.
Pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam, sehingga parameter sukses diukur dari kesuksesan yang hanya bersifat materi. Otomatis generasi yang mental dan rapuh kebanyakan dialami oleh lingkungan keluarga fatherless, atau motherless, dan Indonesia termasuk negara Fatherless ketiga terbanyak didunia (Kehadiran mereka ada tapi seakan tiada).
Selain itu, peran negara adalah tak hanya sebatas membatasi konten di era digital internet yang banyak memberikan penggambaran tidak pantas mengenai bunuh diri sangatlah tinggi. Salah satu yang harus diperhatikan juga dalam kasus ini adalah “copycat suicide,” remaja yang mengalami kelabilan identitas akan secara mudah ¡¡mengambilnya sebagai panutan tanpa menyaringnya mana yang benar atau mana yang salah) tetapi harus mencabut permasalahan sampai ke akar masalahnya, yakni pemikiran dan gaya hidup kapitalisme sekuler juga harus dihilangkan. Akibat gempuran pemikiran inilah, generasi muda memiliki mental dan kepribadian yang rapuh dan lemah. Mereka kerap dijejali dengan kesenangan sesaat hingga lupa cara menjalani hidup dan menyelesaikan masalah dengan cara pandang Islam.
Solusi Paripurna
Menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak. Dengan akidah yang kuat, setiap anak memahami visi dan misi kehidupannya. Negara akan menerapkan kurikulum pendidikan berbasiskan akidah Islam. Sejarah Islam membuktikan bahwa kurikulum pendidikan Islam mampu melahirkan generasi kuat imannya, tangguh mentalnya dan cerdas akalnya.
Negara wajib memastikan para ibu menjalankan skewajibannya dengan baik, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, bukan mesin ekonomi seperti halnya dalam sistem kapitalisme yang malah menghadapkan para ibu dalam persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Walhasil penerapan sistem Islam kaffah akan membentuk individu bertakwa, masyarakat yang gemar berdakwah, dan negara yang benar-benar mengurusi umatnya. Dengan begitu, masalah bunuh diri akan tuntas karena setiap individu muslim dapat memahami hakikat dan jati dirinya sebagai hamba dengan menjadikan Islam sebagai jalan kehidupannya.


