
Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd. (Pendidik Generasi)
Linimasanews.id—Luka Gaza belum juga sembuh, tetapi tekanan baru terus datang. Di tengah reruntuhan rumah, tangis anak-anak yatim, dan antrean panjang bantuan kemanusiaan, muncul desakan agar Hamas melucuti senjatanya sebagai syarat rencana perdamaian Gaza (antaranews.com, 7/4/2026). Narasi ini dibungkus dengan istilah yang terdengar menenangkan: demiliterisasi. Namun, benarkah itu jalan damai?
Sebagai pendidik generasi, saya memandang persoalan ini bukan hanya isu politik internasional, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kezaliman sering dibungkus bahasa diplomasi. Ketika rakyat yang terjajah diminta menyerahkan alat pertahanannya, sementara penjajah tetap memegang senjata, maka yang sedang dibangun bukan perdamaian, melainkan penundukan.
Fakta di lapangan menunjukkan, meski gencatan senjata berkali-kali dibicarakan, serangan Zionis terus berlangsung. Bahkan, serangan rudal di dekat sekolah di Gaza kembali menewaskan warga sipil. Hamas juga mendesak dunia agar bertindak atas pelanggaran gencatan senjata, tetapi respons global tetap minim tindakan nyata.
Pertanyaannya, jika pihak penjajah terus menyerang, mengapa justru pihak yang bertahan diminta melucuti senjata?
Analisis Penyebab Masalah: Diplomasi Berat Sebelah dan Muslihat Barat
Fenomena demiliterisasi Gaza menunjukkan bahwa lembaga internasional dan poros kekuatan dunia tidak benar-benar netral. Mereka sering tampil sebagai mediator, tetapi arah kebijakannya condong kepada kepentingan Barat dan Zionis.
Pelucutan senjata bagi Gaza sejatinya adalah upaya melemahkan satu-satunya kekuatan yang masih ditakuti penjajah: perlawanan rakyat. Jika rakyat Gaza kehilangan kemampuan bertahan, maka penjajahan akan semakin mudah dilanggengkan.
Lebih jauh, ini bukan hanya perang fisik, tetapi juga perang pemikiran. Umat digiring untuk menganggap bahwa perlawanan adalah sumber masalah, sedangkan menyerah disebut sebagai solusi. Padahal sejarah menunjukkan, banyak perjanjian damai justru berakhir dengan pengkhianatan baru.
Allah Swt. berfirman:
“Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan barang-barangmu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.” (QS. an-Nisa: 102)
Ayat ini memberi pelajaran bahwa upaya melucuti kekuatan kaum Muslimin bukan hal baru. Ia adalah strategi lama agar umat mudah ditundukkan. Dalam konteks hari ini, demiliterisasi menjadi bahasa halus untuk menyingkirkan hak rakyat tertindas membela dirinya sendiri.
Dampak bagi Generasi Masa Depan
Jika dunia membiarkan Gaza dipaksa menyerah, maka generasi muda akan belajar satu pesan berbahaya. Bahwa yang kuat bebas berbuat apa saja, sedangkan yang lemah harus diam dan menerima nasib.
Anak-anak Muslim di berbagai negeri akan tumbuh menyaksikan bahwa darah rakyat sipil tidak cukup berharga untuk dibela. Mereka bisa kehilangan kepercayaan pada hukum internasional, pada para pemimpin negeri Muslim, bahkan pada konsep keadilan itu sendiri.
Sebaliknya, generasi juga bisa mengambil pelajaran sebaliknya: bahwa kemuliaan tidak lahir dari tunduk kepada penjajah, tetapi dari keberanian mempertahankan hak. Karena itu, umat membutuhkan pendidikan politik Islam yang benar agar generasi tidak mudah tertipu propaganda.
Sebagai pendidik, saya melihat bahwa membela Palestina bukan hanya urusan geografis, tetapi juga urusan membentuk karakter generasi: berani, peduli, dan memiliki keberpihakan pada yang benar.
Solusi Tuntas: Persatuan Umat dan Sistem Islam Kaffah
Masalah Palestina tidak akan selesai hanya dengan meja perundingan yang dikendalikan kekuatan besar. Selama akar penjajahan tidak dicabut, konflik akan terus berulang. Karena itu, solusi mendasar bukan sekadar jeda perang, melainkan pembebasan.
Islam memandang Palestina sebagai bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga kehormatannya. Maka, dibutuhkan kepemimpinan umat yang kuat dan mandiri, yaitu penerapan sistem Islam kaffah dalam institusi Khilafah.
Dalam sistem ini, negeri-negeri Muslim tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi bersatu dalam satu kepemimpinan. Kekuatan militer umat akan digerakkan untuk melindungi rakyat Gaza dan mengusir penjajah dari bumi Palestina. Kekuatan kolektif ini bukan sekadar simbol, tetapi kemampuan nyata untuk menghentikan agresi.
Pemimpin dalam Islam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (perisai/pelindung). Ia tidak akan berdiam diri melihat darah kaum Muslimin tertumpah, tetapi berdiri di depan menjaga keselamatan umat.
Selain kekuatan militer, umat juga membutuhkan dakwah ideologis yang terus menyadarkan bahwa solusi bukan datang dari Washington, PBB, atau forum global yang sarat kepentingan, tetapi dari kembali kepada syariat Allah. Tanpa kesadaran ini, umat akan terus menjadi korban tekanan politik dunia.
Demiliterisasi Gaza pada hakikatnya adalah racun yang dibungkus madu perdamaian. Menyerahkan senjata saat penjajah masih bercokol adalah bunuh diri politik dan kemanusiaan.
Sudah saatnya umat Islam berhenti menggantungkan harapan pada tatanan dunia yang rusak. Kita membutuhkan sistem yang berdaulat, pemimpin yang melindungi, dan persatuan umat yang nyata. Dengan sistem Islam kaffah, kekuatan umat akan kembali menjadi pelindung bagi yang tertindas, dan Gaza tidak lagi berdiri sendirian. Karena sejatinya, perdamaian tidak lahir dari penyerahan diri, tetapi dari tegaknya keadilan.


