
Oleh: Rifdah Nisa
Ipteng—Setelah Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke Madinah. Periode ini merupakan berdirinya masyarakat Islam serta negara Islam setelah terbentuk kelompok Islam di Makkah. Masyarakat Islam di Madinah menjadi pancaran langsung dari Islam sekaligus hasil dari pendidikan Islam yang turun dari sisi Allah Swt. Pendidikan ini berupa syariat Islam yang di dalamnya terdapat perintah, larangan, pengarahan dan nasihat yang bersumber dari wahyu.
Madinah adalah tempat pertemuan dua kelompok besar Yahudi dan Anshor yang terdiri dari dua kabilah Aus dan Khazraj ditambah kabilah-kabilah Muhajirin. Dengan demikian, Madinah merupakan titik pertemuan antarkabilah. Kondisi ini menuntut perilaku toleransi dari sisi ekonomi dan sosial.
Inilah yang membuat ajaran nabi diterima di kota tersebut. Apalagi masyarakat Arab dan Yahudi seringkali mendengar hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, wahyu, hari kiamat, serta surga dan neraka. Hal tersebut merupakan istilah-istilah yang disampaikan dalam agama nabi sebelumnya, bukan hal yang asing bagi masyarakat Madinah saat itu.
Perkembangan Islam di Madinah ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan pendidikan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Nabi meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam sebagai berikut:
Pertama, mendirikan masjid. Tujuan Nabi mendirikan masjid adalah mempersatukan umat Islam dalam satu majelis. Sehingga umat Islam bisa melakukan salat jemaah secara teratur, mengadili perkara-perkara, mengkaji Islam, dan bermusyawarah. Masjid berperan penting untuk mempersatukan kaum muslim dan mempererat tapi ukhuwah Islam.
Kedua, mempersatukan dan mempersaudarakan kaum muslim. Nabi mempersatukan kelompok-kelompok Islam yang terdiri atas muhajirin dan Anshar. Dengan cara ini, beliau telah menciptakan suatu pertalian berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang berdasarkan kesukuan seperti sebelumnya.
Ketiga, perjanjian yang ditujukan antara muslim dan nonmuslim. Dalam hal ini, Nabi hendak menciptakan ketundukan orang-orang Yahudi terhadap syariat Islam dan menghilangkan hambatan bersifat fisik yang menghalangi aktivitas dakwah politis.
Keempat, meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan peradilan dalam bingkai sistem Islam. Inilah contoh kepemimpinan Nabi dalam membangun sebuah negara dan pemerintahan Islam yang kuat. Kepemimpinan ini berlanjut hingga masa kekhilafahan yang kelak menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam ke seluruh muka bumi. Namun sayang role model kepemimpinan nabi tidak tampak di negeri ini.
Pemimpin negeri ini hanya berambisi untuk meraih kekuasaan tanpa memahami tanggung jawab kepemimpinan yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Pemimpin yang tidak menerapkan aturan Islam akan mengarah pada kepada kepemimpinan yang zalim, kerusakan dan ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat sebagaimana yang terjadi saat ini.
Akidah Islam menjadi dasar dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak boleh tunduk pada akidah lain selain Islam. Hal ini dicontohkan sebagaimana dakwah nabi yang ditujukan pada kaisar Heraklius dari Dinasti Romawi Timur atau kaisar Bizantium. Rasulullah menunjuk sahabat untuk membawa surat yang ditujukan kepada kaisar Heraklius. Adapun isi surat tersebut adalah; “Kepada Heraklius, Raja Romawi … (Keselamatan yang mengikuti petunjuk, selanjutnya) saya mengajak anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam. Niscaya anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepadamu dua kali. Jika anda berpaling (tidak menerima) maka anda menanggung semua dosa kaum asiriyin.
“Katakanlah, Hai ahli kitab matilah berpegang pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka “Saksikanlah bahwa kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”
Demikianlah contoh kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi pemimpin agama lain. Beliau mengajak pada Islam dan menyampaikan kebenaran Islam. Bukan sebaliknya, dengan menyanjung-nyanjung pemimpin agama lain dengan dalih toleransi. Wallahualam bisawab.


