
Oleh: Lena BB Tamara
Linimasanews.id—Lembaga survei Indikator mengeluarkan hasil survei terkait keyakinan publik terhadap pemerintahan Prabowo 5 tahun ke depan. Mayoritas responden meyakini Prabowo bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik. Survei dilakukan pada periode 22-29 September 2024. Dengan jumlah responden sebanyak 1.200 warga Indonesia.
Adapun sampel tambahan diambil dari 11 provinsi terbesar, yakni Sumut, Riau, Sumsel, Lampung, Banten, Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulsel. Masing-masing wilayah jumlah respondennya 300, sementara Sumbar menjadi 200 responden. Dengan metode survei multistage random sampling dan margin of error sekitar 2,3% dengan tingkat kepercayaan 95 persen (detiknews.com, 04/10/2024).
Menjadi pertanyaan, benarkah kenyataan yang akan terjadi sebagaimana hasil survey tersebut? Akankah keadaan negeri ini menjadi lebih baik dengan bergantinya pemimpin, sementara sistem yang diterapkan masih dipertahankan yaitu sistem pemerintahan demokrasi kapitalis?
Namun pada kenyataannya, kita bisa meyakini bahwa dengan bergantinya pemimpin belum tentu bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi negeri ini. Selama negeri ini masih tetap memakai sistem yang salah yaitu sistem demokrasi kapitalis, maka keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat hanyalah mimpi yang takkan pernah terwujud. Hal ini terbukti belum dimulai saja pemerintahan Prabowo, mereka sudah lebih dulu bagi-bagi jatah kursi pemerintahan. Bukan nasib rakyat yang diutamakan, tetapi lebih memikirkan kepentingan golongan yaitu kepentingan partai pengusungnya.
Jangan pernah berharap kehidupan rakyat akan lebih baik dalam sistem ini! Pasalnya, presiden yang seyogianya sebagai penguasa yang harusnya bertugas mengurusi rakyat, tetapi dalam pemerintahan saat ini hanya dianggap sebagai petugas partai. Mereka mewakili partainya untuk duduk dalam kursi kepemimpinan yang akan menjaga kepentingan partainya bukan kepentingan rakyat.
Para penguasa hanya memahami bahwa merekalah yang berkuasa sehingga merasa leluasa untuk bertindak demi kepentingan golongannya. Namun, mereka lupa bahwa sebesar apa pun kuasa mereka, ada yang lebih kuasa yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah lupa dengan perilaku mereka. Sebagaiman Allah mengatakan dalam surah Ibrahim ayat 42,
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَا فِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَ بْصَارُ
“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
Pada kenyataannya, berganti pemimpin, tetapi sistemnya masih dipertahankan, maka sudah dapat dipastikan tidak akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Sistem pemerintahan demokrasi yang diagung-agungkan negeri ini tidak akan pernah berpihak pada rakyat. “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” hanya jargon angin segar untuk penghiburan semata. Pada kenyataannya, demokrasi hanya bermuara pada kekuasaan oligarki. Sudah berulang kali kita ganti presiden, tetapi pada kenyataannya negeri ini makin terpuruk. Kesejahteraan juga tidak pernah terwujud bahkan ketimpangan sosial makin dalam.
Seharusnya masyarakat mulai menyadari bahwa sejak mulai negara ini merdeka sampai detik ini, pergantian pemimpin sudah sering terjadi, tetapi tidak ada yang membawa arah perubahan dan kebangkitan yang hakiki. Masih saja terus berharap dengan sistem demokrasi, di mana ujung-ujungnya akan membawa kekecewaan bagi rakyat. Memang pada dasarnya mayoritas rakyat sudah menginginkan perubahan, tetapi perubahan seperti apa yang diinginkan, semua masih samar. Mereka sudah paham ada problem besar yang melingkupi kehidupan, tetapi mereka gagal membaca akar dan tidak tahu konstruksi kehidupan ideal.
Mereka pun gagap memahami peta jalan mewujudkan tujuan sehingga pesta demokrasi lima tahunan, dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju perubahan. Padahal, demokrasi hanya memberi ruang bagi pergantian orang, bukan mengubah sistem aturan hidup sekuler kapitalisme neoliberal yang melahirkan berbagai keburukan dan merupakan akar persoalan dari persoalan yang terjadi. Sudah saatnya umat Islam meninggalkan pragmatisme, juga sistem demokrasi yang terbukti hanya melahirkan banyak persoalan bagi umat ini. Sebaliknya, marilah bersegera untuk mengamalkan, menerapkan, dan menegakkan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Jadi, hasil survei yang terkait keyakinan publik terhadap pemerintahan prabowo 5 tahun ke depan hanyalah sebagai pil penenang saja. Padahal sistem pemerintahannya masih sama yaitu sistem kapitalis demokrasi. Di mana sistem ini sudah dapat dipastikan akan memberikan hasil yang sama.
Maka pentingnya dakwah politik Islam yang ideologis untuk mengembalikan sistem Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar umat tidak lagi berharap dengan ganti pemimpin atau ganti rezim akan lebih baik, tetapi menyuarakan ganti sistem. Buang jauh sistem demokrasi kapitalisme, terapkan sistem Islam! Karena sejatinya, demokrasi adalah sistem dari produk akal manusia yang tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Sementara, sistem pemerintahan Islam adalah sistem yang diwariskan oleh Rasulullah saw. yang diperintahkan Allah Swt. Sistem ini telah terbukti, penerapannya membawa rahmat bagi seluruh alam dan terbukti membawa perubahan yang baik sebagaimana dengan Islam telah menaikkan derajat bangsa Arab dari yang kabilah-kabilah menjadi sebuah negara adidaya yang berkuasa dan menjadi bangsa yang disegani.


