
Oleh. Desi Ummu Hanin
(Kontributor MazayaPost.com)
Linimasanews.id—Genosida yang dialami oleh saudara kita di Gaza masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan serangan yang dilakukan oleh Zionis Yahudi kian hari kian membabi buta. Kejahatan Zionis Yahudi makin melanggar perikemanusiaan dan makin menunjukkan kebiadaban yang sangat luar biasa.
Hampir setiap hari kita menyaksikan secara langsung kondisi yang sangat menyayat hati. Rakyat di bombardir siang malam, tak peduli laki-laki ataupun perempuan, bahkan anak-anak juga turut menjadi sasaran. Awal bulan ini, kita kembali menyaksikan Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang juga berprofesi sebagai dokter, Marwan Al-Sultan, tewas dalam serangan udara Israel, Rabu (02/07). Dalam serangan itu, istri dan beberapa anaknya juga meninggal (bbc.com, 02/07/2025).
Meski rakyat terus bergerak dan menunjukkan pembelaan, namun penguasa dunia tetap bungkam. Bahkan yang semakin menyayat hati adalah ketika kita saksikan tingkah penguasa negeri Muslim justru bergandeng tangan dengan Zionis laknatullah. Kita bisa melihat penguasa negeri Arab satu-persatu mulai menjalin hubungan dengan diplomatik dengan kaum Zionis, termasuk menjalin hubungan perdagangan, seperti Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Hal ini menjadi ironi, bukan pertolongan yang mereka berikan kepada saudara mereka di Gaza, namun justru sebuah pengkhianatan.
Ketidakpahaman akan akar masalah Palestina dan kuatnya cinta pada kedudukan dan kekuasaan membuat para penguasa negeri muslim buta mata dan hatinya, sehingga mereka lalai bahkan lupa akan hubungan persaudaraan atas dasar iman dengan saudaranya di Gaza.
Kondisi ini akan terus berlangsung, jika umat tidak memahami betul akar masalah Palestina serta solusi hakiki yang bisa menolong dan membebaskan saudara kita di Palestina. Oleh karena itu, upaya untuk menunjukkan akar masalah persoalan yang dihadapi oleh saudara kita di Palestina harus terus dilakukan. Kaum muslim harus menyadari bahwa akar masalah Palestina adalah adanya pendudukan Zionis Yahudi yang didukung oleh negara-negara Barat. Maka, untuk menolong dan membebaskan saudara kita dari penjajahan adalah dengan cara mlenyapkan para penjajah serta antek-anteknya.
Namun, pelenyapan entitas Zionis itu akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin jika kita hanya berharap kepada para pemimpin negara muslim saat ini. Kita tahu bahwa negeri muslim saat ini berbentuk nation state (negara bangsa) yang hanya mau mengurusi kepentingan bangsanya sendiri. Lantas bagaimana dengan kepentingan bangsa Palestina? Itu urusan mereka. Nation state merasa cukup mengirim bantuan pangan saja. Atau mengecam saja tanpa tindakan nyata melawan kekejian, kejahatan dan pembantaian. Bahkan mereka diam dan menghalangi pasukan yang mereka miliki untuk bisa menolong Gaza.
Hal ini makin diperparah dengan kenyataan bahwa negeri-negeri mayoritas muslim semuanya adalah negara sekuler, yang mengabdi dan takut pada Amerika yang nyata-nyata melindungi Zionis Israel.
Oleh karena itu, harapan bagi Palestina saat ini bukanlah solusi dua negara dan kompromi politik yang lain, tetapi solusi bagi Palestina hanya satu, yaitu kekuatan muslim glogal yang terlepas dari dominasi Amerika, yaitu Khilafah Islamiah. Khilafah inilah yang akan menyatukan umat, menyatukan kekuatan negeri-negeri muslim untuk mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina sebagaimana dahulu Salahuddin membebaskan Al-Quds dari cengkeraman Salibis. Hanya jihad dari Khilafah yang akan mampu membebaskan bumi Palestina dari penjajahan Zionus Israel.
Amerika, Israel, dan Eropa paham benar bahwa hanya kekuatan global Khilafah yang bisa membebaskan kaum muslim dari dominasi mereka. Inilah yang harus terus digaungkan oleh kaum muslim, khususnya para pengemban dakwah. Sehingga akan kita dapati umat yang semakin memahami bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa menolong dan membebaskan saudara kita di Palestina adalah kekuatan Islam yakni dengan jihad dan Khilafah.


