
Oleh: Emmy Harti Haryuni
Linimasanews.id—Ada masa ketika kesunyian terasa menusuk hati, tidak ada siapa pun yang menemani dan menolong. Bola mata kerap hanya menatap kosong ke atas langit di tengah malam, seakan seluruh beban berat kehidupan ditimpakan pada bahu dan merasa menanggung sendiri semua kepiluan hidup
Saat takdir menyakitkan menghantam mimpi dan cita-cita tepat mengenai ulu hati, segala ikhtiar, pengorbanan, keringat, darah, dan air mata telah tercurah, jatuh bangun, babak belur, siang malam perjuangan tak mengenal waktu, doa tak boleh berhenti dipanjatkan di atas sajadah dalam keheningan malam. Di antara linangan air mata, tangan menengadah memohon pertolongan, kelancaran, kesembuhan, kebahagiaan, rezeki, kesetiaan, sakinah, mawaddah, warahmah, dan lain sebagainya.
Harapan dan kebahagian yang dinanti kadang tak kunjung datang, malah berakhir dengan kekecewaan dan enyisakan luka hati yang sangat menyakitkan. Meski pedihnya kehilangan, ditinggalkan, pengkhianatan, tidak dihargai, kekurangan finansial yang terus mencekik, dan lain sebagainya tak ada satu pun orang yang memahaminya, namun percayalah, Allah tak pernah salah menulis takdir hidup kita.
Jika hari ini hidup terasa gelap dan pekat bagai di dalam perut ikan seperti takdir Nabi Yunus a.s. atau gelapnya hidup seperti di dalam sumur seperti kisah Nabi Yusuf a.s., janganlah merasa hidup ini sia-sia dan tak ada harapan menuju kebahagiaan. Sekali-kali jangan menganggap gelapnya takdir hidup kita sebagai keburukan dari Allah. Jangan!
Segala yang terjadi pada hidup kita itu hendaklah dilihat dengan kaca mata Islam kafah, bukan dengan kaca mata sekularisme. Sekularisme kapitalisme menganggap kekurangan, kehilangan, kesakitan, kepedihan, luka, dan semisalnya sebagai sesuatu yang tercela, keburukan, atau bahkan kutukan karena Allah membenci kita. Sementara, kelimpahan harta, anak, jabatan, gelar, tercapainya segala keinginan dan ambisi, dianggap sebagai tanda Allah mencintai. Akibatnya, bila tidak mendapatkan segala standar keberhasilan dunia tersebut, maka kesedihan, depresi, frustasi, dan luka-lah yang dirasakan.
Padahal, hal bukan berada dalam kekuasaan kita, bukanlah wewenang kita. Wilayah manusia hanyalah wilayah usaha, sementara terkait wilayah hasil, manusia sama sekali tidak memiliki otoritas.
Amanah
Apa pun yang bersama kita adalah amanah semata, bukan kepemilikan mutlak. Segalanya milik Allah Azza wa Jala, jangan sekali-kali memalsukan sertifikat kepemilikan walau kita sangat mencintai sesuatu atau seseorang itu. Allah-lah yang berhak mengambil dan berbuat apa pun pada segala yang kita cintai di mana pun dan kapan pun. Allah tidak perlu menunggu manusia siap atau tidak ditimpa kepedihan.
Rasulullah saw. paling banyak ditimpa kepedihan di dunia ini. Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya tingginya pahala bersamaan dengan tingginya ujian, dan sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa rida, maka baginya keridhaan Allah. Barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Allah Sang Pemilik Segalanya hendak menguji apakah hamba-Nya masih menyembah dengan takwa walaupun ditimpa kepedihan yang menyakitkan, ataukah justru berpaling dari-Nya saat ditimpa kesedihan akibat hasil tidak sesuai ekspektasinya. Sungguh Allah Allah hanya menghendaki manusia percaya pada-Nya, rida menerima segala takdir karena semua itu membawa kebaikan pada diri kita.
Allah menimpakan takdir yang pedih dan menyakitkan itu sama sekali bukan untuk menghancurkan atau melemahkan kita, tetapi justru untuk menguatkan hidup kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ujian membuat manusia sadar betapa rapuh dan lemahnya dunia ini, tidak bisa dijadikan sandaran. Maka jangan sandarkan kebahagiaan pada dunia, baik itu harta, pasangan hidup, anak, jabatan, dan lain sebagainya.
Allah berfirman, “Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Allah telah menakar segala cobaan hidup yang menimpa seorang hamba tidak pernah melebihi kemampuannya. Takdir hidup yang menyakitkan di dunia ini semua berada dalam batas yang pasti bisa dilewati hamba-Nya.
Allah juga berfirman, “Dan bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Allah mengetahui setiap tetes air mata dan perjuangan manusia menanggung beratnya ujian hidup. Percayalah, saat Allah bersama kita maka seperti apa pun badai yang menerpa, tidak akan menghancurkan iman kita. Justru setelah badai berlalu, kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Allah berfirman, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Allah tidak pernah mengingkari janji bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan yang menerpa ada kemudahan. Kemudahan itu bukan hanya berarti berubahnya kondisi sempit yang sedang menimpa, tapi juga berarti kondisi nafsiah maupun aqliyah kita yang berubah menjadi lebih baik.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, dan tidaklah kesakitan, dan tidaklah kesedihan, dan tidaklah kecemasan, dan tidaklah gangguan atau rasa gundah gulana, sampai duri yang menusuknya sekalipun, kecuali Allah akan menghilangkan dengannya sebagian dosa-dosanya itu.” (HR. Muslim)
Lihatlah, semua yang menimpa seorang muslim adalah kebaikan. Sekalipun tampak menyakitkan, tetapi Allah hendak mensucikan, meningkatkan derajat iman kita, hingga kita berjalan di muka bumi ini tanpa dosa.
Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibahku ini dan berilah ganti untukku yang lebih baik.” (HR. Muslim)
Itulah ucapan yang dituntun Islam dengan syariat-Nya yang sempurna saat kita ditimpa takdir menyakitkan yang di luar kekuasaan kita. Ada ganti yang lebih baik bila kita rida menerima takdir. Ganti yang lebih baik itu bukan hanya seseorang, tapi juga kondisi kita yang lebih baik, keimanan yang lebih kokoh jiwa yang lebih dewasa, lebih lembut, lebih penyayang pada sesama, lebih sabar, lebih tabah, dan lebih dekat pada Allah karena yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Oleh karena itu, bila saat ini ada air mata yang masih membasahi pipi karena sedang kehilangan, ditinggalkan, sedih, luka, dan lain sebagainya, tetaplah menjadi pribadi yang baik! Jangan sedikit pun putus asa dari rahmat Allah!


