
Oleh: Neti Erawati (Praktisi Pendidikan)
Linimasanews.id—Generasi zilenial (gen Z) saat ini mengalami krisis resistensi, kecemasan akan masa depan dan keberlangsungan hidupnya. Kondisi ini tidak hanya dialami di dalam negeri, melainkan merata di seluruh dunia. Ketidakpastian karir dan masa depan membuat para pemuda menjadi generasi yang skeptis. Gen Z yang merupakan generasi digital native yang kehidupannya sudah dibarengi oleh teknologi sejak lahir ini seperti kehilangan arah dalam hidupnya (kompas.com, 25/5/2026).
Pengaruh media, tekanan sosial, sulitnya pekerjaan, lingkungan yang buruk, krisis multidimensi yang melanda negeri di semua bidang kehidupan, seperti naiknya harga dolar dibarengi dengan melemahnya nilai tukar rupiah, banyaknya perusahaan yang mulai merumahkan pekerjanya, dan kondisi sosial masyarakat yang rusak, semua itu membuat para pemuda kehilangan jati diri, mengalamai gangguan mental dan kecemasan. Indonesia merupakan penyumbang terbesar dari pemuda yang mengalamai gangguan mental dan kecemasan.
Padahal, para pemuda mempunyai energi besar. Mereka seharusnya disibukkan dengan keingintahuan, dan kemauan menuntut ilmu setinggi langit. Energi yang besar merupakan modal bagi dirinya untuk menjajaki dunia dan menjadi pemimpin di dalamnya.
Pemuda sering disebut sebagai pembangun peradaban. Apabila saat ini pemuda yang ada mengalami krisis multidimensi yang cukup kompleks, lantas peradaban apa yang akan mereka bangun di kemudian hari?
Sekuler
Dalam kehidupan sekuler kapitalilstik, potensi pemuda dilemahkan dengan adanya pemahaman mengenai food, fashion dan musik yang melenakan para pemuda hingga mereka disibukkan dengan hal yang tidak berguna, bahkan berbahaya bagi masa depan mereka. Pelemahan ini tidak datang begitu saja, melainkan terstruktur secara rapi di bawah naungan sistem kapitalisme. Pelemahan para pemuda merupakan awal dari kehancuran sebuah peradaban. Lihat saja saat ini, para pemuda mulai kehilangan arah dan tujuan hidupnya.
Sementara itu, gambaran generasi gemilang pernah ada di 14 abad yang lalu. Pemuda era itu disibukkan dengan menuntut ilmu, mempelajari dunia, dan menyumbangkan keahliannya untuk masyarakat luas. Sedangkan negara memberikan semua fasilitas yang ada untuk kemajuan tersebut.
Itulah peradaban Islam yang gemilang. Saat itu, pemuda sangat diperhatikan oleh negara. Potensi mereka yang begitu besar diberikan sepenuhnya untuk kemajuan ilmu dan teknologi. Di samping itu, mereka pun termasuk orang-orang yang paling taat terhadap agamanya.
Islam memberikan peluang besar terhadap para pemuda untuk berkarya dan berjasa, tanpa meninggalkan kewajiban mereka sebagai hamba Allah. Mereka ditempa dan dididik sedemikian rupa sehingga mereka siap bertahan hidup di masyarakat, bahkan di dunia. Tidak ada cerita seperti kondisi saat ini, yang pemudanya mengalamai stres, bahkan kebingungan dengan masa depan mereka sendiri.
Karena itu, kehadiran negara sangat penting dalam melayani dan melindungi rakyatnya, tak terkecuali para pemuda. Negara harus menjamin pemenuhan hidup yang layak dan adil bagi mereka, sehingga para pemuda akan bangkit dengan potensi yang ada dalam dirinya.
Pemuda harus disadarkan akan hal demikian bahwa sistem kapitalisme hanya akan menyengsarakan mereka dan manusia pada umumnya. Mereka hanya akan hidup sejahtera dalam naungan sistem Islam yang akan melejitkan potensi kepemudaan mereka dan akan menyejahterakan rakyat dengan adil agar masa depan emas tidak hanya sekadar khayalan, melainkan kenyataan yang akan segera tiba.


