
Oleh. Ulfa Ni’ mah S.Si.
Linimasanews.id—Kembali, moda transportasi kelautan mengalami kecelakaan. Virgo Transportasi 8 terbalik di perairan Laut Jawa pada Minggu dini hari. Kapal yang mengangkut sejumlah 243 penumpang dan kru serta 89 kendaraan hingga kini masih terus dilakukan proses evakuasi terhadap korban. 108 orang ditemukan selamat, enam orang meninggal dunia dan 129 orang masih dalam pencarian.
Dugaan sementara penyebab kecelakaan Virgo Transportasi 8 belum diketahui pasti, masih menunggu penyelidikan KNKT. Kepala KSOP Utama Tanjung Perak Surabaya Agustinus Main menyatakan bahwa kondisi teknis kapal serta nahkoda dan kru telah memenuhi persyaratan kecelakaan. Begitu pula kondisi cuaca di Laut Jawa dengan ketinggian ombak 1,5-2 meter dinilai masih dapat dilewati kapal dengan ukuran grosston 8.540 (Kompas.co 13/09/2026).
Kelola Ulang Moda Transportasi Jaminan Keselamatan
Memang benar, kapal Virgo telah dinyatakan layak oleh otoritas. Namun mengingat usianya yang cukup tua, dibangun pada tahun 1987( 39 tahun) dan medan operasi kapal sebelumnya dominan berlayar di laut yang memiliki medan ombak sangat tenang dan kecil. Seharusnya menjadi perhatian utama pihak otoritas.
Pasalnya kapal Virgo Transport
didesain dengan lambung dan stabilitas kapal yang sejak awal memang di rancang khusus (-short sea Coastal ferry-) untuk menoleransi sifat gelombang yang aman dan teduh, bukan untuk menghadapi gelombang laut dalam.
Hal ini tentu harus menjadi pertimbangan pihak otoritas bahwa saat kapal Virgo transport 8 di beri izin syahkelaikan beroperasi di perairan laut Jawa yang lepas dengan ombak yang cukup tinggi apakah cukup mampu atau tidak. Nyatanya saat menghadapi cuaca buruk, ombak yang cukup tinggi menyebabkan kecelakaan, kapal Virgo mengalami kemiringan dan akhirnya tenggelam. Jelas ini adalah pengabaian dan bisa masuk kategori bentuk kesengajaan/ kelalaian dari faktor manusia bukan sekedar faktor teknis atau cuaca.
Mengutip pernyataan pakar transportasi laut dan Dekan fakultas teknologi kelautan, Institut Teknologi Surabaya, Setyo Nugroho, menyebut faktor manusia bertanggung jawab paling besar atas mayoritas kecelakaan kapal di Indonesia (Media Indonesia, 13/09/2026).
Alumnus Magister Delft University of technologi, Belanda juga menyatakan kelalaian ini berwujud dari mulai kurangnya pemeliharaan atas mesin sampai dengan tidak diperhitungkannya stabilitas muatan. Dari itu semua, dominan 80 ℅ faktor muatan yang tidak ditangani dengan benar.
Kapitalisasi Industri Transportasi
Jika ditelisik lebih dalam, sejujurnya karut-marut pengaturan moda transportasi yang terjadi di negara kita karena bersumber dari pandangan kapitalis yang menempatkan negara hanya berfungsi sebagai legislator sedangkan yang bertindak sebagai operator malah diserahkan kepada mekanisme pasar. Walhasil, layanan transportasi dikelola swasta atau pemerintah dalam kaca mata komersil. Ujungnya penumpang harus merogoh kocek dalam untuk transportasi publik namun minim layanan yang memadai.
Kejadian ini bukanlah sekali dua kali tapi sudah teramat sering kecelakaan terjadi namun sayangnya tak membuat negara untuk bertindak lebih gigih memperbaiki kondisi ini. Dunia transportasi telah dipandang sebuah industri, kepemilikanya telah dialiihkan kepada swasta atau perusahaan yang otomatis lebih kental aroma bisnis untung rugi bukan pelayanan lagi.
Dari kejadian tersebut, jelas rakyat bukanlah prioritas utama. Keselamatan, keamanan, dan kenyamanan dalam moda transportasi publik kerap sulit didapatkan karena infrastruktur transportasi tidaklah dikuasai dan dikelola oleh negara, namun di tangan swasta.
Islam Membangun Infrastruktur Transportasi yang Strategis
Islam memiliki perhatian utama dalam pengelolaan infrastruktur transportasi. Prinsip yang diterapkan berpijak pada 3 pedoman. Pertama, pembangunan infrastruktur adalah tanggung jawab negara, dan tidak boleh diserahkan kepada swasta. Kedua, tata kelola ulang wilayah strategis dengan perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan transportasi. Sebagai contoh saat Baghdad dijadikan ibukota kekhilafahan, maka setiap bagian kota diproyeksikan hanya untuk jumlah penduduk tertentu. Di kota tersebut dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki laki dan perempuan. Dilengkapi pula dengan pemakaman umum dan tempat pengelolaan sampah. Artinya warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan, menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar yang semuanya memiliki kualitas yang standar.
Ketiga, negara membangun insfrastruktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dimiliki. Teknologi yang ada termasuk teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga alat transportasi nya itu sendiri.
Teknologi navigasi mutlak diperlukan sehingga perjalanan terjamin sisi keamanan. Teknologi dan manajemen fisik juga sangat diperhatikan. Sehingga jarak tempuh bisa semakin cepat, nyaman dan aman. Perjalanan haji kini menjadi lancar berkat pengembangan teknologi di masa daulah khilafah.
Khilafah Utsmaniyah hingga abad ke-19 masih konsisten mengembangkan infrastruktur transportasi untuk perjalanan haji. Tahun 1900M Sultan Abdul Hamid II mencanangkan proyek Hejaz Railway, jalur kereta yang terbentang dari istambul, ibukota khilafah hingga Makkah, melewati Damaskus, Jerussalem dan Madinah. Dengan proyek ini, dari Istambul ke Makkah semula biasanya ditempuh 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari.
Ini artinya negara berperan sebagai institusi yang menerapkan Islam dan menyediakan infrastruktur transportasi yang aman, memadai dengan perkembangan teknologi. Semua itu bisa terpenuhi saat sistem ekonomi Islam dijalankan di atas pijakan pengelolaan ekonomi Islam yang benar berdasarkan aturan Allah Swt. Pengaturan kepemilikan dengan benar, pengelolaan berdasar syariat Islam dan pendistribusian yang merata maka akan menjamin pemenuhan kebutuhan sekaligus keselamatan.
Masyhur kata-kata Khalifah Umar bin Khattab ra, “Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Swt., “Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”
Masyaallah, sejarah ini mencatat bukan hanya manusia yang dilayani tapi hewan hewan pun diperhatikan keselamatannya. Hewan ikut mendapatkan perlakuan yang baik.
Berbeda dengan nasib rakyat saat ini, dalam sistem kapitalisme, tiap hari kita menyaksikan manusia berdesak-desakan berhimpitan di dalam gerbong kereta api, kapal layar yang penuh muatan dengn risiko nyawa melayang. Namun, fakta yang terjadi jiwa para penguasa tak terusik seolah tak peduli akan keselamatan dan pemandangan rakyat yang terhimpit beban. Maka kiranya para penguasa patut merenungkan sabda Baginda Rasulullah saw., “Jabatan itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan dan akhirnya adalah azab pada hari kiamat.” (HR Ath- Thabrani)
Wallahualam bisawab.


