
Oleh: Nurmilati
Rimba terbakar, asap pekat menyesakkan
Korban berjatuhan, jalanan diselimuti jelaga
Rakyat menanggung duka, keadilan entah ke mana?
Dalam rimbun pepohonan yang mengangkasa
Keserakahan jemawa bertakhta di balik kuasa
Di bawah rindang dedaunan, margasatwa tertunduk berdoa
Amukan api tak lagi memilih mangsa
Jenggala sunyi merintih sendu
Sampai kapan alam harus menjerit pilu
Sedangkan punggawa negeri sibuk dengan pemilu?
Jikalau belantara hanya tersisa abu dan luka
Siapa yang meredam tangis bumi pertiwi kita?
Lembaran sirah apik bercerita
Khalifah Umar memikul gandum di gelap gulita
Seonggok batu dalam tungku
Keluarga kecil lapar membisu
Dalam sirahnya tak ada duka nestapa
Umat hidup aman sejahtera
Dalam naungan Islam yang menerangi semesta
Pemimpin negeri takut akan hisab-Nya
Jika satu paru sesak, tidur pun tak nyenyak
Hutan tak butuh solusi basa-basi
Ia butuh penjaga yang takut pada Ilahi
Sistem yang menjaga, bukan yang berebut takhta
Kelak saat abu telah mereda
Belantara menyisakan cerita
Berjuta tanya dalam dada
Di mana penguasa saat karhutla melanda?


