
Oleh: Yuni Oktaviani (Aktivis Muslimah, Pekanbaru-Riau)
Linimasanews.id—Palestina masih menderita. Serangan Zionis Israel makin brutal dan menjadi-jadi. Genosida tidak hentinya diluncurkan kepada warga Palestina. Pembunuhan massal tanpa pandang bulu.
Sejak Hamas dan kelompok Palestina lainnya menyerang bagian Selatan Israel pada 2023 silam, Zionis Israel terus memborbardir dan memperketat blokade. Gelombang perjuangan dari rakyat Palestina pun terus membesar bagaikan air bah. Perjuangan yang lahir atas dasar akidah dan penolakan terhadap penjajahan 78 tahun lamanya, akankah umat IsIam lainnya bersatu dalam membela kebebasan Palestina? Solusi tuntas apa yang harus diambil dilihat dari kacamata Islam?
Sedikitnya 74.000 warga Palestina tewas akibat serangan Israel selama tiga tahun, termasuk setidaknya 21.000 anak-anak. Jumlah tersebut setara dengan sekitar satu dari setiap 30 penduduk Gaza atau sekitar 3 persen dari populasi sebelum perang. Lebih dari 175.000 orang dilaporkan terluka, setara dengan sekitar satu dari setiap 13 penduduk Gaza (metronews.com, 09-10-2026).
Thufan al-Aqsha
Bulan Oktober mengingatkan pada sebuah peristiwa sebuah perjuangan yang lahir demi gelar agung, yaitu syahid. Perjuangan ini dilakukan atas dorongan keimanan, menolak penderitaan atas penjajahan oleh kaum kuffar, para Zionis. Dialah Thufan al-Aqsha, yang sudah genap tiga tahun terjadi sejak 7 Oktober 2023 silam.
Thufan al-Aqsha membuktikan perjuangan rakyat Gaza, Palestina belum lah selesai atau berhenti. Perlawanan masif justru makin tampak merespons pendudukan dan agresi yang dilakukan entitas Zionis atas mereka. Bukan demi kepuasan pribadi, melainkan demi membela negeri kaum muslimin, terutama Masjidil Aqsa.
Meski hidup di bawah reruntuhan dan bangunan rapuh, namun keteguhan warga Palestina tetaplah kokoh. Walaupun, harga yang harus dibayarkan atas keteguhan itu adalah genosida yang makin menjadi-jadi, penderitaan yang bertambah, serta akses kehidupan yang makin sempit, tidak menyurutkan gelombang perjuangan demi mempertahankan mesjid suci umat Islam.
Berbagai macam perundingan damai digelar, gencatan senjata pun tidak mampu memberikan solusi bagi kemerdekaan rakyat Palestina. Gencatan senjata justru semakin memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Ia hanyalah ilusi. Karena bagi penjajah, gencatan senjata bukan menjadi alasan untuk menghentikan aksi pembunuhan.
Hakikatnya, semua usaha dalam bentuk konferensi, perundingan, ataupun gencatan senjata yang digagas oleh negara-negara Barat dengan dukungan penguasa di negeri Islam tersebut bukanlah solusi mendasar yang mampu menghentikan brutalnya genosida oleh militer Zionis. Bagaimanapun, penjajah haruslah diusir dari tempat di mana ia melakukan penjajahan. Stabilitas, keamanan, maupun ketenangan tidak akan pernah terwujud selama penjajah itu masih ada.
Kewajiban Semua Muslimin
Aksi atau perjuangan membebaskan Palestina sejatinya bukan hanya tanggung jawab rakyat Palestina, melainkan tanggung jawab seluruh umat Islam di dunia. Hal ini dikarenakan Palestina adalah negeri tempat Rasulullah saw. melakukan perjalanan Isra’ mikraj, kiblat pertama umat IsIam, negeri para penakluk dan para pahlawan Islam, serta bumi kebangkitan dan tempat berkumpulnya manusia kelak.
Mestinya, penguasa-penguasa negeri muslim sadar bahwa pembebasan Palestina dari penjajah Zionis Yahudi ini bersifat urgen. Sangatlah mendesak untuk mengirimkan tentara negeri-negeri kaum Muslim guna mengusir penjajah tersebut. Sebanyak ratusan ribu tentara negeri muslim, bahkan jutaan jika digabungkan, akan sangat berpotensi menjadi kekuatan luar biasa.
Namun, realitas menepis harapan itu semua. Lemahnya umat IsIam dan tersekatnya mereka dalam penjara nation state, serta hadirnya penguasa ruwaybidhah di negeri-negeri kaum muslimin itu sendiri adalah penyebabnya. Sifat ruwaibidhah (dungu) ini tampak dari penolakan mereka untuk menerapkan aturan Allah (Kitabullah dan sunah Nabi Muhammad saw.).
Para penguasa ruwaibidhah justru beramai-ramai mengkhianati muslim Palestina dengan cara menjalin kerja sama, hubungan diplomatik, perdagangan, ataupun perjanjian bersama Zionis Yahudi. Tidak sedikit juga penguasa ruwaibidhah ini membantu rencana jahat Presiden Amerika Serikat, Donal Trump untuk menjadikan Gaza di bawah kendali Dewan Perwalian Internasional, serta menutup akses masuk para pengungsi warga Palestina seperti yang dilakukan oleh Mesir. Secara tidak langsung, penguasa muslim ini menyokong terjadinya genosida yang dilakukan entitas Zionis Yahudi.
Padahal, jelas Rasulullah saw. mengingatkan, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya itu dan membiarkan dirinya. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesulitan dari seorang muslim, Allah akan menghilangkan kesulitan dari dirinya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim)
Solusi Syar’i Pembebasan Palestina
Penderitaan muslim Palestina sejatinya terjadi sejak runtuhnya institusi pelindung, yakni Khilafah Islamiyah, yang diruntuhkan lewat antek-antek Inggris pada tahun 1924 M. Sejak saat itulah, kedamaian dan ketenangan Palestina sebagai wilayah merdeka pun terusik.
Padahal, sejarah jelas mencatat bahwa Palestina adalah negeri kaum muslimin yang mesti dilindungi dan dijaga. Jika ternyata pendudukan terjadi atas warganya, apalagi agresi militer sudah dilakukan sejak lama secara keji oleh entitas Zionis Yahudi, maka jihad adalah satu-satunya solusi.
Allah Swt. berfirman, “Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (TQS. Al-Baqarah: 194).
Lalu, Allah juga memerintahkan untuk mengusir siapa pun yang telah mengusir kaum Muslim. Terdapat dalam Quran surah Al-Baqarah ayat 191, “Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
Sudah selayaknya umat IsIam di dunia bersatu dan bersama-sama melakukan jihad sebelumnyafii sabilillah mengusir Zionis Israel. Tanah Palestina harus dibebaskan dengan kekuatan militer dan mengembalikan institusi yang selama ratusan tahun melindungi tanah kehormatan kaum Muslim itu dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Sebagaimana pernah diperankan oleh Khilafah Turki Utsmani dan kehilafahan , mereka menjaga tanah Palestina sebagai tanah yang diberkahi, dan tanah kehormatan umat IsIam seluruhnya.


