
Oleh: Neti Ernawati (Aktivis Dakwah)
Linimasanews.id—Kantor berita Antara di Istanbul memberitakan bahwa Israel telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen. Israel juga tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu.
Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, pada Oktober 2025, luasan wilayah Gaza yang dikuasai Israel telah mencapai 53 persen. Menurut laporan medis setempat, jumlah keseluruhan korba tewas sudah mencapai angka 72.736 sejak berlangsungnya agresi Zionis 7 Oktober 2023 lalu, dengan jumlah korban terluka 172.535 jiwa (Antaranews.com, 10/05/26).
Gencatan senjata yang berkali-kali digaungkan hanya ibarat helaan napas sementara. Bahkan, serangan dan tekanan bangsa Israel pada rakyat Palestina tak terlihat berkurang, justru semakin tidak manusiawi. Kabar terakhir, Israel melakukan pemaksaan kepada keluarga Palestina untuk menggali kembali makam ayah mereka yang dikuburkan di pemukiman Israel, tepatnya di desa Asasa, dekat Jenin, wilayah Tepi Barat. Israel mengklaim area pemakaman tersebut berada di atas lahan yang masuk wilayah permukiman Israel (dekat bekas pemukiman Sanur/Tarsala).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam tindakan itu sebagai tindakan mengerikan dan tidak manusiawi. Kepala Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB untuk wilayah Palestina, Ajith Sunghay, mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai peningkatan dehumanisasi terhadap warga Palestina. Sangat mengerikan, karena tidak hanya menyasar yang hidup, tetapi yang sudah meninggal pun tak luput menjadi korban (cnbcindonesia.com, 10/05/26).
Dehumanisasi Berulang
Dehumanisasi seperti ini bukanlah hal baru. Laporan sebelumnya, pada 2024 hingga 2025 juga menunjukkan bahwa militer Israel pernah melakukan penggalian kuburan di Gaza, lalu mengembalikan puluhan jenazah yang digali dalam kondisi membusuk dan tidak teridentifikasi. Perbuatan yang diulang ini menunjukkan bahwa tidak ada upaya yang mampu menghentikan mereka. Kalau pun upaya penghentian dehumanisasi itu ada, dapat dipastikan selalu menemui kegagalan.
Kecaman atau pun pernyataan sikap dari PBB dan masyarakat dunia tidak akan memberikan dampak signifikan. Suara dan opini masyarakat dunia yang mengecam dehumanisasi hanyalah angin lalu bagi Zionis Israel. Dalam kurun tiga tahun ini, masyarakat dunia, negara-negara, bahkan PBB sendiri telah menyuarakan pembelaan untuk Palestina, namun tanpa hasil nyata. Genosida tetap saja berlanjut tanpa ampun.
Di Palestina, nyawa semakin tidak berharga. Dalam waktu 24 jam saja, bisa ada lima korban tewas dan 15 korban luka. Banyak warga Palestina terutama anak-anak yang tubuhnya diamputasi akibat perang. Gaza juga menjadi tempat paling mematikan bagi jurnalis dengan jumlah lebih dari 300 orang jurnalis yang tewas di sana sejak 7 Oktober 2023. Dengan semakin luasnya wilayah yang dikuasai Zionis, membuktikan misi Zionis belum selesai sampai seluruh Palestina jatuh ke tangan mereka.
Nasib Palestina di Tangan Umat
Tidak ada tanda bahwa Zionis perduli dengan gencatan senjata. Karena, Zionis Israel-lah yang selalu melanggar perjanjian gencatan senjata yang mereka inisiasi. PBB sebagai badan perdamaian dunia justru menunjuklan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi mengecam Israel, namun di sisi lain tidak berupaya menghentikan tindakan Israel. Secara tidak langsung ini dapat diartikan justru membiarkan Israel. Amerika Serikat yang menjadi pusat bernaungnya PBB justru memberikan dukungan pada Zionis melalui Board of Peach.
Suara media yang dibungkam dan diplomasi yang tak kunjung memberikan hasil adalah bukti tidak ada jalan lain memerdekakan Palestina, selain dengan menggerakkan kekuatan umat. Ketika umat ingin merefleksikan diri sebagai seorang muslim, dirinya tidak boleh abai pada penderitaan saudara sesama muslim. Sebagaimana syariat memiliki aturan ketat dalam menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang mukmin. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah bahwa “Musnahnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.”
Pembebasan Palestina butuh persatuan umat secara mutlak, yaitu persatuan muslim sedunia dalam satu naungan. Ukhuwah ini hanya terwujud dengan Khilafah yang merupakan institusi pemersatu umat.
Penegakan khilafah menjadi agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini. Dengan adanya khilafah, umat mampu bersatu dalam satu pemikiran dan satu tujuan. Kekuasaan khilafah inilah yang nantinya mampu menggerakkan sendi-sendi perjuangan, seperti basis militer, pembentukan pondasi integritas umat, serta kesejahteraan dan ketahanan pangan. Dengan demikian, semua lini dapat bergerak bersama dalam melakukan jihad, baik yang di barisan depan dengan mengangkat senjata, maupun di bagian belakang dengan dukungan sumber daya.
Sebagaimana diketahui, beberapa negeri Islam saat ini tidak mempu membuka suara untuk kebebasan Palestina. Karena, mereka terikat dan tunduk kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Karenanya, diperlukan dakwah untuk mendobrak kepemimpinan Islam agar kembali kepada integritasnya sebagai muslim yang merdeka dan bermartabat, yang hanya tunduk pada hukum Allah dan Rasul-Nya. Ketika khilafah tegak dan terwujud penerapan syariat Islam di setiap lini, maka semua persoalan umat Islam, baik di Palestina, Suriah, Yaman, Irak dan lainnya akan terselesaikan dengan tuntas.


