
Oleh: Ida Rosida (Aktivis Muslimah)
Linimasanews.id—Konflik yang masih berlangsung di Gaza telah menghadirkan penderitaan kemanusiaan dalam skala yang sangat besar. Warga sipil hidup di bawah ancaman serangan yang dapat datang sewaktu-waktu, sementara akses terhadap kebutuhan dasar makin terbatas. Dalam situasi seperti ini, rakyat Palestina bukan hanya berjuang mempertahankan wilayahnya, tetapi juga mempertahankan hak paling mendasar sebagai manusia: hidup dengan aman, bermartabat, dan bebas dari rasa takut.
Namun, yang paling menyakitkan dari tragedi ini bukan hanya kehancuran fisik, melainkan dehumanisasi, yaitu keadaan ketika manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia. Anak-anak menjadi korban di tengah perang yang tak kunjung usai. Banyak dari mereka ditemukan di balik reruntuhan sebelum sempat tumbuh dewasa dan meraih cita-citanya. Bahkan, mereka yang telah meninggal dunia pun seolah belum memperoleh ketenangan. Kuburan dibongkar, jenazah dipindahkan, dan tanah yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir berubah menjadi bagian dari perebutan wilayah.
Dehumanisasi terhadap rakyat Palestina kini tidak hanya menyasar mereka yang hidup, tetapi juga mereka yang telah wafat. Dehumanisasi tidak hanya tampak pada hilangnya nyawa, tetapi juga pada hilangnya penghormatan terhadap martabat manusia itu sendiri (Antara.com, 5/5/2026).
Di tengah situasi tersebut, warga Gaza menjalani hari-hari yang dipenuhi ketidakpastian. Anak-anak tidur ditemani suara drone dan ledakan. Sementara para ibu memeluk anak-anak mereka dengan kecemasan bahwa pelukan itu bisa menjadi yang terakhir. Banyak keluarga kehilangan rumah dan orang-orang tercinta, bahkan harapan untuk hidup dengan tenang.
Gaza juga menjadi salah satu tempat paling berbahaya bagi para jurnalis. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR/Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights) menyebutkan bahwa Jalur Gaza kini menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis. Sejak agresi Israel berlangsung pada Oktober 2023, hampir 300 jurnalis dan pekerja media dilaporkan tewas di Gaza. Sebagian besar korban merupakan jurnalis Palestina yang tetap meliput di tengah serangan dan kehancuran. Mereka gugur bukan sambil membawa senjata, melainkan kamera dan mikrofon. Dalam peperangan, kebenaran sering kali menjadi sasaran pertama. (Antara.com, 4/5/2026).
Jumlah korban di Gaza terus bertambah. Hingga kini tercatat sekitar 72.736 orang tewas dan lebih dari 172.535 lainnya mengalami luka-luka akibat agresi yang masih berlangsung. Banyak anak Palestina kehilangan tangan atau kaki akibat perang, sementara sebagian lainnya kehilangan keluarga dan masa kecil mereka. Di balik setiap data korban, ada seorang ibu yang kehilangan anaknya, ayah yang menggali reruntuhan dengan tangan kosong, dan anak kecil yang harus belajar berjalan dengan kaki palsu (Reuters, 10/5/2026).
Lalu, dunia bertanya mengapa luka Palestina tidak pernah benar-benar selesai? Jawabannya, mungkin karena dunia hari ini lebih dibangun di atas kepentingan duniawi daripada nilai kemanusiaan.
Banyak pihak menilai bahwa serangan terhadap Gaza terus terjadi karena adanya dukungan politik, militer, dan ekonomi dari negara-negara besar kepada Israel. Dukungan tersebut membuat penindasan terus hidup, sementara darah rakyat Palestina terus mengalir tanpa mampu dihentikan.
Luka Palestina juga membuka kenyataan pahit tentang kondisi umat Islam hari ini. Lebih dari lima puluh negeri muslim berdiri di dunia, tetapi semuanya seolah berjalan sendiri-sendiri. Nasionalisme memecah umat ke dalam batas-batas negara. Sementara, sistem kapitalisme menjadikan kepentingan politik dan ekonomi lebih diutamakan daripada ukhuwah Islamiyah.
Akibatnya, ketika rakyat Palestina terus dibantai dan dijajah, banyak negeri muslim hanya mampu menyampaikan kecaman tanpa langkah yang benar-benar kuat dan menyatukan. Sebagian penguasa muslim bahkan tetap menjalin hubungan politik dan ekonomi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penindasan Palestina. Padahal, dunia Islam memiliki sumber daya yang besar, jumlah penduduk yang banyak, dan potensi persatuan yang luar biasa.
Rasulullah Saw. telah mengajarkan bahwa kaum muslimin ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh terluka, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dan penderitaannya. Namun, hari ini tubuh itu tercerai-berai. Palestina menangis, sementara banyak negeri muslim tetap sibuk menjaga kepentingannya masing-masing.
Dalam perspektif Islam, solusi atas tragedi Palestina tidak cukup hanya dengan kutukan, bantuan kemanusiaan, atau doa. Semua itu penting, tetapi tidak akan menghentikan penindasan selama akar persoalannya tetap dibiarkan hidup.
Karena itu, banyak kalangan Islam meyakini bahwa umat hanya akan benar-benar kuat apabila kembali memiliki persatuan yang dibangun di atas akidah Islam dan berada di bawah satu kepemimpinan yang mempersatukan kaum muslimin, yaitu seorang khalifah. Kepemimpinan Islam dipandang sebagai jalan untuk menyatukan kekuatan umat, menjaga kehormatan kaum muslimin, serta menghentikan penindasan terhadap negeri-negeri Islam.
Palestina hari ini bukan hanya tentang Gaza. Ia adalah cermin tentang hilangnya persatuan umat, pudarnya ukhuwah Islamiyah, dan melemahnya keberpihakan dunia terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Selama masih ada anak kecil yang menangis di bawah reruntuhan sambil memanggil ibunya, maka sejatinya dunia belum benar-benar baik-baik saja.


