
Oleh: Elvana Oktavia
Linimasanews.id—Kabar duka dari Lombok Timur. Dua anak berusia TK dan SD meninggal dunia setelah melakukan adegan berbahaya yang diduga kuat terinspirasi dari aksi free style pada games Garena Free Fire. Mereka mengalami luka yang serius di bagian leher setelah mempraktikkan gerakan ekstrem yang dianggap keren dan seru (kumparan.com, 7/5/2026). Kejadian ini menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak, seperti kepolisian, sekolah, dinas pendidikan, psikolog anak hingga KPAI. Mereka mengimbau agar orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas penggunaan media sosial pada anak, termasuk tontonan anak (tribunnews.com, 6/5/2026).
Peristiwa ini merupakan peringatan keras bagi kita semua. Dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Saat anak tidak bisa membedakan mana hiburan dan bahaya, kesehatan mental terpengaruh hingga nyawa pun bisa jadi taruhannya.
Anak Mudah Meniru, Pengawasan Jangan Lemah
Pada umumnya, anak-anak memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap banyak hal. Namun, dalam menilai mana bahaya atau bukan, mereka belum mampu berpikir dan memahaminya secara matang.
Dengan melihat fakta tersebut, inilah yang menyebabkan bahwa usia anak-anak adalah kelompok paling mudah terpengaruh media digital. Apalagi, konten media sosial saat ini bagaikan ruang tanpa pagar. Penuh dengan konten yang sekadar mengejar viral, tanpa memikirkan dampak apakah konten tersebut aman terhadap anak atau tidak. Alhasil, mereka begitu cepat dan mudah mengakses berbagai konten berbahaya.
Tak cukup hanya peran dari keluarga yang harus ditingkatkan. Minimnya pengawasan lingkungan juga dapat meningkatkan risiko. Sebab, anak tidak selalu hidup di dalam rumah dengan keluarganya saja. Saat di luar rumah, aksi meniru yang berbahaya tersebut bisa terjadi atas dorongan agar terlihat keren atau menjadi populer di mata teman-temannya. Oleh karena itu, perlu peran negara untuk memberikan perlindungan kepada anak dari derasnya konten yang membahayakan.
Perlindungan terhadap anak di era digital merupakan persoalan yang serius. Karena, jika ini terus dibiarkan, akan sangat berpengaruh pada terancamnya kualitas mental anak dan nyawa mereka.
Solusi Islam Selamatkan Generasi
Dalam Islam, anak merupakan amanah besar yang wajib dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab. Peran orang dewasa sangat penting untuk mendampingi dan menciptakan lingkungan yang baik. Anak yang belum balig perlu pengawasan dan bimbingan karena akal mereka masih belum sempurna.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim/66: 6)
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang tua wajib menjaga dan menciptakan lingkungan yang baik dan terhindar dari bahaya fisik maupun pengaruh pemikiran yang rusak. Karena, dalam Islam, pendidikan anak bukan hanya bertumpu pada pendidikan formal saja, tetapi juga pembentukan kepribadian, pola pikir, dan lingkungan yang sehat.
Dalam pandangan Islam, pilar utama dalam pendidikan, yaitu keluarga, lingkungan masyarakat, dan negara. Ketiganya harus saling bersinergi membentuk ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Orang tua merupakan benteng pertama dalam keluarga. Keberadaannya wajib hadir dalam kehidupan anak. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan intelektual. Adanya dialog, perhatian, arahan, dan teladan adalah kebutuhan anak yang harus terpenuhi, termasuk pengenalan pada penggunaan teknologi yang diarahkan pada hal-hal bermanfaat.
Selain itu, diperlukan pula terciptanya lingkungan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan generasi. Bukan budaya masyarakat individualis yang enggan menegur atau peduli terhadap anak-anak. Masyarakat wajib berperan menciptakan ruang aman yang mendukung tumbuhnya akhlak dan perilaku baik pada anak.
Dalam lingkup yang lebih luas lagi, Islam memandang bahwa negara memiliki peran strategis dalam mengatur dan melindungi masyarakat. Negara akan membatasi secara ketat informasi yang merusak moral dan membahayakan keselamatan generasi, termasuk tidak akan membiarkan konten berbahaya tersebar bebas atas nama kebebasan pasar atau keuntungan industri digital.
Sebaliknya, dalam Islam, konten edukatif yang membangun pola pikir sehat dan kepribadian mulia akan diperbanyak oleh negara. Teknologi yang ada akan diarahkan untuk mendukung kemajuan pendidikan dan peradaban, bukan menjadi alat hiburan yang merusak anak-anak.
Khatimah
Tragedi di Lombok Timur seharusnya menjadi evaluasi bersama, bukan sekadar mengundang empati sesaat. Karena, jika akar persoalannya tidak diselesaikan, tragedi yang sama akan kembali terjadi. Sudah saatnya kita menyadari bahwa persoalan ini butuh gerakan bersama untuk menciptakan sistem pendidikan sebagaimana solusi dalam Islam. Karena, Islam dapat menjaga akal, jiwa, dan masa depan anak.


