
Oleh : Evi Faouziah S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah
Linimasanews.id—Upah minimum menunjukkan disparitas yang cukup lebar, sekitar Rp5,4 juta di Jakarta dan Rp2,1 juta di Jawa Tengah. Namun, angka ini kian kehilangan relevansinya terhadap biaya hidup riil. Di kota besar seperti Jakarta, kebutuhan dasar individu sudah mendekati Rp7 juta per bulan, bahkan sebelum menyentuh komponen biaya tempat tinggal. Dalam kondisi ini, kemandirian finansial penuh pada tahap awal karier menjadi anomali statistik. Ruang antara pendapatan dan kebutuhan primer sudah terlalu sempit, menyebabkan disposable income atau pendapatan yang bisa ditabung berada pada titik nadir (kompas.com, 3/5/2026).
Gen Z sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, mereka dituntut mandiri, produktif, kompetitif, dan mampu memenuhi berbagai kebutuhan dengan penghasilan yang terbatas. Ironisnya, ketika tekanan semakin besar, budaya self-reward, healing, dan konsumsi justru semakin menguat.
Fenomena ini tidak tepat jika hanya dipandang sebagai persoalan buruknya kemampuan mengatur keuangan generasi muda. Ada persoalan sistemis yang lebih besar. Kapitalisme telah menempatkan kesejahteraan manusia dalam mekanisme pasar dan menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama. Kebutuhan hidup diperlakukan sebagai komoditas, sementara negara cenderung menyerahkan banyak urusan rakyat pada mekanisme ekonomi.
Akibatnya, generasi muda dipaksa berjuang dalam kompetisi mendapatkan pekerjaan, penghasilan, pendidikan, dan kehidupan layak. Ketika gagal, individu sering dianggap kurang bekerja keras. Padahal, persoalannya bukan semata kemampuan individu, tetapi sistem ekonomi yang tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat secara menyeluruh.
Sekularisme Menawarkan Kebahagiaan Semu
Tekanan ekonomi kemudian bertemu dengan budaya sekuler-liberal. Kebahagiaan dikonstruksi melalui kepemilikan dan pengalaman konsumtif. Media sosial memperkuatnya dengan menampilkan kehidupan ideal yang penuh liburan, barang baru, kuliner, dan berbagai bentuk kesenangan.
Akhirnya, self-reward menjadi pelarian dari tekanan, sementara healing dipahami sebagai aktivitas konsumsi. FOMO mendorong seseorang mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal. Siklusnya berbahaya: bekerja untuk mendapatkan uang, menggunakan uang untuk membeli kesenangan, lalu kembali bekerja untuk mengejar kesenangan berikutnya.
Inilah wajah kapitalisme yang menjadikan manusia sekaligus pekerja dan konsumen. Bahkan kegelisahan dapat dikapitalisasi menjadi peluang bisnis.
Persoalan paling mendasar sesungguhnya adalah hilangnya pemahaman tentang tujuan hidup. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, manusia kehilangan standar kebahagiaan yang hakiki. Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka, kebahagiaan seorang muslim bukanlah sebanyak apa ia mampu membeli, tetapi sebesar apa kehidupannya mendapatkan rida Allah.
Islam Tidak Membiarkan Rakyat Berjuang Sendiri
Islam memiliki paradigma yang berbeda secara fundamental. Negara dalam Islam bukan sekadar regulator yang berdiri di antara kepentingan rakyat dan pasar. Negara adalah ra’in yang bertanggung jawab mengurus urusan rakyat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sistem Islam, sumber daya alam yang menjadi milik umum tidak boleh dikuasai segelintir pihak untuk kepentingan kapital. Pengelolaannya diarahkan bagi kemaslahatan rakyat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dan masyarakat memperoleh kesempatan bekerja secara layak.
Dengan demikian, solusi persoalan Gen Z tidak cukup berupa seminar literasi finansial atau anjuran mengurangi belanja impulsif. Itu hanya menyentuh gejala. Akar masalahnya adalah sistem yang membentuk kehidupan ekonomi dan budaya berdasarkan sekularisme-kapitalisme.
Saatnya Mengganti Paradigma
Gen Z membutuhkan perubahan yang lebih mendasar. Mereka membutuhkan sistem yang memandang manusia sebagai hamba Allah, bukan sekadar konsumen dan mesin produksi.
Islam membentuk generasi dengan akidah yang kokoh, tujuan hidup yang jelas, sekaligus sistem ekonomi dan politik yang menjamin kemaslahatan rakyat. Dengan penerapan Islam secara kaffah, generasi muda diarahkan menjadi generasi berilmu, produktif, bertakwa, dan memiliki visi membangun peradaban.


