
Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd.
(Pendidik Generasi)
Linimasanews.id—Ada sesuatu yang sangat menyedihkan ketika kata anak-anak dan perang berada dalam satu kalimat. Anak seharusnya sibuk belajar, bermain, bercita-cita, dan menikmati pelukan orang tua. Namun bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, rumah, sekolah, bahkan perjalanan menuju sekolah pun tidak lagi selalu menjadi tempat yang aman.
Data terbaru PBB sungguh mengiris hati. Antara Januari 2024 hingga Juli 2026, PBB memverifikasi 174 anak Palestina terbunuh di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur—lebih dari satu anak setiap pekannya. Lebih dari 1.500 anak terluka dan hampir separuhnya terkena peluru tajam. Saat ini, sedikitnya 355 anak Palestina dari Tepi Barat juga berada dalam tahanan militer Israel, jumlah tertinggi dalam delapan tahun (www.un.org, 11/8/2026).
Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap angka ada anak yang kehilangan masa depan, orang tua yang kehilangan buah hati, keluarga yang hidup dalam ketakutan, dan generasi yang tumbuh dengan trauma. Sebagai pendidik generasi, kita tidak boleh menganggap berita ini sebagai berita yang berlalu begitu saja.
Ketika Kekerasan Menjadi Jalan Penguasaan
Kekerasan di Tepi Barat menunjukkan pola yang makin mengkhawatirkan. PBB mencatat peningkatan tajam serangan pemukim dan operasi militer. Pada empat bulan pertama 2026 saja, terjadi sekitar 190 serangan pemukim setiap bulan. Jika tren ini berlanjut, jumlahnya dapat melampaui 2.000 serangan sepanjang tahun. Serangan tersebut mencakup kekerasan terhadap keluarga, pembakaran masjid, penghancuran serta perampasan properti (palestine.un.org, 12/8/2026).
Kondisi yang lebih menyedihkan, anak-anak menjadi korban langsung maupun tidak langsung. Mereka ditembak, dipukuli, terluka, ditahan, bahkan kehilangan akses terhadap pendidikan. UNICEF mencatat 99 insiden terkait pendidikan sepanjang 2026, termasuk anak yang terbunuh, terluka atau ditahan, sekolah yang dihancurkan, hingga anak yang tidak dapat bersekolah dengan aman (www.un.org, 11/8/2026).
Inilah yang seharusnya membuat dunia bertanya: mengapa kekerasan seperti ini terus berlangsung? Masalah Palestina bukan sekadar persoalan konflik dua kelompok yang sesekali meletus. Ada persoalan penjajahan, pendudukan, perampasan tanah, ekspansi permukiman dan lemahnya kekuatan politik dunia Islam dalam menghadapi agresi tersebut.
Jika dibiarkan, bukan hanya rumah dan tanah yang dirampas. Masa depan satu generasi sedang dipertaruhkan. Anak yang tumbuh dalam ketakutan berpotensi mengalami luka psikologis panjang. Sekolah yang tidak aman berarti pendidikan terganggu. Rumah yang dihancurkan berarti rasa aman keluarga ikut dihancurkan. Ketika kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, yang rusak bukan hanya satu individu, tetapi kualitas sebuah generasi.
Sebagai pendidik, kita tentu memahami bahwa membangun generasi membutuhkan waktu puluhan tahun. Karena itu, sangat menyedihkan jika sebuah generasi justru dipaksa tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan.
Islam Tidak Membenarkan Pembiaran Kezaliman
Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki kehormatan. Anak-anak, perempuan, orang tua, bahkan mereka yang tidak terlibat dalam peperangan tidak boleh menjadi sasaran kezaliman. Allah Subhaanahu wa Taala berfirman, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim …’” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini mengajarkan bahwa kaum muslim tidak boleh bersikap masa bodoh terhadap penderitaan orang-orang yang dizalimi. Maka dukungan kepada Palestina tidak cukup hanya dengan rasa sedih, unggahan media sosial, doa, atau bantuan kemanusiaan—meskipun semua itu tetap penting dilakukan sesuai kemampuan. Kita membutuhkan penyelesaian yang lebih mendasar.
Membangun Kekuatan Politik Umat
Islam memiliki konsep ukhuwah Islamiyah yang melampaui batas-batas nasionalisme. Kaum muslim adalah satu umat. Ketika sebagian umat dizalimi, bagian yang lain tidak boleh berpangku tangan. Karena itu, negeri-negeri muslim membutuhkan persatuan dan kekuatan politik yang mampu melindungi umat serta menghadapi agresi terhadap negeri-negeri muslim.
Bantuan kemanusiaan harus terus diberikan. Dukungan kepada korban harus terus dilakukan. Edukasi tentang Palestina juga harus terus digencarkan. Namun, semua itu perlu disertai perjuangan politik untuk menghentikan sumber kezaliman dan membebaskan negeri yang terjajah.
Dalam perspektif Islam, pembebasan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi juga persoalan kewajiban umat dalam menghadapi penjajahan. Karena itu, seruan kepada para penguasa negeri-negeri Muslim agar mengambil tindakan nyata tidak boleh berhenti.
Kekuatan militer umat juga tidak boleh hanya menjadi kekuatan yang tersimpan di balik pagar masing-masing negeri. Dalam kerangka syariat, kekuatan tersebut semestinya berada di bawah kepemimpinan politik yang bertanggung jawab untuk melindungi umat dan menghadapi agresi, dengan ketentuan syariat yang mengatur peperangan dan perlindungan terhadap nonkombatan.
Di sinilah pentingnya perjuangan ideologis untuk menghadirkan sistem Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah. Bukan karena Khilafah sekadar simbol politik, tetapi karena Islam membutuhkan institusi yang mampu menerapkan seluruh hukum Islam, menjaga persatuan umat, mengelola kekuatan negara, dan menjalankan fungsi perlindungan terhadap rakyat.
Tentu kita tidak ingin anak-anak Palestina hanya menjadi objek belas kasihan dunia. Kita ingin mereka kembali bersekolah tanpa takut ditembak. Kita ingin mereka tidur tanpa khawatir rumahnya diserang. Kita ingin mereka tumbuh dengan cita-cita, bukan trauma.
Sebagai pendidik generasi, tugas kita bukan hanya mengajarkan anak-anak untuk menjadi pribadi baik bagi dirinya sendiri. Kita juga harus menanamkan kepedulian terhadap umat, keberanian membela kebenaran, dan kesadaran bahwa kehidupan tidak boleh dibangun di atas kezaliman.
Palestina adalah cermin kepedulian kita terhadap masa depan generasi. Sebab, ketika dunia membiarkan seorang anak tumbuh dalam ketakutan hari ini, sesungguhnya dunia sedang membiarkan sebuah generasi kehilangan masa depannya. Maka, kita tidak boleh diam. Wallahualam bisawab.


