
Oleh: Aisyah Ummu Shaqueena
Linimasanews.id—Tanggal gajian tiba, notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda.
Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Hal seperti itu kini menjadi lumrah. Kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis.
Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan, karena dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di sisi lain, di tengah tekanan ekonomi yang sulit, gen Z justru mengalokasikan uang yang dimiliki untuk belanja kebutuhan yang tidak pokok. Mereka menjadikan self-reward sebagai salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi. Healing dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.
Kapitalisme
Sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit Gen Z. Biaya hidup terus naik, sementara gaji stagnan. Selain itu, negara seolah lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda harus berjuang sendiri tanpa dukungan dari negara.
Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonisme sebagai “solusi” pelarian. Di samping itu, media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif.
Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z yang tidak memahami tujuan hidupnya. Kebahagiaan pun diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Sistem Islam
Negara dengan sistem Islam (khilafah) menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, khususnya Gen Z tidak akan berjuang sendiri.
Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme kapitalisme dan turunannya. Media dalam Khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat.
Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam, bukan generasi lemah yang tidak memiliki tujuan dan pandangan hidup yang benar.


