
Oleh. Yota Mutia. S.Psi (Art Therapy)
Linimasanews.id—Catatan redaksi Kompas.id pada 10 September 2026, menceritakan kisah pilu tentang seorang pria berinisial FS (30) yang mengakhiri hidupnya di Gelora Bung Karno pada 6 September 2026. Semasa hidupnya, FS kesulitan bergaul di dunia nyata dan tidak memiliki tempat bersandar yang aman. Ia pun lebih banyak menumpahkan rasa sepi dan beban batinnya di aplikasi Threads. Tragedi ini menjadi bukti nyata adanya krisis kesehatan mental yang mengkhawatirkan. Media sosial membuat kita tampak terhubung di dunia maya, tetapi justru terasa sangat asing dan kesepian di dunia nyata.
Data survei @prodia_ohi menunjukkan bahwa sebanyak hampir 48 persen Gen Z mengalami burnout, dan sepertiga dari mereka merasa cemas sepanjang waktu. Tekanan ini lahir akibat kelelahan digital karena sibuk bermain banyak media sosial secara bersamaan. Beban mental mereka semakin berat karena ketatnya persaingan kerja, ketidakpastian ekonomi, dan kebiasaan buruk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di dunia maya. Menurut Yuswohady, seorang pakar pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure Indonesia, generasi Z dan Alpha mulai rindu beraktivitas di dunia nyata tanpa sekat layar kaca. Keinginan untuk mengurangi waktu screen time ini menjadi tren perilaku baru setelah mereka jenuh dengan percepatan digitalisasi dalam beberapa tahun terakhir.
Sungguh ironis, di era digital ini kita mudah terhubung secara virtual, tetapi justru kesepian di dunia nyata. Media sosial gagal menjadi penawar sepi dan malah menjebak manusia dalam keterasingan emosional di tengah keramaian.
Kemudahan teknologi ini melahirkan kehampaan hidup karena ketenangan batin telah digantikan oleh standar semu layar kaca, seperti jumlah pengikut dan validasi publik. Demi mengejar tombol like, manusia berpura-pura hingga terasing dari diri sendiri, sesama, dan Tuhannya. Aktivitas scrolling tanpa akhir hanya menjadi pelarian palsu dari penatnya kenyataan. Akibatnya, waktu kita habis mengonsumsi informasi sampah yang menguras kesehatan mental dan membuat hati abai menghadapi dunia nyata.
Oleh karena itu, media sosial harus digunakan secara bijak karena alat ini adalah pisau bermata dua yang bergantung pada niat penggunanya. Di tangan yang tepat, ia menjadi sarana dakwah, ilmu, dan silaturahmi. Namun, jika salah niat, ia akan menjelma menjadi labirin yang mengisolasi hingga menjadi senjata pembunuh.
Mengapa teknologi ini berubah menjadi labirin yang mengurung jiwa manusia? Kita hari ini hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga potensi terbaik generasi muda menjadi tercabut. Di dalam ekosistem ini, media sosial tidak lagi menjadi alat yang netral untuk edukasi. Sebaliknya, ruang digital ini memaksa Gen Z untuk terus mengejar materi dan mencari penawar sepi pada validasi semu di layar kaca, bukan pada Allah Sang Pencipta.
Oleh karena itu, sekadar membatasi screen time, minum obat penenang atau pergi ke konselor hanyalah solusi sementara. Langkah-langkah tersebut bersifat individualistis dan gagal menyentuh akar masalah sistemis, yaitu menghentikan eksploitasi psikologis manusia. Di sinilah kapitalisme masuk untuk memanfaatkan kekosongan jiwa tersebut demi keuntungan materi. Kesepian, air mata, dan perhatian manusia diperlakukan sebagai barang dagangan. Ketika seseorang tertimpa ujian hidup, cara pandang sekuler gagal memberikan arti hidup yang hakiki, sementara mesin algoritma kapitalis justru terus menyuapi mereka dengan konten pemicu kecemasan agar tidak berpaling dari layar.
Solusi yang ditawarkan oleh Islam mencakup integrasi ketakwaan individu, kontrol sosial masyarakat, dan peran negara:
1. Ketakwaan Individu
Individu bertakwa akan fokus mencari ridha Allah sebagai tujuan hidup. Ridha Allah menjadi benteng kokoh melawan kecanduan media sosial yang menguras emosi kita. Ukuran kebahagiaan pun menjadi tetap, bukan naik-turun mengikuti jumlah likes, views, atau subscribers.
2. Kontrol Sosial Masyarakat
Pilar ini mengatasi kesepian akibat kurangnya dukungan sekitar. Dalam Islam, masyarakat dididik untuk peka dan saling menjaga. Efeknya, orang yang sedang stres tidak akan dibiarkan sendirian meluapkan beban batinnya di media sosial. Lingkungan sekitar akan hadir menjadi tempat bersandar yang aman di dunia nyata. Interaksi langsung inilah yang menurunkan stres, bukan komentar palsu di dunia maya.
3. Peran Negara
Negara bertanggung jawab melindungi mental warga dari eksploitasi bisnis digital. Kuasa negara digunakan untuk menyaring konten sampah, menindak tren pamer (flexing), dan membuat regulasi digital yang sehat. Lewat perlindungan ini, media sosial dialihkan fungsinya menjadi sarana edukatif, bukan mesin adiktif yang membuat kecanduan. Wallahualam bisawab.


