
Oleh: Lia Septianti (Pemerhati Generasi)
Linimasanews.id—Sekularisme tak henti menunjukkan borok-boroknya. Sektor pendidikan kembali menambah panjang daftar borok sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini. Sosok murid yang seharusnya takzim kepada guru malah menjatuhkan wibawa gurunya. Di ruang kelas, adab tidak lagi menyertai ilmu yang dituntut. Guru dinilai hanya sebagai pekerja yang digaji untuk menyampaikan ilmu. Ia sering kali terbelenggu oleh ketakutan akan delik hukum.
Video sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat menjadi viral. Bukan karena prestasi yang patut dibanggakan. Namun sebaliknya, viral karena aksi tidak pantasnya terhadap guru. Acungan jari tengah berulang kali ditujukan kepada sosok yang seharusnya dihormati. Sambil bercanda tawa, murid-murid tersebut tanpa sungkan dan ragu melakukan tindakan tidak pantas. Kejadian tersebut berlangsung sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai (Tribunnews.com, 18/4/2026).
Pelecehan terhadap guru di Purwakarta merupakan hal yang wajar terjadi akibat sekularisme yang mengabaikan adab terhadap guru. Dalam sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini, ilmu hanya dilihat sebatas pengetahuan saja. Ilmu yang dipelajari tidak lagi disertai takzim terhadap guru dan tidak lagi diperhatikan nilai keberkahannya. Sementara itu, pendidik menahan diri untuk tidak menegur atau menghukum siswa mungkin karena kekhawatiran terkena delik hukum.
Siswa berani sampai seperti itu, bisa jadi karena melihat contoh dari teman sebaya atau tontonan yang menjadi pelegalan tindakan tidak pantas tersebut. Di sisi lain, tidak ada sistem sanksi yang tegas dari sekolah ataupun negara. Demikianlah akhirnya, kasus seperti ini wajar terjadi.
Dalam menghadapi hal ini, negara tidak tinggal diam. Tidak sedikit program yang telah diluncurkan oleh pemerintah dan semua itu merupakan sebagai pembentukan karakter siswa. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026), Digitalisasi Pembelajaran dan Literasi Digital, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, semua itu merupakan sebagian langkah yang diambil pemerintah. Namun, dengan banyaknya kasus yang terus terjadi, tampaknya program-program tersebut belum mencapai akar permasalahannya.
Perspektif Islam
Islam menjunjung tinggi adab terhadap guru. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berujar, “Aku adalah hamba/budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku walau hanya satu huruf. Apabila dia berkehendak untuk menjualku, aku siap. Dan apabila ia berkehendak untuk tetap menjadikanku budak, aku siap untuk berkhidmat kepadanya.”
Siswa yang memiliki adab terhadap guru merupakan hasil dari sistem pendidikan yang menyertakan nilai agama dalam setiap pengajarannya. Dalam hal ini, negara menjadi pihak yang paling berperan dalam proses pembentukan kepribadian anak didik karena negaralah yang memiliki kekuatan terbesar dengan dimulai dari penyusunan kurikulum yang dibangun berlandaskan akidah Islam, penjagaan keamanan ruang digital dari konten-konten yang merusak seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan, hingga pemberlakuan sistem sanksi yang memberikan efek jera, sehingga kasus yang sudah terjadi tidak terulang lagi.
Negara yang menerapkan sistem pendidikan seperti ini merupakan negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh (kafah). Negara seperti inilah yang diperintahkan oleh Allah Swt.


