
Oleh: Melia Apriani, S.E. (Aktivis Muslimah, DIY)
Linimasanews.id—Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas” jika anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi. Seperti halnya Generasi Z. Menurut survey, banyak yang mengalami gangguan kesehatan mental.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan mengkhawatirkan dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Data terbaru menunjukkan, hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang membutuhkan perhatian serius (Tirto.id, 12/06/2026).
Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang makin tinggi, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menyimpan masalah secara pribadi, Gen Z kini melihat kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh atau 14,3 persen anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun, sebagian besar kondisi tersebut tidak dikenali dan tidak diobati (Kompas.id, 18/06/2026).
Faktor pemicunya pun beragam, seperti pengaruh sosial media, tekanan sosial, maupun faktor ekonomi. Fenomena ini menggejala di seluruh dunia. Ketidakepastian karir dan masa depan membuat generasi Z bersikap lebih skeptis. Krisis multidimensi, seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, dan gejolak geopolitik sangat membebani mental Gen Z. Beban ini diperparah oleh tekanan media sosial, yang memicu fear of missing out (fomo) dan tuntutan untuk selalu tampil sempurna di tengah dunia yang serba cepat.
Tanpa penanganan yang tepat, problem tersebut menghambat tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Padahal, peran anak muda amat penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045.
Resistensi
Namun, dari kondisi tersebut kemudian muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi Z.
Gen Z dikenal sebagai digital native. Internet dan kemajuan teknologi digital telah menemani kehidupan mereka sejak lahir. Yang paling mutakhir adalah melesatnya teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan yang mempengaruhi hampir semua lini kehidupan.
Namun, gen Z merespons dampak yang ditimbulkan oleh AI. Mereka sadar, teknologi tersebut merusak peluang kerja mereka. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan, jati diri dirusak melalui peradaban sekuleristik kapitalistik. Hal ini terjadi karena negara abai mengurusi generasi muda. Alih-alih merangkul, Generasi muda justru sering kali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya.
Kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.
Solusi
Adapun solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini bisa dipecahkan dengan penerapan Islam. Islam mendatangkan rahmatan lil alamin, nembawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.
Pada masa kejayaan Islam, generasi di masa itu sangat kuat. Berkepribadian Islam, dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup mereka secara adil. Maka, yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap peduli terhadap kondisi umat agar masa depan emas dapat terwujud, bukan lagi hanya sebatas angan-angan.


