
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Serangan Entitas Yahudi ke wilayah Gaza, Palestina terus berlangsung pasca kesepakatan gencatan senjata. Serangan terakhir bahkan semakin brutal, rudal-rudal yang dijatuhkan sampai membuat tubuh-tubuh warga sipil terpental. Membumbung tinggi ke udara. Kondisi Gaza makin membara dan porak-poranda, nyaris tak ada bangunan yang tersisa. Tempat tinggal, sekolah, hingga rumah sakit dijadikan sasaran. Korban nyawa sudah tak terhitung jumlahnya, bahkan tenaga medis dan jurnalis tak luput dari incaran Zionis. Persekutuan jahat antara Amerika dan Zionis Israel makin menunjukkan kepongahannya, tapi apa yang bisa dilakukan oleh negara-negara Islam?
Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto membuat pernyataan bahwa Indonesia siap menampung ribuan warga Gaza yang menjadi korban kekejaman Zionis Israel. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk berperan aktif dalam mendukung penyelesaian konflik di Palestina.
Presiden menegaskan Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan politik terkait penyelesaian konflik di Gaza meskipun secara geografis berada jauh dari Palestina. Selain sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia juga negara nonblok sehingga bebas aktif dan diterima oleh berbagai pihak yang berkonflik. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prabowo menjelang keberangkatannya untuk melawat ke beberapa negara Timur Tengah, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (9/4/2025).
Untuk mematangkan langkah ini, presiden akan segera mengirim Menteri Luar Negeri Sugiono untuk berkoordinasi langsung dengan otoritas Palestina dan pihak-pihak terkait di wilayah tersebut. Jika mereka mereka ingin mengevakuasi warga Gaza ke Indonesia, pemerintah siap mengirim pesawat untuk menjemput 1000 orang pada gelombang pertama. Dia jelaskan bahwa evakuasi tersebut bersifat sementara, warga Gaza yang dievakuasi nantinya akan dikembalikan setelah kondisi negaranya membaik (Beritasatu.com, 9/4/2025).
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tersebut menyulut pro kontra di tengah masyarakat, terutama umat Islam. Meskipun niatnya baik untuk membantu warga Gaza, tapi langkah ini dinilai sebagian besar umat justru berbahaya dan merugikan masyarakat Gaza itu sendiri. Tiga ormas besar di Indonesia yang menolak keras rencana tersebut antara lain Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketiganya menilai bahwa evakuasi tersebut justru mendukung agenda pengosongan Gaza oleh Israel dan Amerika Serikat.
Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdalla, Prabowo melakukan blunder terkait relokasi warga Gaza. Perpindahan warga Gaza ke luar Palestina justru sejalan dengan ambisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengosongkan Gaza. Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abas juga memberikan pernyataan tertulisnya, jika warga Gaza direlokasi ke Indonesia jangan mimpi Israel akan menerima kembali warga Gaza yang sudah dievakuasi tersebut. Demikian juga Wakil Ketua Umum MUI Buya Anwar, mengatakan hal senada (METROTV.com, 10/4/2025).
Dari dunia internasional, upaya mengevakuasi warga Gaza ke luar wilayah juga ditentang oleh Liga Arab. Ada dua syarat agar evakuasi bisa terealisasi yaitu pertama, mendapat dukungan negara-negara tetangga di Timur Tengah. Kedua, kewajiban mengembalikan setelah kondisi aman dan proses pengobatan korban sudah dianggap cukup. Pada 1 Februari 2025, Liga Arab mengafirmasi bahwa menolak segala jenis kompromisasi hak-hak Palestina yang tak bisa dicabut, baik melalui pemukiman, penggusuran dan pengosongan atas nama keadaan maupun justifikasi apa pun (The Begin-Sadat Center for Strategic Studies, 13 Februari 2025). Sebagaimana dilansir Republika.com (12/4/2025).
Evakuasi ataupun relokasi warga Gaza jelas bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan konflik peperangan di Palestina. Bahkan bertentangan dengan solusi yang diperintahkan Islam saat negeri muslim diserang, solusinya adalah jihad fi sabilillah. Seruan jihad juga sudah dikobarkan oleh persatuan ulama dunia dan umat Islam pun antusias menyambutnya. Sebab, memang terbukti tidak ada solusi lain yang mampu menghentikan serangan dan genosida di Gaza oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat kecuali dengan jihad.
Percuma perundingan, kecaman, gencatan senjata apalagi solusi dua negara. Kekejaman Zionis Israel hanya bisa dilawan dengan pasukan perang yang dikirim oleh negara-negara muslim. Namun, seruan para Ulama dan umat tidak mungkin terealisasi tanpa adanya peran negara. Sejauh ini, belum ada pemimpin negeri muslim yang menyatakan akan mengirim tentara ke Gaza untuk melawan Zionis Israel. Hal ini disebabkan negeri-negeri muslim tersebut masih bergantung kepada asing, sehingga ada kekhawatiran jika mereka menentang Amerika Serikat akan berimbas pada kepentingan negaranya sendiri.
Begitulah kondisi umat Islam tanpa adanya naungan, rumah permanen yang menyatukan seluruh umat Islam. Sebagaimana dahulu saat kekhalifahan Islam masih berdiri, selemah-lemahnya kondisi daulah, bangsa asing masih segan dan tidak berani mengusik wilayah kaum muslimin. Begitupun Palestina (Al-Quds) yang tetap dilindungi oleh Khilafah Utsmaniyah, hingga saat Khilafah runtuh dengan berbagai tipudaya, akhirnya Zionis Yahudi dibantu Inggris mulai memasuki wilayah Palestina hingga kini.
Umat Islam tidak berdaya untuk membela apalagi membebaskan Palestina. Umat hanya melihat sambil meratapi penderitaan mereka, kalaupun bisa membantu hanyalah bantuan fisik yang bersifat parsial. Sebab, umat Islam yang tadinya satu telah terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil. Umat Islam terbelenggu ikatan semu bernama nasionalisme.
Umat Islam tak lagi satu tubuh yang utuh. Nasionalisme telah mencabik-cabik persatuan dan persaudaraan mereka. Seakan tubuh yang dipotong-potong, umat Islam tak lagi bisa bergerak membela diri dari berbagai ancaman dan serangan. Bahkan, seringkali sesama umat Islam disibukkan dengan perdebatan dan pertikaian hanya karena perbedaan pemahaman dan kelompok.
Maka dari itu, harus ada upaya untuk menyatukan kembali tubuh yang sudah terpisah-terpisah. Yaitu dengan terus berdakwah untuk menyadarkan umat, bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah tegaknya Khilafah Islamiyah. Sebab, Khilafah merupakan kepimpinan tunggal bagi seluruh umat Islam dunia, yang akan menjadi pelindung dan perisai bagi umat Islam. Khalifah akan menyerukan jihad fi sabilillah untuk membebaskan wilayah muslim yang terjajah. Solusi hakiki bagi Palestina adalah jihad dan Khilafah. Wallahua’lam bi shawab.


