
Oleh: Nur Afni, (Pemerhati Sosial dan Politik, Deli Serdang)
Linimasanews.id—Problematika yang silih berganti terus terjadi dalam kehidupan masyarakat, bak benang kusut yang makin hari makin menjerat. Apalagi saat ini, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menambah daftar panjang kesulitan yang terus dialami masyarakat. Nilai rupiah yang dilaporkan menyentuh angka 17.600 per dolar AS. Penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS ini semakin mengkhawatirkan perekonomian Indonesia, dikarenakan Indonesia adalah negara importir, baik bahan baku, energi, maupun bahan industri dalam negeri yang mencapai 70% berasal dari impor.
Hal ini mengakibatkan biaya operasional dan harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Seperti kedelai yang terus mengalami kenaikan dalam tiga bulan terakhir, mulai harga Rp7000 per kilogram, kini mencapai Rp10.500 per kilogram itupun jenis kedelai yang paling murah (News Indonesia, 16/5/2026).
Salah satu dampak lemahnya nilai tukar rupiah juga dirasakan oleh ribuan nelayan di Pati, Jawa Tengah. Mereka menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk protes atas kenaikan harga solar yang mencapai 4 kali lipat. Kondisi ini makin mengimpit kehidupan rakyat dan meningkatnya biaya operasional diberbagai sektor. Akibatnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, banyak masyarakat yang terjerat dalam layanan pinjaman online (pinjol), yang dianggap sebagai jalan alternatif.
Miris. Sangat terlihat jelas jika Indonesia saat ini tengah mengalami krisis kepemimpinan. Pasalnya, ditengah kesulitan yang dialami oleh masyarakat akibat lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, justru Presiden RI dengan tenang menanggapi jika masyarakat tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar tersebut. Bahkan bapak Presiden menyatakan, “Rakyat di desa gak pakek dolar kok.” dikutip dari tayangan YouTube. Bahkan, beliau menegaskan jika kondisi pangan dan energi nasional masih aman di tengah kondisi global yang tidak stabil. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, namun Indonesia masih oke,” ujarnya (Kompas, 16/5/2026).
Jika kita telusuri, ada dua faktor penyebab lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, diantaranya:
Pertama, faktor eksternal (faktor dari luar). Konflik AS-Israel dengan Iran yang berawal sejak 28 Februari, yang mengakibatkan adanya pembatasan pada selat hormuz oleh Teheran. Konflik Global tersebut sangat berdampak terhadap stabilitas ekonomi dunia dikarenakan selat hormuz merupakan pelayaran minyak dunia dan gas alam cair, sehingga mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan gas alam yang terhambat. Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melambung tinggi, yang berakibat pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Kedua, faktor internal (faktor domestik). Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dikarenakan tingginya suku bunga dan inflasi global. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan baku yang dibutuhkan untuk kebutuhan masyarakat masih sangat bergantung pada impor terhadap negara luar. Akibatnya, para pengusaha mengalami kenaikan harga beli bahan baku ditengah krisis nilai rupiah saat ini. Sehingga, ketika biaya operasional dan biaya produksi meningkat, maka harga barang yang sampai di tangan masyarakat pasti mengalami kenaikan. Walaupun masyarakat tidak memakai dolar, seperti yang disampaikan oleh presiden.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah telah menyiapkan berbagai solusi untuk mengatasi lemahnya nilai tukar rupiah saat ini, seperti intervensi pasar valuta asing, pembelian surat berharga negara (SBN), pengawasan terhadap jual beli dolar, dan memberikan subsidi terhadap sektor pangan dan pelaku usaha. Di samping itu, pemerintah juga berupaya untuk menstabilkan harga dengan program ekonomi dan simulus pasar.
Namun, upaya pemerintah tersebut dinilai tidak menyentuh akar persoalan, lemahnya nilai tukar rupiah. Apalagi dengan adanya penambahan program MBG yang hanya menambah beban fiskal. Kebijakan pemerintah ini justru makin memperburuk kondisi masyarakat, ditambah utang negara yang makin meningkat. Utang negara yang terus membengkak, sementara kehidupan masyarakat masih jauh dari kategori sejahtera. Sejatinya ini adalah gambaran jika kondisi negara saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan masyarakat butuh solusi hakiki untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan saat ini. Bukan hanya menutupi kegagalan pemerintah dengan solusi tambal sulam semata atau gali lubang tutup lubang.
Krisis kepemimpinan yang diperlihatkan oleh pemimpin kita saat ini, sejatinya adalah hasil dari penerapan sistem yang salah. Sistem kapitalisme sekulerisme yang diemban oleh negara kita saat ini. Di mana sistem kapitalisme berlandaskan pada pemisahan agama dari kehidupan. Inilah yang menjadi akar permasalahannya. Ketika aturan agama dipisahkan dari kehidupan, maka problematika kehidupan masyarakat akan terus terjadi silih berganti, dan negara dalam sistem ini hanya mampu memberikan solusi tambal sulam, yang sama sekali tidak menyentuh hingga ke akar persoalan.
Lemahnya mata uang kertas yang ada di dunia sejatinya telah menunjukkan bahwa sistem kapitalisme sekulerisme tidak layak dijadikan sebagai asas dari kehidupan masyarakat, baik individu apalagi negara. Ketidakstabilan mata uang kertas yang kerap terjadi telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa masyarakat membutuhkan solusi yang mampu menstabilkan ekonomi dan menjamin kesejahteraan bagi masyarakat.
Sangat berbanding terbalik dengan sistem Islam. Sistem Islam yang berlandaskan pada aturan dari sang pencipta secara mutlak. Islam memberikan solusi ekonomi yang berlandaskan kepada syariat Sang Khaliq, yang menjadikan emas dan perak sebagai standar mata uang yang digunakan dalam transaksi. Sistem Islam terbukti mampu menjaga kestabilan nilai tukar dan melindungi masyarakat dari inflasi atau krisis ekonomi seperti saat ini.
Berbeda dengan sistem kapitalisme sekulerisme, sistem Islam menjadikan emas dan perak sebagai standar mata uang yang disyariatkan Allah Swt. yang dikenal dengan dinar dan dirham. Dalam Islam, negara tidak boleh menggunakan mata uang kertas, tetapi patokannya adalah emas dan perak, karena ini merupakan sistem mata uang terbaik diantara sistem yang lain. Dinar dan dirham memiliki nilai intrinsik dan ekstrinsik.
Berbeda dengan nilai rupiah yang tidak stabil, Dinar dan dirham adalah mata uang yang tangguh dan adil sebagai alat tukar bagi masyarakat. Dalam kitab Nidzomul Iqtishodiy fil Islam yang dituliskan oleh seorang mujtahid Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan dengan sangat rinci bahwa sistem yang menggunakan mata uang emas memiliki beberapa manfaat, Pertama, berfungsi menjaga stabilitas keuangan ataupun inflasi global. Kedua, menjaga kurs pertukaran mata uang antarnegara tetap stabil. Ketiga, pemerintah akan lebih waspada dalam mengeluarkan setiap mata uang, karena setiap mata uang yang dicetak wajib memiliki kandungan emas ataupun perak. Keempat, Negara akan menjaga sumber daya alam yang ada, apalagi emasnya. Kelima, untuk menghilangkan kelangkaan mata uang.
Sejatinya, solusi hakiki untuk permasalahan lemahnya nilai mata uang saat ini adalah kembali kepada sistem Islam, yakni sistem yang berasal dari Sang Khaliq. Terbukti ketika peradaban Islam memimpin dunia, sistem keuangan global menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak), terbukti sistem keuangan ini mampu menciptakan stabilitas ekonomi yang luar biasa tanpa mengakibatkan inflasi selama berabad-abad, karena nilai mata uang ini melekat pada komoditas fisik itu sendiri (intrinsik). Mata uang dalam Islam terbuat dari logam mulia, maka nilai uang tidak bisa dimanipulasi oleh pencetakan massal seperti uang kertas modern.
Sikap seorang khalifah dalam sejarah Islam ketika menghadapi krisis ekonomi atau inflasi nilai mata uang dengan mengombinasikan kebijakan fiskal yang ketat, intervensi pasar, dan pemenuhan kebutuhan sosial sesuai syariat Islam. Contohnya pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, melakukan reformasi moneter dengan mencetak dinar dan dirham Islam mandiri untuk menyamakan standar dan mencegah spekulasi nilai. Khalifah juga menindak tegas para pedagang yang sengaja menahan barang untuk menaikkan harga secara sepihak, dan masih banyak lagi upaya yang dilakukan seorang Khalifah untuk menangani lemahnya nilai tukar mata uang, dan mengambil solusi hingga ke akar persoalan.
Sudah saatnya umat bangkit dan bersatu untuk menegakkan kembali sistem Islam dimuka bumi ini. Hanya sistem Islam lah yang mampu menjaga dan menyejahterakan kehidupan masyarakat, karena aturan yang sempurna hanya lahir dari Sang Pencipta yakni Allah Swt, bukan berasal dari manusia yang hanyalah seorang makhluk ciptaan. Wallahualam bisawab.


