
Oleh: Ima Desi
(Pendidik)
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka.” (QS. An-Nisa: 9)
Linimasanews.id—Begitu jelas pesan Allah dalam kalamnya yang mulia. Bahwa hendaknya setiap muslim tidak meninggalkan generasi yang lemah setelahnya. Namun hari ini, realita yang terjadu justru sebaliknya. Begitu banyak persoalan yang menimpa generasi muda.
Dilansir kompas.id (31/10/2025), pada akhir bulan Oktober ini, dalam sepekan terakhir, telah ditemukan dua anak meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Sementara itu, di tempat yang berbeda juga ditemukan kasus serupa yakni dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat yang juga ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025 ini (BBC.com, 3/11/2025).
Peristiwa semacam ini harus menjadi perhatian penting bagi semua pihak. Angka bunuh diri yang terus meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati agar tak terus berulang di kemudian hari. Tidak bisa dimungkiri, bahwa generasi hari ini adalah generasi yang hidup di era yang serba cepat, akses informasi yang sangat luas. Namun, hal ini tidak lantas membuat mereka menjadi generasi yang kuat kepribadiannya, justru generasi hari ini adalah generasi yang seperti hilang arah, krisis identitas, tidak paham hidupnya untuk apa.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan yang diterapkan. Bagaimana sistem pendidikan membentuk kualitas generasi. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia-manusia yang utuh, paham arah tujuan hidupnya sehingga tidak mudah putus asa menghadapi tantangan kehidupan yang ada, sayangnya tidak dijumpai lagi.
Fakta memang menunjukkan bahwa pendidikan hari ini hanya berorientasi pada aspek materi saja. Siswa didorong untuk meraih prestasi, baik akademik maupun nonakademik sebanyak-banyaknya. Sedangkan aspek agama yang menjadi benteng untuk mengokohkan dirinya dari kerapuhan justru diabaikan.
Agama hanya dipelajari dari aspek teoritis saja sehingga tidak berpengaruh pada amal dan tidak mengokohkan jiwa para peserta didik. Inilah implikasi dari penerapan sistem pendidikan sekuler. Bagaimana sekularisme secara perlahan mengikis identitas keagamaan dan kebudayaan, menciptakan generasi yang rapuh, generasi yang merasa hampa dalam kehidupannya sendiri.
Islam menjadikan dasar pendidikan, baik dalam keluarga, sekolah, dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah Islam. Akidah inilah yang akan melahirkan keimanan yang kokoh. Jika seseorang dihadapkan dengan kondisi sulit maka imannya akan memberikan respons bahwa Rabbnya tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kesanggupan. Pemahaman inilah yang akan menjadi benteng bagi generasi sehingga mereka tidak mudah rapuh, putus asa, karena mereka yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambanya.
Selain itu, tujuan pendidikan Islam juga jelas. Keberadaannya adalah untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya pandai secara akademis, tetapi yang lebih penting dari itu adalah membentuk peserta didik yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam sehingga terbentuk dalam dirinya kepribadian Islam (karakter Islam). Selain itu, sistem pendidikan Islam juga mendorong peserta didik untuk menguasi ilmu pengetahuan sehingga peserta didik mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan pelaksanaan pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam, akan melahirkan generasi yang tangguh dan tidak mudah mengakhiri hidupnya sebagaimana yang terjadi dalam sistem pendidikan sekuler hari ini.


