
Oleh: Novi Ummu Mafa
Linimasanews.id—Genosida di Gaza belum usai, kini jagat diramaikan dengan genosida yang terjadi di Sudan. Tercatat, hanya dalam waktu 3 hari, lebih dari 1500 warga tewas disebabkan oleh pasukan dukungan cepat atau RSF yang telah menguasai Kota El-Fasher. Hal ini juga menyebabkan lebih dari 62.000 lebih warga terpaksa harus mengungsi (Antaranews.com, 01-11-2025).
Sebelumnya, RSF telah terlibat dalam perang saudara berdarah dengan tentara Sudan sejak tahun 2023. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu rakyat sipil dan membuat lebih dari 12 juta orang mengungsi. Pemerintah Sudan melaporkan bahwa sedikitnya 2000 orang telah tewas di kota tersebut sejak saat itu.
Konflik Kepentingan
Perang Sudan sejatinya bukan sekadar perubutan kekuasaan antara ASF atau angkatan bersenjata Sudan dan RFS. Konflik ini terjadi karena ada campur tangan asing. Aktor utama konflik ini adalah Amerika Serikat dan Inggris. Kedua negara itu memainkan peran melalui duta besar dan utusan mereka dengan menghubungkan para antek di lapangan baik dari kalangan politisi, organisasi sipil, maupun pemimpin militer.
Sejak awal perang, media pendukung ASF menggiring opini publik bahwa pertempuran akan berakhir dalam hitungan jam. Mereka menegaskan bahwa angkatan udara ASF akan menyelesaikan para pemberontak sehingga publik yakin ASF tidak terlibat langsung di medan perang. Narasi ini dimaksudkan untuk menciptakan legitimasi moral dan mengendalikan persepsi rakyat. Bahkan, evakuasi warga dilakukan demi mempercepat operasi militer, bukan untuk melindungi mereka.
Sebaliknya, media pendukung RSF memainkan isu kesukuan dan sektarian untuk memobilisasi dukungan. Mereka menyebarkan disinformasi, memutarbalikkan fakta, dan menutupi kepentingan asing di balik konflik. Tidak satu pun media ini mengungkap bahwa perang Sudan merupakan perebutan pengaruh antara Amerika dan Inggris. Mereka juga menutupi fakta pertemuan berulang antara pemimpin ASF dan RSF dengan diplomat dan pejabat tinggi Amerika Serikat sebelum pecahnya perang.
Siapa yang Diuntungkan?
Konflik antara ASF dan RSF sejatinya adalah pertarungan antaragen militer yang sama-sama berada dalam pengaruh Washington. Amerika Serikat-lah pihak pertama yang diuntungkan dari perang ini. Dengan pecahnya perang, Amerika Serikat berhasil melemahkan dan menjauhkan pengaruh agen-agen sipil yang lebih dekat dengan Inggris yang sebelumnya hampir memonopoli kekuasaan politik di Sudan.
Bagi militer Sudan sendiri, perang ini menjadi sarana untuk menata ulang politik mereka. Kekacauan besar akibat perang membuat publik melupakan dosa-dosa masa lalu militer, seperti kudeta, represi, dan pelanggaran lainnya. Dalam situasi itu, militer berupaya membangun citra baru sebagai penyelamat bangsa, mendapatkan kembali kehormatan dan legitimasi yang telah lama hilang.
Amerika Serikat mengklaim tidak terlibat dalam perang Sudan. Sementara Presiden Mesir Abdul Fattah Alisi menegaskan bahwa konflik tersebut adalah masalah internal Sudan dan tidak boleh ada pihak luar yang ikut campur. Namun faktanya, Amerika Serikat justru menjadi pihak yang paling aktif mengatur gencatan senjata. Sepanjang perang, Amerika Serikat memprakarsai sedikitnya tujuh kali gencatan senjata. Amerika menjadikan perang Sudan sebagai alat untuk membentuk tatanan baru di negara itu. Tujuannya, jelas menyingkirkan pengaruh Eropa khususnya Inggris dan menjaga kendali melalui agen-agennya di kedua kubu.
Penderitaan rakyat, seperti pembunuhan, pengusiran, pemberkosaan, dan penjarahan tak menjadi pertimbangan. Hal ini tampak dalam poin ketujuh KTT Kairo yang menegaskan upaya Amerika Serikat menjauhkan warga sipil dan agen Inggris dari kekuasaan setelah mereka menyetujui draf perjanjian politik. Dengan demikian, perang ini berfungsi untuk menggagalkan dominasi sipil pro Inggris dan mempertahankan kekuasaan di tangan militer sekutu Amerika.
Amerika Serikat menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan posisinya sebagai kekuatan global. Bahkan, Amerika Serikat memberikan sanksi terhadap negara atau rezim yang dianggap mengancam pengaruhnya, sekalipun terhadap anteknya sendiri.
Karena itu, umat Islam harus dinaikkan level berpikirnya agar mampu membaca seluruh problem dunia dalam kacamata ideologis, bukan sekadar isu politik atau konflik kekuasaan semata. Umat perlu menyadari bahwa perang, ketidakadilan, dan krisis global hari ini merupakan bagian dari pertarungan ideologis antara Islam dan kapitalisme.
Saatnya Kembali pada Kehidupan Islam
Hanya dengan pandangan yang jernih dan berpijak pada akidah Islam, umat akan memahami bahwa solusi sejati bukanlah kompromi dengan sistem sekuler, melainkan kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan khilafah. Khilafah akan memulihkan keadaan menjadi normal kembali dengan cara hidup islami dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan rampasan.
Khilafah akan menghapus segala bentuk hegemoni asing yang selama ini merampas kekayaan dan menjajah di berbagai bidang di negeri-negeri muslim. Dengan sistem khilafah, kepemimpinan berfungsi sebagai pelindung dan pengatur urusan umat bukan alat untuk menindas. Sejarah pun telah membuktikan bahwa khilafah mampu menjamin perdamaian dunia selama berabad-abad, menegakkan keadilan, melindungi minoritas, serta mengatur hubungan antarnegara dengan prinsip kemanusiaan dan kemuliaan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya ayat 107, “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”.
Ayat ini menegaskan bahwa rahmat dan keadilan global hanya akan terwujud jika Islam diterapkan secara kafah. Kesadaran ini harus menumbuhkan dorongan iman bagi umat untuk menghadirkan kembali khilafah sebagai sistem yang menyatukan negeri-negeri Islam dan melindungi seluruh umat manusia dari penindasan.


