
Oleh: Rini Rahayu (Aktivis Muslimah Yogyakarta)
Linimasanews.id—Momen lebaran adalah salah satu momen yang rutin dimanfaatkan para perantau untuk pulang ke kampung halamannya. Tentu saja hal ini berdampak pada kondisi lalulintas, kemacetan bahkan kecelakaan pun kerap terjadi pada momen ini. Keruwetan jalanan tak bisa dihindari dan akan menimbulkan masalah setiap tahunnya. Walaupun hal seperti ini terus berulang, namun tidak ada perbaikan yang signifikan, solusi yang ditempuh tidak juga bisa mengurai masalah kemacetan dan menghilangkan angka kecelakaan di jalan. Kecelakaan dan kemacetan justru makin meningkat karena jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah.
Kemacetan dan kecelakaan saat arus mudik memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Kecelakaan maut telah terjadi di Tol Pejagan-Pemalang (PPTR) KM 290 pada Kamis (19/3) pagi, walaupun saat itu diberlakukan one way arah Pemalang. Kecelakaan ini telah merenggut 4 korban jiwa meninggal dunia dan satu orang luka-luka (kumparan.com, 19/03/2026).
Walaupun korban jiwa mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Korlantas Polri mengungkap angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan. Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno, mengatakan bahwa jumlah yang meninggal dunia turun 13,50%, sedangkan untuk yang luka ringan naik 19,63% dan luka berat naik 9,42% (kumparan.com, 19/03/2026).
Berulangnya kasus kecelakaan dan kemacetan menunjukkan peliknya mudik dalam paham kapitalistik yang dianut sekarang ini. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah kurang efektif dan bahkan gagal menyelesaikan masalah. Penyebabnya adalah penyelesaian yang ditempuh tidak menyentuh pada akar masalah yang sebenarnya, justru terkesan seolah tindakan penyelesaiannya hanya solusi tambal sulam semata.
Misalnya upaya merekayasa lalu lintas melalui one way dan contra flow, penambahan armada angkutan umum, dan memperbaiki sebagian kerusakan jalan, namun ternyata tetap saja hal ini tidak bisa membuat kecelakaan dan kemacetan lalu lintas saat arus mudik dan balik terhindari. Hal ini seharusnya membuat pemerintah berbenah dan mengevaluasi setiap kebijakannya.
Seharusnya pemerintah menyadari bahwa hal ini terjadi karena tidak meratanya pembangunan sampai ke daerah-daerah, sehingga banyak masyarakat yang mencari pekerjaan di ibu kota. Hal ini merupakan bukti bahwa sistem kapitalismr yang diterapkan tidak mampu menyejahterakan rakyat secara merata. Selain itu, infrastruktur yang memadai dan layak serta aman juga harus diperhatikan. Pengecekan kelayakan harus dilakukan secara berkala, bukan saat menjelang liburan saja.
Faktor lain yang harus menjadi perhatian adalah pelayanan transportasi publik. Bukan hanya sekadar menambah armada, namun juga kenyamanan dan kemudahan dalam mengakses transportasi umum. Dalam sistem kapitalisme sekarang ini, justru dijadikan peluang meraup keuntungan, yaitu dengan menaikkan harga tiket transportasi umum, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi didukung oleh banyaknya lembaga-lembaga keuangan yang menawarkan kemudahan dalam kredit kendaraan, masyarakat bisa dengan mudah memiliki kendaraan.
Kendaraan pribadi tidak hanya dipandang sebagai gaya hidup namun dijadikan kebutuhan hidup. Sistem kapitalisme-sekularisme terbukti secara nyata hanya berpihak kepada kaum kapitalis atau pemilik modal semata, tanpa memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Sistem ini menciptakan kesan bahwa kepemilikan jenis dan jumlah kendaraan pribadi akan menentukan strata sosial masyarakat, sehingga masyarakat akan cenderung memaksakan diri untuk memiliki kendaraan pribadi. Hal inilah yang menyumbang terjadinya kemacetan di kota-kota besar bahkan di hari-hari efektif.
Sistem japitalisme lebih mengutamakan asas manfaat dan keuntungan semata bukan untuk kesejahteraan rakyat. Negara dalam sistem kapitalisme tidak mewujudkan fungsi raa’in yang mengurusi rakyat. Negara abai menjamin keselamatan rakyat.
Kesemrawutan hidup manusia terjadi karena manusia diatur dengan sistem yang tidak sesuai dengan fitrahnya, hal ini justru akan merugikan manusia. Maka sudah selayaknya untuk menggantikan sistem hidup dengan yang lebih baik yang memahami fitrah manusia secara sempurna, karena sistem ini dibuat oleh sang Pencipta, yaitu Allah Swt. Allah menciptakan aturan-aturan yang memudahkan hidup manusia bukan untuk memberatkan atau membebani. Aturan Allah terbukti yang paling adil dan sesuai dengan kebutuhan manusia bukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan dan berasaskan manfaat saja. Sistem yang sudah terbukti selama 1300 tahun membawa manusia ke dalam peradaban yang cemerlang yaitu sistem Islam.
Dalam sistem Islam, negara atau pemerintah adalah berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang mengurusi urusan rakyatnya dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kesejahteraan rakyat akan tercipta karena sistem ini akan membentuk kepemimpinan yang tangguh. Hal ini karena Islam memerintahkan para penguasa/pemerintah sebagai pemangku kekuasaan untuk bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Rasulullah saw bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sistem hidup yang Allah wahyukan kepada Rasulullah saw. berupa Al-Qur’an dan As-sunah ini akan membentuk karakter manusia yang bertakwa kepada Allah Swt. Maka seorang pemimpin atau penguasa akan memimpin rakyatnya dengan penuh tanggung jawab, seorang pemimpin akan memberikan perlindungan dan pelayanan yang maksimal kepada rakyatnya yang didasari oleh iman dan takwa kepada Allah. Oleh sebab itu, akses jalan yang merupakan sarana vital pembangunan senantiasa dijaga oleh negara, karena jalan merupakan sarana yang menunjang aktivitas rakyat dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ibadah maupun muamalah.
Demikian pula dengan transportasi umum, negara akan memberikan pelayanan yang maksimal dengan cara memberikan kemudahan untuk mengaksesnya. Negara sejatinya ada untuk melayani rakyat, bukan untuk berbisnis dan meraup keuntungan dari rakyatnya seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme yang dianut saat ini. Penggunaan kendaraan pribadi akan terpantau pendistribusiannya, mereka yang memiliki kendaraan pribadi hanya mereka yang benar-benar mampu membelinya, bukan mereka yang memaksakan diri membeli seperti sekarang ini, walaupun harus membeli dengan cara ribawi.
Sungguh, Islam adalah sistem yang sempurna dengan segala aturannya. Maha Sempurna Allah yang telah memberikan petunjuk kepada manusia melalui Al-Qur’an serta menunjuk Rasulullah saw. sebagai contoh atau suri tauladan yang baik untuk diterapkan di muka bumi secara kafah. Sehingga dalam sistem Islam, urusan mudik bukanlah urusan yang pelik dan tidak bisa diperbaiki, karena Islam akan membuat aturan yang tegas yang berlandaskan kepentingan umat bukan untuk meraup keuntungan semata. Wallahua’lam.


