
Oleh: Murni Cendra Kasih, S.Pd.,Gr.
Linimasanews.id—Muharram tahun ini datang di tengah hamparan luka dan nestapa yang belum juga membaik. Saat ini, kondisi kaum muslimin secara global masih sangat jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik). Padahal, Allah Swt. telah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran [3]: 110)
Umat Islam kini dicengkeram krisis multidimensi yang luar biasa berat. Rakyat terus dibelit oleh kemiskinan struktural. Kerusakan moral kian merajalela, mulai dari maraknya judi online (judol), prostitusi anak, kasus bullying, eksploitasi seksual, hingga berbagai tindak kekerasan yang makin ekstrem.
Tragedi kemanusiaan dan genosida di Palestina pun masih terus berlangsung tanpa henti. Umat Islam di Gaza dibiarkan kelaparan dan dibantai, sementara para penguasa negeri-negeri Muslim di sekitarnya tampak lumpuh, diam, dan seolah mengabaikan persaudaraan iman yang telah digariskan oleh Rasulullah ﷺ:
*الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ*
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Bukhari dan Muslim)
Mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa umat yang besar ini seolah tidak berdaya?
Seluruh kenestapaan di dalam negeri adalah akibat nyata dari diterapkannya sistem sekularisme-kapitalisme. Ketika aturan agama dipisahkan dari kehidupan, standar kebahagiaan bergeser menjadi sekadar manfaat materi. Tolok ukur halal-haram diabaikan, sehingga memicu kerusakan yang merata di seluruh lini kehidupan
Lemahnya umat Islam di panggung internasional, termasuk ketidakmampuan menyelamatkan Palestina, berakar pada satu hal. Yaitu, tidak adanya institusi politik global yang menyatukan dan melindungi umat. Umat Islam saat ini terpecah-belah oleh sekat-sekat nasionalisme dan dipaksa tunduk pada dominasi serta kepentingan kekuatan asing.
Muharram: Momentum Hijrah Hakiki menuju Islam Kaffah
Muharram harus menjadi titik balik. Semua kenestapaan ini bukanlah takdir mati yang harus diterima begitu saja dengan sikap pasrah, melainkan buah dari jauhnya umat dari aturan Allah Swt. Oleh karena itu, makna hijrah hakiki hari ini adalah berjuang secara totalitas untuk berpindah dari sistem sekuler menuju penerapan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah).
Perubahan hakiki yang membawa rahmat bagi alam semesta ini tidak datang secara instan. Ia membutuhkan perjuangan yang panjang, konsisten, dan terorganisir (kutlah), sebagaimana yang dahulu dilakukan Rasulullah dan para sahabat di masa kenabian.
Karena itu, menegakkan kembali syariat Allah bukan tugas individu perorangan semata. Ini adalah kewajiban kolektif. Sudah saatnya umat Islam bangkit dan bergerak bersama dalam sebuah jamaah dakwah Islam ideologis untuk mengubah keadaan hari ini.
Allah Swt. berfirman,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imran [3]: 104)
Jamaah yang dimaksud mesti konsisten mengambil dan mencontoh thariqah (metode) dakwah Rasulullah ﷺ guna menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah. Sebab, hanya dengan institusi khilafah inilah, Islam yang kaffah dapat diterapkan, kehormatan umat Islam dapat dijaga, dan keadilan Islam dapat dirasakan oleh seluruh dunia. Karena itu, Muharram 1448 H ini mesti dijadikan sebagai momentum awal kebangkitan Islam.


