
Oleh: Saniati
Linimasanews.id—Dikutip dari detiksumut.com (5/8/2026), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Riau (Unri), dr. TB Odih R Wahid, buka suara soal dokter ACL mengakhiri hidup dengan menyuntikkan obat karena terlilit pinjaman online dan tekanan psikologis. Ia menyebut seseorang yang menjalani pendidikan memiliki beban dan target.
Tekanan fisiologi tersebut tidak selalu berarti negatif. Seperti pada umumnya bila seseorang menjalani pendidikan apa pun tentu akan ada beban dan target dalam pendidikan, tergantung penyikapan dalam masalah yang dihadapi.
Depresi yang sampai menghilangkan nyawa sendiri bisa menyerang siapa saja, baik dari kalangan muda maupun tua, pria maupun wanita. Mirisnya, kasus bunuh diri yang marak terjadi karena kasus hutang pinjol. Pinjaman online dalam sistem modern saat ini memang sangat mudah ditemukan, jika dahulu ingin mencari pinjaman harus dengan mendatangi tempat seperti bank dan rentenir, saat ini dengan kemajuan teknologi digital cukup dengan bermodalkan data diri masyarakat sudah bisa mendapatkan pinjaman yang diinginkan. Masyarakat pun akhirnya banyak yang tergiur akibat sulitnya hidup saat ini ditambah lagi minimnya gaji yang didapatkan dan standar UMR tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.
Pinjaman pinjol juga menjangkiti masyarakat yang menerapkan gaya hidup materialistis dan hedonis. Akhirnya, pengeluaran disedot tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja melainkan untuk gaya hidup yang tidak penting, sampai- sampai banyak masyarakat yang memaksakan diri hingga terjerat utang. Abainya negara juga menjadi faktor yang memaksa masyarakat harus berutang tanpa berpikir keharaman dan kesulitannya untuk membayar.
Hal ini tidak lepas dari penerapan sistem sekuler dan ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini, negara kehilangan fungsinya sebagai pengurus rakyat, negara malah menyerahkan dalam hal pengurusan rakyat kepada pihak swasta dan tentu saja ini berujung bisnis yang membuat masyarakat sengsara. Masyarakat pun harus mengakses segala kebutuhan hidup dengan harga mahal, hingga dengan merasakan beban hidup yang cukup berat, masyarakat mampu mengambil jalan instan dengan mengakhiri hidupnya.
Maraknya bunuh diri yang terjadi saat ini menunjukan gagalnya negara membentuk keimanan yang kokoh dan mental yang kuat pada masyarakat. Negara juga gagal menjamin pemenuhan kebutuhan terhadap sandang, pangan, dan papan.
Sejatinya, negara adalah ra’in atau pengurus rakyat. Hanya saja itu akan terwujud dalam negara yang berlandaskan Islam dan menerapkan Islam secara kaffah. Di dalam Islam, negara akan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya, khususnya untuk pencari nafkah. Negara akan melarang segala bentuk transaksi yang berkaitan dengan riba, baik itu pinjaman dalam bentuk online atau offline.
Riba adalah dosa besar yang diharamkan Allah dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 275, “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri kecuali sebagaimana berdirinya orang yang kerasukan setan karena penyakit gila.”
Negara Islam juga menerapkan pendidikan yang berasaskan akidah Islam agar dapat membentuk generasi berkepribadian Islam dan mempunyai keimanan yang kokoh dan bermental kuat, sehingga dalam menghadapi suatu masalah dalam hidup tidak gampang mengambil jalan instan seperti bunuh diri. Hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan segala permasalahan hidup. Penyelesaian ini dapat terwujud apabila negara mampu menjalankan syariat secara kaffah di tengah-tengah kehidupan. Wallahualam.


