
Oleh: Ika Kusuma
Linimasanews.id—Keputusan Yusrizal pasien BPJS mengunggah curhatan ke akun Threads pribadinya terkait tidak segera mendapat kamar rawat inap hingga hampir 8 jam menunggu, ternyata justru menjadi bumerang karena viral. Unggahan Yusrizal tersebut mengundang beragam komentar termasuk dari akun yang diduga milik dokter dan juga nakes. Sayangnya, alih-alih memberi dukungan moral, justru komentar nirempati yang didapat Yusrizal dari oknum dokter dan tenaga kesehatan (nakes). Komentar yang dinilai tak pantas tersebut mengundang kemarahan netizen, terlebih diketahui Yusrizal pun telah meninggal dunia.
Menanggapi kasus ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tim Inspektorat Jenderal Kemenkes telah diminta melakukan audit untuk mengetahui status serta pelanggaran yang dilakukan pihak terkait. Kendati sejumlah terduga pelaku perundungan telah klarifikasi dan meminta maaf, namun penyelidikan harus tetap dilakukan (metrotv, 8 Agustus 2026).
Banyak hal yang kemudian bisa dibedah dari kasus viral ini. Komentar mencibir pasien BPJS oleh oknum dokter dan nakes ini jelas menunjukkan nirempati (cacat kepribadian) mereka terhadap pasien. Sangat disayangkan hal seperti ini justru terlontar dari orang terdidik yang seharusnya paham kode etik melayani pasien dengan baik dan penuh dedikasi.
Namun, tak ada asap jika tak ada api. Sikap nirempati para nakes juga lahir dari ketidakadilan sistem kesehatan hari ini. Pembayaran BPJS kepada rumah sakit oleh negara juga sering bermasalah sehingga muncul diskriminasi dalam pelayanan kesehatan. Pemenuhan kesejahteraan nakes pun masih jauh dari kata layak. Di samping itu, tekanan kerja yang berat juga ikut menjadi faktor yang bisa menggangu kestabilan emosi mereka, sekalipun hal ini tidak bisa membenarkan tindakan mereka.
Nirempati ini juga tak lepas dari paradigma berpikir dalam sistem kapitalisme yang memandang kesehatan tak jauh dari sekadar objek ekonomi yang ditakar atas dasar untung dan rugi. Kesulitan pasien dalam mendapatkan ruang perawatan karena keterbatasan sarana atau mendapatkan tindakan diskriminatif ini mencerminkan negara telah gagal dalam menjamin kesehatan masyarakat. Jaminan kesehatan yang seharusnya diberikan oleh negara secara merata, justru dibebankan pada pasien. Fasilitas yang cepat dan memadai bagi pasien tergantung dari seberapa besar pasien mampu membayar. Miris. Seolah ada aturan tak tertulis: orang miskin dilarang sakit. Inilah dampak nyata kapitalisasi kesehatan. Nirempati oknum nakes juga membuktikan sistem pendidikan sekuler kapitalis gagal mencetak individu yang tidak hanya sekadar berilmu namun juga berakhlak mulia.
Disadari ataupun tidak, kerusakan sistem hari ini tidak hanya merugikan masyarakat, namun juga merusak setiap tatanan kehidupan manusia. Sementara, Islam mampu menyelesaikan semua problematika ini, dengan penerapan syariat Islam secara kafah.
Dalam Islam, sistem pendidikan berbasis syariat, bertujuan membentuk individu berkepribadian Islam yang tudak hanya cemerlang dalam ilmu, tetapi juga tinggi adab. Hal ini penting sebagai fondasi sekaligus kontrol ketika individu akan bersikap.
Selain itu, dalam sistem Islam, negara sebagai pemelihara sekaligus pelindung bagi rakyatnya. Negara wajib menjamin setiap kebutuhan pokok umat terpenuhi, individu per individu, termasuk kesehatan. Negara akan memastikan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan secara merata dan berkualitas agar setiap individu bisa mengakses fasilitas kesehatan dengan cepat mudah dan gratis.
Pembiayaan kesehatan akan ditanggung negara, tanpa dibebankan pada masyarakat. Sebab, negara sudah memiliki sumber pendanaan yang stabil dengan banyak pos-pos di Baitul Mal. Hal ini juga memungkinkan negara memberikan kesejahteraan yang layak bagi para nakes dan dokter agar mereka mampu bekerja secara optimal sehingga rakyat pun tak lagi was-was ketika hendak berobat.
Perlu digarisbawahi, paradigma berpikir dalam Islam juga mampu melahirkan pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab. Hal ini tentu bukan sekadar teori. Selama 13 abad sistem Islam ditegakkan, tidak hanya kesehatan, kesejahteraan dan keamanan masyarakat pun terjamin.
Pada masa keemasan Islam, di setiap ibu kota pemerintahan dibangun rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap. Misalnya, rumah sakit (Bimaristan) pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengobatan dan perawatan, tetapi juga laboratorium dan sekolah kedokteran dengan standar tinggi.
Sistem pendidikan dalam Islam kemudian banyak melahirkan tokoh cendekiawan yang tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga sains. Ibnu Sina yang di Barat dikenal sebagai Avicenna, misalnya, seorang muslim polimat atau cendekiawan muslim yang juga seorang dokter, astronom, dan penulis terpenting dari zaman Keemasan Islam. Ia dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Buku Al-Qānūn fī al-Thibb (Buku Pengobatan) karyanya menjadi ensiklopedia medis yang menjadi buku rujukan dan standar di bidang kedokteran pada berbagai universitas dan terus digunakan selama berabad-abad setelahnya. Hal ini membuktikan, ilmu agama dan sains mampu berkembang pesat tanpa harus dipisahkan. Bukan seperti pada sistem sekularisme hari ini yang memisahkan nilai agama dari aturan kehidupan.
Jelas sudah, kerusakan dalam hal apa pun, lahir dalam sistem yang rusak. Sistem kapitalisme jelas merugikan rakyat dari segi apa pun. Maka, diperlukan perubahan paradigma berpikir dari sistem kapitalis kepada sistem Islam yang jelas sempurna mengatur kehidupan manusia.


