
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Ummat)
Linimasanews.id—Pada Senin (31/8) lalu, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, melakukan tindakan provokatif dengan menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
Ben-Gvir melakukan do’a dan ritual Talmud di bagian Timur halaman masjid yang selama ini terlarang untuk dilakukan sejak 1967. Bahkan dia juga menyerukan agar sebuah sinagoge Yahudi dibangun di lokasi tersebut (detik.com, 01/09/2026).
Ben-Gvir adalah pendukung tetap pembersihan etnis Palestina dari wilayah yang diduduki Zionis Israel. Dia juga menyampaikan rencana mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam rentang waktu tujuh tahun dengan dalih ‘migrasi sukarela.’ Rencana tersebut sejalan dengan program Kementerian Pertahanan Israel, Kartz. Dia mengungkapkan akan menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina dari jalur Gaza, namun hal ini masih menunggu persetujuan dari Amerika.
Sedangkan di Tepi Barat, pemukim Yahudi melakukan tindakan teror dengan menerobos masuk ke sebuah masjid, lalu membakarnya. Mereka juga mencoret dindingnya dengan tulisan yang bernada rasis serta ancaman kepada warga Palestina (detik.com, 26/07/2026).
Nation State Menyuburkan Penjajahan
Konflik yang terjadi di Palestina adalah konsekuensi logis dari sistem negara bangsa atau nation state pada negeri-negeri kaum muslimin. Sejak runtuhnya Khilafah 1924, umat Islam tidak lagi berada dalam satu kesatuan politik. Dampaknya, kekuatan kaum muslim melemah lalu terpecah belah akibat sekat nasionalisme. Wilayah negeri-negeri kaum muslim mengalami penjajahan, sebagaimana di Palestina.
Padahal selama kurun 14 abad umat Islam dalam satu naungan institusi politik bernama Khilafah, selama itulah umat Islam tidak pernah mengalami penjajahan, penghinaan, pelecehan dan keterpurukan seperti saat ini. Saat umat Islam mengadopsi sistem politik demokrasi di negeri-negeri mereka, umat terjebak dengan hukum internasional modern produk negara-negara imperialis Barat. Mereka menormalisasi penjajahan melalui istilah-istilah halus seperti ‘migrasi sukarela’.
Sekat nasionalisme telah menjadikan setiap negara muslim tidak perduli lagi dengan saudara seaqidahnya di wilayah lain yang sedang dijajah, seperti Palestina. Bahkan para penguasa negeri-negeri muslim sebatas mengecam dan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Tidak ada satu pun tentara yang dikirimkan untuk mengusir kaum penjajah. Bahkan yang lebih memilukan, penguasa negeri-negeri kaum muslim berjabat tangan dan melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah Zionis Israel.
Di sisi lain, entitas Zionis Israel sejatinya bukan entitas berdaulat yang independen. Hal itu bisa kita cermati dari ketergantungan Israel dengan dana dan persetujuan Amerika Serikat dalam setiap kebijakan politik dan militernya. Sehingga jelas, keberadaan Zionis Israel adalah sebagai proxy Amerika Serikat di Timur Tengah untuk hegemoni dan pengaruhnya di kawasan tersebut. Konflik di Palestina, semata-mata untuk menyibukkan dan mencegah kebangkitan umat Islam secara politik dalam institusi Khilafah.
Khilafah Satu-satunya Junnah
Sesungguhnya solusi mendasar atas penjajahan di Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya adalah dengan tegaknya Khilafah. Khilafah berperan sebagai junnah atau perisai yang akan melindungi segenap jiwa dan setiap jengkal tanah umat Islam.
Khilafah akan menyerukan jihad sebagai metode baku politik luar negerinya. Khilafah akan merapatkan barisan tentara kaum muslimin untuk berjihad fii sabilillah, mengusir para penjajah serta menyerukan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Khilafah akan memutus ketergantungan ekonomi dan politik kaum muslimin dengan negeri-negeri imperialis Barat yang menyokong institusi Zionis. Khilafah juga akan mengonsolidasi semua potensi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA), seperti minyak bumi dan sumber energi strategis lain secara independen untuk pembebasan Palestina.
Khatimah
Oleh karena itu, umat Islam harus menyadari pentingnya kembali kepada penerapan syari’at Islam dalam naungan Khilafah. Umat juga harus terlibat secara aktif berdakwah, sebagaimana metode dakwah Nabi Muhammad saw. Sehingga, ukhuwah Islam segera terwujud dalam naungan Khilafah untuk menghentikan segala bentuk penjajahan di alam semesta, termasuk di Palestina. Wallahualam bisawab.


