
Oleh: Ida Fitri (Pemerhati Pendidikan)
Linimasanews.id—Pembicaraan mengenai generasi muda yang masih dibantu secara finansial oleh orang tua sering kali bergerak terlalu cepat menuju penilaian. Angka seperti 64 persen generasi muda dalam kelompok tersebut umumnya langsung dibaca sebagai tanda melemahnya kemandirian. Padahal jika dilihat lebih perlahan, fenomena ini muncul dari pertemuan beberapa lapisan sekaligus, yaitu kondisi ekonomi yang berubah, kesiapan individu dalam mengelola keuangan, serta relasi keluarga yang memang memiliki karakter tersendiri, terutama di konteks Asia (Kompas.com, 03/05/2026).
Ekonomi saat ini sudah terasa mengimpit, belum 5 tahun atau 10 tahun ke depan, bisa dilihat dari trendnya bahwa kesulitan ekonomi tidak ada penurunan malah makin meningkat kesulitannya. Hal ini berarti Gen Z termasuk yang akan mengalami kesulitan-kesulitan ini. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Bagaimana mereka bisa merasa aman karena memang tidak ada jaminan secara finansial dalam kehidupan mereka ke depan, susahnya lapangan kerja, ditambah manajemen keuangan yang salah menjadi salah satu faktornya. Alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.
Sistem saat ini yang menjadikan ekonomi sulit, menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z, di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar sehingga generasi muda berjuang sendirian. Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai “solusi” pelarian.
Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Gen Z bergaya BPGS (alias Buget Pas-pasan Gaya Sosialita). Generasi saat ini tidak peduli atau denial atas kondisi ekonomi yang sulit dengan terus belanja online dan dipermudah dengan pinjaman online yang belanjanya bisa dapat barang terlebih dahulu, bayar belakangan.
Tentunya jika kondisi ini berlanjut, tidak akan baik bagi generasi dan akan menimbulkan krisis ekonomi. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Sementara sistem Islam menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan mendapat tekanan layaknya generasi sandwich hari ini, yang semua beban seakan di tanggung sendirian. Islam membentuk pola pikir mereka dengan benar dengan landasan ketakwaan yang berstandar pada halal haram pada setiap perbuatannya dan rida Allah sebagai tujuan hidupnya. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah.
Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam dan kemajuan negara. Sedangkan negara akan hadir untuk menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme, kapitalisme dan turunannya. Media dalam Islam akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyatnya. Wallahualam bisawab.


